Implementasi Kebijakan Menteri ESDM

Bagian I

Mandatori Pemenfaatan Bahan Bakar nabati Kementerian ESDM, telah menetapkan kebijakan di sektor energi yang mengedepankan pengembangan dan pemenfaatan energi terbarukan salah satunya melalui pemenfaatan bahan bakar nabati (BBN). Untuk mendukung program tersebut telah diterbitkan Intruksi Presiden No. 1 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemenfaatan Bahan Bakar Nabati sebagai Bahan Bakar Lain. Komitmen tersebut dilanjutkan melalui kebijakan mandatori pemanfaatan BBN dengan diterapkannya peraturan Menteri ESDM nomor 32 tahun 2008, dimana sektor transportasi, industri dan pembangkit listrik diwajibkan untuk mensubsidi bahan bakar fosil dengan BBN, pada persentase tertentu dan secara bertahap. Seiring dengan dengan kondisi defisit Neraca Transaksi Berjalan Indonesia yang sudah berlangsung selama 27 bulan, menjadi salah satu dasar bagi pemerintah untuk mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi Nasional dimana peran BBN khususnya biodiesel di tingkatkan penggunaannya dari 7,5% (B-7,5) menjadi 10% (B-10) dengan tujuan untuk mengurangi pengeluaran negara dari meningkatnya nilai impor solar.

Baca Juga :   Pengelolaan dan Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit (Bagian III)

Peraturan Menteri ESDM No. 32 tahun 2008 kemudian diubah dengan Peraturan Menteri ESDM No. 20 tahun 2014 yang secara subtansi mempercepat pemenfaatan BBN khususnya biodiesel dengan peningkatan target mandatori.

Implementasi kebijakan mandatori yang juga merupakan penciptaan pasar BBN, di dalam negri sebagai salah satu upaya peningkatan konsumsi BBN, untuk penyerapan peningkatan  produksi dan pemanfaatan BBN, di dalam negri yang yang tumbuh secara signifikan dari tahun 2009 hingga 2014. Dengan meningkatnya porsi biodiesel selama kurun waktu tahun 2013 dengan implementasi pemanfaatan biodiesel 10% pada minyak solar (B-10) dari sebelumnya hanya B-7,5, pemerintah telah berhasil melakukan penghematan devisa sebesar 831 juta USD dengan meningkatkan pemanfaatan biodiesel tahun 2012. Kebijakan mandatori merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil khususnya BBM dan mengembangkan industri BBN dalam negri sehingga memberikan nilai tambah pada perekonomian, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) akibat pembakaran energi fosil, serta untuk mengurangi impor BBM yang semakin meningkat.

Baca Juga :   Industri Kelapa Sawit Kunci Bagi Pencapaian SDG'S

Sumber: GAPKI

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like