Gas Untuk Industri Nasional

Salam Sawit Indonesia,

Amanat Peraturan Presiden Nomor 40/2016 mengenai Penetapan Harga Gas Bumi sangat dinantikan pelaku industri. Beleid ini mengatur penetapan harga gas sebesar US$ 6 per mmbtu kepada 8 sektor industri diantaranya oleokimia. Walaupun sudah terbit empat tahun lalu, akan tetapi aturan ini tidak kunjung terealisasi. Akibatnya, daya saing industri menjadi rendah. Produk domestik tidak bisa kompetitif di dalam negeri dan pasar global. Bahkan sejumlah pabrik tutup karena tingginya harga gas di kisaran US$ 9-US$ 12 per mmbtu.

Melihat kondisi ini, Presiden Joko Widodo dan jajaran menteri terkait membuat terobosan. Harga gas ditekan sesuai Perpres 40/2016. Syaratnya, insentif harga gas bisa diberikan kepada industri yang mau tingkatkan investasi dan kapasitas produksinya. Tujuannya, relaksasi ini meningkatkan produktivitas dan kontribusi industri bagi perekonomian.

Bahkan, Kementerian Perindustrian RI telah mengusulkan 325 perusahaan yang akan bisa menikmati harga gas kompetitif di luar sektor yang sudah ada dalam Perpres 40/2016 tersebut. Sektor ini meliputi industri logam, industri otomotif, industri permesinan, industri makanan, minuman, dan refinery – minyak goreng, industri ban, serta industri pulp dan kertas.

Bagi pelaku industri, gas merupakan “nyawa” bagi kegiatan mereka. Jika pasokan seret ataupun harga tinggi, operasional pabrik bakalan terbebani. Itu sebabnya, sektor industri nasional harus menjadi prioritas utama.

Rubrik Sajian Utama edisi ini mengulas permintaan tiga sektor industri yaitu oleokimia, petrokimia, dan industri kaca yang meminta implementasi Perpres 40/2016. Rapolo Hutabarat, Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) menyatakan harga gas US$ 6 per MMBTU akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekspor dan kapasitas produksi oleokimia dalam negeri. Dampak positif  biaya produksi (cost)menjadi turun dan daya saing industri bakal meningkat sehingga ekspor dapat tumbuh.

Dalam Rubrik Hot Issue diulas meningkatnya partisipasi masyarakat dalam program Peremajaan Sawit Rakyat. Kebijakan Ditjen Perkebunan yang memangkas persyaratan menjadi faktor pendorong. Selain itu, BPDP-Kelapa Sawit juga memberikan kemudahan akses pengajuan persyaratan dana hibah PSR. Alhasil, petani sawit sangat antusias untuk meremajakan tanamannya yang berusia tua.

Pembaca, kami harapkan edisi ini dapat membuka wawasan dan cakrawala berpikir kita. Kelapa sawit merupakan komoditas andalan yang mengisi sektor hulu, tengah, sampai hilir. Untuk itu, penting kiranya komoditas emas hijau dijaga keberlanjutan dan keberlangsungannya bagi perekonomian nasional.

Baca Juga :   Kita Jaga Sawit
2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Evolusi Biodiesel Indonesia

Salam Sawit Indonesia, Kebijakan mandatori biodiesel 20% atau B20 memotivasi pelaku industri untuk berubah. Mereka berlomba-lomba berinovasi menghasilkan…
Read More

Diplomasi

Salam Sawit Indonesia, Dalam kamus Merriam Webster, Diplomacy – diplomasi dalam bahasa Indonesia – adalah the art and…

Edisi 10 Agustus 2012

EVALUASI KINERJA, Salam Sawit Indonesia, Bagi umat muslim, bulan ramadhan  menjadi bulan instropeksi dan evaluasi  untuk hubungan vertikal…