Industri Kelapa Sawit dan Hilirisasinya bagi SDGs 2030, Pentingkah ?

Penulis : Johanes Bastanta Ginting (Mahasiswa  Universitas Sumatera Utara)

Kelapa Sawit merupakan komoditi yang sangat vital bagi Indonesia. Sektor kelapa sawit berperan penting bagi perekonomian nasional. Pertumbuhan di sektor ini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Tercatat total nilai ekspor produk sawit pada 2017 sebesar Rp 239 triliun yang merupakan terbesar dan lebih besar dari sektor minyak dan gas. Dalam sektor ketahanan energi, penerapan kebijakan mandatori biodiesel (Agustus 2015 s/d 30 Juni 2018) menciptakan penghematan devisa sebesar US$ 2,52 miliar (Rp30 triliun).

Sebagai industri padat karya, jutaan masyarakat Indonesia bergantung pada sektor kelapa sawit. Kebun industri mampu menyerap 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung. Sementara petani swadaya mampu menyerap 4,6 juta orang. Sejak tahun 2000, sektor kelapa sawit Indonesia membantu 10 juta orang keluar dari garis kemiskinan karena faktor-faktor yang terkait dengan ekspansi kelapa sawit dan setidaknya 1,3 juta orang yang hidup di pedesaan keluar dari garis kemiskinan secara langsung berkat kelapa sawit. Melihat begitu berpengaruhnya komoditi terhadap perekonomian di negara ini  maka industry kelapa sawit akan semakin luas dan berkembang kedepannya. Selain dari sisi ekonomi dibandingkan tanaman lain kelapa sawit memiliki beberapa keunggulan yaitu produk turunan/hilirisasinya yang mencapai lebih 140 produk yang meliputi bahan bakar nabati, makanan, obat-obatan, farmasi, kosmetik dan lain sebagainya.

Akan tetapi dalam setahun terakhir industri sawit memiliki permasalahan yaitu dalam hal harga yang terus-menrus anjlok yang membuat hargaTBS sekrang hanya berada di kisaran Rp700-Rp900/kg. Hal ini disebabkan oleh isu global dan kampanye hitam uni eropa yang menyatakan bahwa tanaman sawit tidak baik bagi lingkungan. Pertama tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang rakus akan air sehingga tidak dapat menanam tanaman lain di sekitar area perkebunan, kedua tanaman sawit cenderung mengubah struktur dan komposisi tanah sehingga setelah menanam kelapa sawit akan sulit mengembalikan struktur tersebut, selain dalam membuat suatu usaha kelapa sawit maka diperlukan lahan yang luas agar produksi dan hasil yang didapat sesuai degan yang diinginkan.  

Selain isu lingkungan tersebut tanaman kelapa sawit yang merupakan termasuk tanaman tahunan adalah tanaman yang membutuhkan waktu cukup lama dari awal penanaman hingga tanaman dapat menghasilkan (3-5 tahun) dan pada saat usia tanaman ini mencapai lebih dari 30 tahun maka tanaman ini tidak lagi pada masa produktif dan diperlukan penanaman tanaman baru yang disebut replainting. Pada masa replainting ini biasanya area perkebunan sawit akan tidak produktif/menghasilkan karena tanaman yang sudahtua akan ditebang dan menunggu proses pembusukan agar lahan dapat kembali ditanam.

SDGs atau Sustainable Development Goals merupakan program pembangunan berkelanjutan yang memiliki 17 tujuan untuk masa depan. Perserikatan Bangsa-bangsa atau PBB telah menetapkan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dengan 169 capaian hingga tahun 2030. SDGs merupakan kelanjutan dari Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) yang ditandatangani oleh 189 negara, salah satunya Indonesia. Konsep Tujuan SDGs dibentuk pada konferensi PBB September 2015 dengan menetapkan target yang bisa diaplikasikan secara universal dan dapat diukur dengan menyeimbangkan tiga dimensi pembangunan berkelanjutan, yaitu lingkungan, sosial, dan ekonomi. Indonesia telah menyelaraskan SDGs dengan Nawacita sebagai visi pembangunan nasional, yang dirumuskan dalam kebijakan, strategi, dan program Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015 -2019 dan selanjutnya dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Tahunan (RKP). Hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya SDGs tersebut untuk kebaikan Indonesia.

Kelapa sawit dan hilirisasinya dalam percepatan SDGs

Sebagai negara produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia, Indonesia harus meningkatkan pemanfaatan Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku di dalam negeri. Perlu percepatan program hilirisasi produk CPO untuk diolah menjadi bahan yang bernilai tambah tinggi. Lebih jauh lagi pemanfaatan CPO sebagai bahan baku,sampai saat ini masih terbilang rendah, baru mencapai 30 jenis produk turunan. Untuk industri pangan di antaranya minyak gorcng, margarin, shortening dan CBS, sedangkan industri non pangan di antaranya fatty acids, fatty alcohol, glycerin serta alkohol. Lewat program mandatori biodiesel,  penerapan Biodiesel 20 persen (B20) secara penuh  dan percepatan untuk Biodiesel 30 persen (B30). Ini sebagai salah satu solusi penyerapan hasil produksi sawit Indonesia. Saat ini, penerapan B20 belum maksimal dan baru untuk Public Service Obligation (PSO). Kedepannya didorong untuk non PSO. Dengan penerapan mandatori B20 secara penuh, terdapat potensi tambahan 1 juta kiloliter (KL) yang terdiri dari 300 ribu KL dari PSO dan 700 ribu KL dari Non PSO yang dapat mendorong total penggunaan biodiesel untuk mandatori B20 mencapai 4,5 juta KL sehingga mengurangi 4,5 juta KL impor BBM.

Hal ini tentu mampu mendorong kenaikan harga CPO dan menghemat devisa sebesar US$ 5,5 miliar per tahun. Selain penggunaan CPO untuk memproduksi biodiesel, kesempatan untuk meningkatkan permintaan terhadap produk kelapa sawit juga diperoleh melalui pemanfaatan minyak nabati murni untuk bahan bakar minyak industri, transportasi laut, transportasi udara, dan pembangkit listrik, termasuk bio avtur.

Dalam menghadapi isu global yang membuat  harga sawit yang anjlok juga diperlukan suatu aturan yang ketat dan juga pengawsan yang baik terutama dari kementrian lingkungan hidup serta badan hukum yang ada, dimana setiap pelanggaran yang terjadi maka akan mendapat hukuman yang telah tertulis di dalam aturan. Perusahaan/perkebunan juga diperlukan kerjasama dalam hal ini pembukaan lahan baru harus bisa melihat aspek lingkungan dan tidak membakar hutan untuk memperluas lahan. Masyarakat dalam hal ini memiliki peran pengawasan dan perlu mengetahui pentingnya SDGs bagi lingkungan sekiar agar dalam pembangunan industri kelapa sawit memegang teguh pembangunan berkelanjutan.

Tanaman kelapa sawit yang merupakan termasuk tanaman tahunan adalah tanaman yang membutuhkan waktu cukup lama dari  penanaman hingga tanaman dapat menghasilkan dan pada saat usia tanaman ini tidak lagi produktif dan diperlukan penanaman tanaman baru yang disebut replainting. Pada masa replainting ini harus dilakukan suatu inovasi seperti yang dikemukakan oleh kementrian pertanian dimana pada masa tersebut dari batang kelapa sawit dapat diambil air nira yang dapat dihasilkan gula aren. Batang kelapa sawit juga telah diteliti dapat dijadikan salah satu bahan baku pembuatan mebel dan pelepah dari tanaman sawit apabila diolah akan bisa menjadi pupuk yang berguna untuk proses penanaman kelapa sawit yang baru. Ini semua dapat dilaksankan dengan baik apabila adanya suatu keseriusan dan kerjasama antar stakeholder yang terlibat didalamnya.

Jika berbicara tentang kuantitas dan kualitas, maka industri kelapa sawit merupakan modal sosial yang dapat diperhitungkan dan dapat “diandalkan” untuk dapat mewujudkan percepatan tujuan SDGs di Indonesia. Sebagai salah satu komoditi unggulan maka kelapa sawit dan hilirisasinya harus mampu menjadi “agen percepatan” perwujudan SDGs yang dapat menyentuh langsung lingkungan disekitarnya.  Inilah tentunya tantangan yang lagi-lagi menekankan peran industry kelapa sawit sebagai keniscayaan yang menyertai pembangunan berkelanjutan. Dan bila hal itu sudah terpenuhi, apakah target SDGs dapat terwujud dalam kurun waktu 11 tahun lagi?  Sekarang tahun 2019, Target SDGs diagendakan sampai tahun 2030, artinya Indonesia memiliki waktu 11 tahun lagi untuk mencapainya. jika dipikir-pikir ini adalah waktu yang sangat lama. Tapi sebenarnya tidak.  Agenda pembangunan 2030 yang ambisus berarti kita tidak boleh kehilangan waktu. Industri kelapa sawit dan hilirisasinya harus terus digenjot dan dilakukan inovasi-inovasi dan aturan ketat yang dapat mengatur jalannya pembangunan ini. Oleh karena itu pergerakan harus segera dilakukan mulai dari sekarang untuk memberikan hasil yang optimal pada waktunya. (*)

(Publikasi Naskah bagian kegiatan  seminar PASPI)

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like