Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Jl. Kelapa Dua Wetan Raya. Komp. PTB Blok. 1A No.11. Ciracas Jakarta Timur.

No. Telp 021-8770-6153

redaksi@sawitindonesia.com

Hama Penyakit Sawit

Ganoderma Center Membangkitkan Semangat Melawan Ganoderma

Ganoderma Center Membangkitkan Semangat Melawan Ganoderma

Perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia sangat luas. Permasalahan serangan Ganoderma jika tidak dipecahkan bersama akan semakin besar. Namun sayanganya, jumlah peneliti yang terlibat dengan penanggulangan kelapa sawit relatif sangat sedikit dan tidak menyatu. Ganoderma Center diharapkan dapat menjadi wadah bagi pembangunan kekuatan SDM untuk memecahkan permasalahan Ganoderma. Visi pendirian Ganoderma Center adalah menjadi pusat kajian dan inovasi Ganoderma ternama di dunia. Misi utamanya adalah untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan tentang Ganoderma secara populer, melakukan advokasi gerakan pengendalian Ganoderma, dan memberikan pelayanan bimbingan, pendampingan serta pengawalan kepada masyarakat. Oleh karena segala aspek yang terkait dengan Ganoderma bersifat universal, maka bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa Inggris. Bagaimanapun juga, untuk masyarakat di Indonesia bisa dengan bahasa Indonesia. 

Untuk sementara ini Tim Ahli Ganoderma Center terdiri dari beberapa peneliti dengan berbagai bidang keahlian dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Permasalahan Ganoderma sangat kompleks dan tidak bisa ditangani oleh para ahli fitoptologi saja. Ganoderma Center terbuka bagi para ahli dari lembaga penelitian lainnya dan dari perguruan tinggi baik dari dalam maupun dari luar negri untuk bergabung. Ganoderma Center dapat diakses pada situs www.ganoderma-center.com, twitter: @ganodermacenter, dan Email/facebook: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.. Sampai dengan saat ini situs Ganoderma Center telah dikunjungi oleh hampir 20.000 pengunjung.

Patogen paling merugikan

Ganoderma boninense, penyebab penyakit busuk pangkal batang (BPB) atau yang lebih dikenal dalam bahasa Inggris basal stem rot (BSR) dan busuk batang atas (BBS) atau yang lebih dikenal dalam bahasa Inggris (USR) merupakan patogen paling merugikan pada perkebunan kelapa sawit. Pada umumnya kelapa sawit yang terinfeksi oleh Ganoderma berujung kepada kematian. Mengapa demikian? Karena yang terserang adalah akar, pangkal batang dan batang. Bagian yang terserang membusuk dan tidak dapat mengalirkan nutrisi dan air dari tanah ke daun. Ketika air dan hara tidak dapat ditransportasikan dari tanah ke daun, pertumbuhan tanaman merana dan akhirnya mati. Tanaman yang terserang mudah roboh oleh tiupan angin karena patah pada bagian yang membusuk, meskipun daunnya masih tampak hijau. Ganoderma termasuk sebagai jasad renik, makhluk lemah, namun terbukti kemampuannya melebihi binatang gajah, karena yang banyak merobohkan tanaman kelapa sawit adalah Ganoderma, bukan gajah.

Tanaman kelapa sawit yang bertumbangan seperti terlihat pada Gambar 1, merupakan pemandangan yang umum di wilayah Sumatera Utara, asal muasal perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Jika tidak ada penanganan yang serius, diperkirakan dalam waktu 15 tahun industri kelapa sawit di beberapa sentra perkebunan kelapa sawit di Indonesia akan lumpuh, terutama di lahan yang telah dilakukan tanam ulang beberapa kali. Ganoderma berpotensi menjadi pengganjal misi tercapainya produktivitas 35/26 yang sudah dicanangkan pada Perayaan 100 Tahun Sawit Indonesia tahun 2011 lalu di Medan. Memang masih banyak yang tidak percaya akan besarnya ancaman Ganoderma karena tidak melihat langsung di lapangan. Atau kalau ke lapangan hanya dibawa pada tanaman muda, di bawah umur 5 tahun yang masih hijau royo-royo merata bak hamparan emas hijau. Pada tanaman dewasa kenyataannya tidak demikian dan Gambar 2 menunjukkan perihal tersebut, di mana Ganoderma bisa memporakporandakan tanaman sawit seluas satu blok kebun. Kondisi seperti itu tidak jarang dijumpai. Ganoderma tentunya tidak memilih apakah yang diserang perkebunan rakyat, swasta maupun BUMN.

Penampakan di lapangan

Gambar 1 dan Gambar 2 merupakan penampakan dari jarak jauh. Pada serangan tingkat dini, gejala dan tanda serangan biasanya tidak kelihatan. Gejala sakit biasanya terlihat setelah infeksinya berkembang pada stadium lanjut. Terbentuknya tubuh buah seperti pada Gambar 3 merupakan tanda terjadinya serangan. Tubuh buah Ganoderma sangat mudah dikenali dengan teksturnya yang relatif keras dan kaku, patah jika ditekuk, berwarna cokelat di bagian atas, berwarna putih krem berpori-pori lembut di bagian bawah, dan biasanya di permukaan atas dan daerah di sekelilingnya terdapat taburan spora berupa lapisan debu berwarna cokelat muda (Gambar 3). Pembentukan tubuh buah biasanya hanya terjadi pada tingkat serangan lanjut. Ketika satu calon tubuh buah terbentuk dan masih sebesar kancing baju, pembusukan pangkal batang sudah mencapai sekitar 25%. Bagian pangkal batang yang membusuk, lama kelamaan menjadi keropos (Gambar 4) menyebabkan tanaman mudah tumbang.

Bukan hal baru

Serangan Ganoderma pada perkebunan kelapa sawit bukan hal baru. Laporan pertama adanya serangan Ganoderma bisa jadi sejak kelapa sawit dibudidayakan pertama di Indonesia. Hanya saja permasalahannya telah berkembang dari semula kecil menjadi besar. Semula hanya menyerang tanaman dewasa, sekarang tanaman belum menghasilkan pun sudah terserang oleh Ganoderma. Dari semula hanya di lahan tanah mineral, kini di lahan gambut pun menjadi permasalahan besar, bahkan terjadi sejak penanaman generasi pertama. 

Lalu mengapa sampai terjadi demikian? Menurut Dr. Agus Pakpahan pada Simposium Ganoderma 2011, hal tersebut terjadi karena selama ini kita "ignorrance" terhadap permasalahan yang semula tidak memiliki arti ekonomi. Dengan berjalannya waktu, permasalahannya bergulir bak bola salju, dan kini para pelaku usaha sawit terkaget-kaget merasakan adanya ancaman yang begitu besar, seolah-olah datang secara tiba-tiba. Sayang sekali pada saat ini pun masih banyak yang "ignorrance" terhadap permasalahan besar ini. Mengecilkan arti sebuah masalah terbukti berarti membesarkan masalah itu sendiri.

Belum berhasil dikendalikan dan perlu kocek besar

Pada “kenyataannya” permasalahan Ganoderma di perkebunan kelapa sawit masih sulit diatasi, meskipun teori dan teknologi pengendalian telah berhasil dikembangkan oleh berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. Hal tersebut terjadi karena cara-cara pengendalian yang dilakukan bersifat parsial dan tidak disertai dengan komitmen yang besar. Para pelaku usaha percaya hanya dengan membubun saja permasalahan bisa diselesaikan dan hanya itu saja yang dilakukan; atau hanya dengan menyisip saja, atau hanya membuat parit isolasi saja, atau hanya mengutip tubuh buah saja. Pada umumnya para pelaku usaha belum paham bahwa pada daerah endemik Ganoderma, yang sakit sudah lahannya. Lahannya sakit karena inokulum Ganoderma telah menyebar dan bertahan di dalam kebun itu sendiri dalam volume yang sangat besar. Kalau lahannya sakit, maka tanaman sesehat apapun kalau ditanam di lahan itu cepat atau lambat akan menjadi sakit.

Serangan Ganoderma yang paling efektif terjadi melalui kontak akar yaitu antara akar yang sehat dengan akar yang sakit, atau antara akar yang sehat dengan tunggul tanaman yang sakit, yang kesemuanya berlangsung di bawah permukaan tanah. Kalaupun ada fungisida yang mampu mematikan Ganoderma, namun tidak mungkin disiramkan pada tanah dengan volume 16 meter kubik fungisida per tanaman. Di samping melalui kontak akar, penularan Ganoderma juga bisa terjadi melalui perantaraan spora yang terbawa oleh angin, serangga dan binatang. Di daerah-daerah berkelembaban tinggi dan lahannya sering tergenang seperti di lahan gambut, upper stem rot (USR) biasanya lebih dominan terjadi karena Ganoderma sudah beradaptasi dengan kondisi tersebut. 

Komitmen yang besar harus diberikan oleh para pelaku usaha karena menyangkut permasalahan yang besar. Pengendaliannya memerlukan biaya yang besar. Tindakan yang sangat penting dan sudah diajarkan oleh para peneliti di jaman penjajahan dulu adalah dengan membongkar habis tunggul-tunggul tanaman lama. Namun karena memerlukan biaya yang besar hal tersebut tidak dilakukan. Ketidakpercayaan para pengambil kebijakan merupakan salah satu penghambat pertama bagi keberhasilan pengendalian Ganoderma. Penghambat pertama lainnya adalah masih adanya sikap pelaku di kebun yang justru menyembunyikan informasi adanya serangan Ganoderma karena takut bisa berdampak negatif terhadap karirnya.

Penulis : Dr. Ir. Darmono Taniwiryono, MSc. Penggagas dan pendiri Ganoderma Center


 1612,    Hama Penyakit