GAPKI: Devisa Ekspor Sawit US$ 21 Miliar Pada 2018

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksikan nilai ekspor sawit US$ 21 miliar sepanjang 2018. Nilai ekspor ini sedikit di bawah tahun sebelumnya sebesar US$ 22,96 miliar.

Pada 2018, dikatakan Joko, GAPKI memperkirakan produksi sawit Indonesia sebesar 47,6 juta ton. Dengan jumlah ekspor sawit sekitar 33 juta ton. Namun data ini belum resmi dipublikasikan GAPKI.

“Devisa sawit tahun 2018 diperkirakan 21 miliar dolar agak turun dari tahun sebelumnya. Tapi sektor sawit lebih tinggi dari migas,” ujar Joko Supriyono, Ketua Umum GAPKI, di Samarinda, Jumat (25 Januari 2019).

Menurutnya, industri sawit tetap memainkan peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Saat ini, kontribusi sawit bagi Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 6%.

Baca Juga :   Kunci Sukses Mendapatkan Benih Sawit Unggul Investasi Yang Sering Terlupakan (Bagian XI)

“Dengan memperkuat industri sawit maka perekonomian Indonesia tetap tumbuh. Karena komoditas ini berkontribusi bagi sektor pangan dan energi,” ungkap Joko.

Joko Supriyono menyebutkan dukungan pemerintah sangat kuat bagi keberlanjutan industri sawit. Dalam konferensi IPOC, ada lima pesan yang disampaikan Presiden Jokowi mengenai pembangunan industri sawit.

Pertama, ia berpesan agar memaksimalkan kemajuan teknologi untuk praktik keberlanjutan industri kelapa sawit. “Masalah sustainability perlu menjadi perhatian karena dituntut pasar global,” jelasnya.

“Dengan memperkuat industri sawit maka perekonomian Indonesia tetap tumbuh. Karena komoditas ini berkontribusi bagi sektor pangan dan energi,” ungkap Joko

Kedua, meningkatkan produktivitas sawit baik TBS dan CPO sehingga ada perbaikan daya saing sehingga tidak saja besar tetapi juga kuat. “Dengan adanya daya saing bagus kita tetap survive,” kata Joko.

Baca Juga :   Mekanisasi Spray + Herbisida Pra Tumbuh Solusi Bayer Plus Tingkatkan Profitability Hutan Tanaman Industri

Pesan ketiga yaitu mengembangkan pasar ekspor karena ekspor kita sudah besar dan lebih besar dari migas. Ini artinya produksi akan terus meningkat.

Yang keempat adalah mengembangkan program B20 yang dapat ditingkatkan menjadi B30. Menurut Joko Supriyono, peningkatan biodiesel dapat mendorong pasar dalam negeri sehingga Indonesia menjadi pengendali stok di pasar global.

Kelima adalah menjalankan peremajaan sawit rakyat untuk peningkatan kesejahteraan dan produktivitas petani.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like