Indonesia dan Malaysia Rebutan Pasar Sawit India

Pemerintah Indonesia berupaya melunakkan hati India. Pasalnya, impor sawit dari Indonesia dikenakan tarif lebih tinggi dari  Malaysia. Indonesia melakukan barter dengan gula mentah India. Negosiasi cukup efektif, India mengkaji keringanan tarif bagi Malaysia.

“Di India, Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia khususnya untuk refined products di mana bea masuk refined products dari Indonesia lebih tinggi daripada Malaysia dengan selisih 9% (tarif bea refined products dari Malaysia adalah 45% dari tarif berlaku 54%),” ujar Mukti Sardjono.

Persaingan ketat Indonesia dan Malaysia sudah terjadi semenjak dua tahun lalu untuk memperebutkan pasar sawit di India. Dengan jumlah penduduk 1,33 miliar, India menempati urutan kedua negara berpenduduk terbesar dunia. Tingginya populasi penduduk merupakan faktor utama tingginya permintaan minyak nabati termasuk sawit.

Merujuk data Departemen Pertanian Amerika Serikat, konsumsi minyak sawit di India telah berada di atas 9 juta ton setiap semenjak 2014.  Selain sawit, India juga pengguna minyak kedelai. Akan tetapi minyak sawit menempati porsi terbesar yang digunakan industri pengolahan minyak makan.   

Kenapa  India sangat agresif menaikkan bea masuk sawit dari Indonesia? Dalam satu kesempatan, Menko Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan bahwa India memainkan politik perdagangan untuk menekan defisit dagang. Masuknya minyak sawit Indonesia ke India dalam skala besar berdampak kepada neraca perdagangan.

“Iya memang itu bagian politik dagang karena ekspor kita (sawit) sangat banyak. Dia (red-India) defisitnya besar. Maka, mereka mulai cari cara,” jelas  Darmin.

Darmin menyebutkan kenaikan bea masuk sawit asal Indonesia sangat berpengaruh kepada harga jual di India. Bagi Indonesia, penjualan minyak sawit Indonesia ke India dapat mencapai 7 juta ton lebih. Itu sebabnya, penerapan bea masuk ini memukul perdagangan ekspor non migas.

Pemerintah telah berupaya menegosiasi India untuk menurunkan pajak masuk. Pada akhir Mei 2018, Presiden Jokowi telah meminta Perdana Menteri Narendra Modi untuk menurunkan tarif bea masuk sawit. Kendati demikian,  PM Modi akan meninjau pengenaan tarif tersebut.

Upaya melobi juga dilakukan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di bawah komando Darmin Nasution. Lobi ini melalui sejumlah asosiasi bisnis minyak nabati di India.  Pada pertengahan Juli 2018, telah ditandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Solvent Extractors Association(SEA) India, dan Solidaridad Network Asia Limited (SNAL) dalam pertemuan tingkat tinggi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta.

Langkah lain adalah menawarkan keringanan bea masuk bagi gula mentah asal India. Politik barter ini ditawarkan Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita.  Saat berkungjung ke India pada Februari 2019, a meminta tarif bea masuk RBDPO diturunkan sebesar 5%. Saat ini tarif bea masuk olahan minyak sawit Malaysia ke India sebesar 45%.

Indonesia pun mengajukan timbal balik sebagai upaya menurunkan bea masuk. Enggar bilang akan membuka pasar gula mentah dari India yang dibutuhkan oleh industri di Indonesia. “Sebagai imbalannya, Indonesia bersedia membuka akses pasar untuk gula mentah dari India,” terang Enggar seperti dilansir dari kontan.co.id.

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 94, 15 Agustus – 15 September 2019)

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like