Faktor Cuaca Dorong Meroketnya Harga Sawit

Penulis: Susila Darmawati

Seperti yang telah diprediksikan awal tahun (baca : https://sawitindonesia.com/membaca-prospek-pasar-minyak-sawit-2021/) minyak sawit memiliki prospek cerah pada 2021. Saat ini, harga minyak sawit mentah (CPO) dunia terus meroket dari awal tahun sampai pada minggu ketiga April 2021 yang telah diatas US$ 1100 per metrik ton. Bahkan, penutupan perdagangan 23 April 2021, harga CPO CIF Rotterdam menembus US$ 1340 per metrik ton, yang merupakan harga tertinggi sepanjang sejarah perdagangan minyak sawit global.

Manisnya harga sawit saat ini diperkirakan akan terus berlanjut sepanjang tahun 2021. Hal ini didukung dengan beberapa perke mbangan minyak nabati di beberapa negara produsen yang sangat terpengaruh oleh cuaca. Sampai pada akhir April kita masih melihat pasokan minyak nabati global masih sangat ketat. Inilah yang memicu banyak negara berlomba membeli untuk memenuhi stock dalam negeri, alhasil harga minyak nabati pun meroket, salah satunya harga CPO Global.

Kedelai

Laporan terbaru USDA yang terbit tanggal pertengahan April 2021 untuk Argentina sebagai salah satu produsen kedelai terbesar dunia, menginformasikan bahwa produksi kedelai tahun ini diperkirakan menurun karena cuaca kering berkepanjangan di bagian Utara dan Barat Argentina yang hingga pertengahan maret masih belum ada hujan. Cuaca kering sangat mempengaruhi pertumbuhan kedelai, dimana jika kekurangan air maka jumlah polong kedelai akan berkurang dan ukuran benih juga akan berkurang. Siklus tanam kedelai sekitar 4 bulan maka dapat diperkirakan produksi kedelai Argentina akan menurun setidaknya sampai Agustus 2021.

Sebaliknya di sebagian wilayah Brazil dilanda curah hujan tinggi sejak pertengahan Maret hingga April membuat panen kedelai tertundadan diikuti penundaan tanaman baru juga. Meskipun produksi masih stabil tetapi ada kekhawatiran cuaca masih memberikan beberapa kekhawatiran. Baru – baru ini Menteri Pertanian Brazil juga mengumumkan penangguhan tarif bea masuk import kedelai, jagung, minyak kedelai dan bungkil kedelai sampai pada akhir tahun 2021. Langkah ini diambil menjaga keseimbangan pasar domestik dan naiknya harga komoditas global yang mendorong inflasi domestik.

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) yang juga merupakan pengimpor kedelai terbesar, juga mengalami cuaca yang kurang menguntungkan di daerah penghasil kedelai utama (Central Plains & Midwest), dimana cuaca dilaporkan dingin sejak April 2021, sehingga penanaman baru tertunda yang diperkirakan nantinya akan mempengaruhi supply di Agustus mendatang.

Rapaseed

Suplai rapeseed di pasar global akan sangat ketat sepanjang tahun karena cuaca yang kurang menguntung di beberapa negara penghasil rapeseed seperti Kanada dan beberapa negara Eropa. Produksi dari rapeseed juga di negara Eropa juga tidak dapat dipastikan karena adanya lockdown karena wabah Covid-19 yang kembali meningkat.

Kanada yang merupakan negara penghasil dan pengekpor terbesar rapeseed sedang mengalami cuaca kering di akhir tahun 2020 sehingga menggangu produki rapeseed negara tersebut sehingga stok menjadi sangat ketat. Dilansir dari beberapa portal berita bahwa Kanada telah mengimpor 2 kargo rapeseed setara 30 ribu ton untuk pengiriman Agustus dari Ukraina.

Tanaman rapeseed di Perancis dikabarkan banyak rusak karena serangan hama dan cuaca dingin. Hal yang sama terjadi di Inggris dimana produksi rapeseed menurun. Sementara itu di Polandia dilaporkan tanda awal penurunan kelembaban tanah yang pastinya akan mempengaruhi pertumbuhan rapeseed.

Minyak Bunga Matahari

Pasokan biji dan minyak bunga mata hari juga akan mengalami hal yang sama, dimana pasokan di pasar global bakal sangat ketat karena produksi yang turun dan pembatasan ekspor di beberapa negara penghasil untuk menjaga stok di dalam negeri.

Pemerintah Ukraina, salah satu negera penghasil minyak bunga matahari, sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan izin ekspor sementara (temporary export license) sampai 31 Agustus 2021. Hal ini dilakukan untuk membatasi ekspor untuk ketahanan pangan di dalam negeri. Sementara Rusia sudah dari sejak Januari 2021 sudah menaikkan tarif ekspor biji bunga matahari dan rapeseed dari 6,5% menjadi 30% untuk mengamankan stok di dalam negeri. Kemudian pada awal April Pemerintah Rusia kembali menyetujui untuk menaikkan pungutan/levy menjadi 50% diantara 1 Juli 2021 dan September 2022.

Di belahan Uni Eropa, Romania sebagai negara Uni Eropa penghasil minyak bunga matahari juga mengalami penurunan produksi karena musim kering tahun lalu, sehingga memiliki stok yang sangat ketat juga.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit indonesia, Edisi 115)

No tags for this post.

Related posts

You May Also Like