EU Renewable Directive II dan Hambatan Perdagangan

Oleh: Dr. Rosediana Suharto, MSc PhD *

(Bagian Pertama – Bersambung)

Text Box: 1.	Artikel akan diterbitkan sebanyak dua kali yaitu edisi 15 Maret-15 April 2019 (Bagian Pertama) dan edisi 15 April-15 Mei 2019 (Bagian Kedua) .
2.	*Pengamat Sawit

Mengenal EU  Renewable Energy Directive II  

Kebijakan energi terbarukan Eropa dimulai penyusunannya sejak tahun 2003 dimana  negara besar lainnya kagum atas keberanian EU untuk membuat kebijakan ini. Dasar pembuatan kebijakan kala itu karena Komisi Uni Eropa menyadari  perlunya pengurangan emisi dari polutan yang berbahaya. Langkah ini bagian dari upaya mendukung  tujuan Community Environment Action  Programme dan  komitmen Uni Eropa pada Kyoto Protocol.

Persyaratan utama dalam EU Directive untuk energi terbarukan ini adalah batas  Emisi Gas Rumah Kaca  (GRK) yang diizinkan untuk dapat mengekspor biofuel atau bahan baku  biofuel ke Eropa. GRK yang dihitung pada EU Renewable Energy Directive (RED) I adalah kegiatan langsung disebut sebagai direct land use change (DLUC). GRK dari DLUC ini ialah  mengukur emisi dari kegiatan yang langsung dari pembukaan kebun  hingga menghasilkan minyak sawit  misalnya menebang hutan, menanam, memupuk, mengangkut buah sawit, kegiatan di pabrik, dan pengolahan limbah dapat dihitung GRK. Hasilnya ditentukan dengan formula emission saving, dimana emission saving tersebut harus di bawah angka 50 gr CO2eq/MJ.

Di dalam EU RED I juga  ditentukan kriteria sustainability berkaitan tipe lahan yang tidak boleh  ditanami tanaman penghasil bahan baku  yang akan digunakan sebagai bahan baku energi terbarukan, sebagai berikut:

  • lahan yang mengandung nilai biodiversitas yang tinggi
  • lahan yang mengandung karbon stok tinggi
  • di lahan gambut peatland atau wetland ( rawa)
  • padang rumput  yang mengandung biodiversitas tinggi

Perhitungan GRK dapat dilakukan perusahaan atau  perusahaan perkebunan atau dapat menggunakan default value yang nilainya cukup tinggi. Pada pembentukan hingga disahkan EU RED I,  tuntutan bahwa emisi GRK yang dihasilkan dari direct land use change tidak mewakili total emisi GRK yang sebenarnya  untuk melakukan perhitungan  semua jenis emisi yang terjadi secara tidak langsung. Emisi yang tidak langsung ini  adalah  Indirect Land Use Change  ( ILUC) .

EU RED II sebagai revisi dari EU RED I

EU RED II adalah amended version dari EU RED I atau  Directive September/ 2009 dimana ditambahkan beberapa ketentuan baru antara lain:

  • Perhitungan ILUC factor atau disebut juga sebagai ILUC value (g CO2 /MJ).
  • Diperhitungkannya efek dari ILUC akan menentukan berapa besarnya  pengaruh ILUC terhadap  kenaikan demand atau pengaruh pasar  dalam meningkatkan pembelian minyak dari food dan feed.
  • Ketentuan mengenai sertifikasi ILUC.
  • Penerapan ketentuan IPCC mengenai carbon biomass di mana harus dihitung  kehilangan karbonnya di atas dan di bawah tanah untuk energi terbarukan yang menggunakan biomass dari  hutan.
  • Penerapan phase out mulai 2023 hingga 2030 khusus bagi  jenis minyak dari  food and feed crop.

Apa itu ILUC ?

Definisi ILUC dapat dipahami dari pernyataan sebagai berikut:

ILUC emissions can occur when pasture or agricultural land previously destined for food and feed markets is diverted to the production of fuels from biomass. The food and feed demand will still need to be satisfied either through intensification of current production or by bringing non-agricultural land into production elsewhere. In the latter case, ILUC (conversion of non-agricultural land into agricultural land to produce food or feed) can lead to the release of GHG emissions , especially when it affects land with high carbon stock such as forests, wetlands and peat land. These GHG emissions can be significant and could negate some or all of the GHG emission savings of individual biofuels.

ILUC cannot be observed or measured in reality, because it is entangled with a large number of other changes in agricultural markets at both global and local levels. The effect can only be estimated through the use of models. The current study is part of a continuous effort to improve the understanding and representation of ILUC.

Banyak hal yang dapat  mempengaruhi demand dan harga  pasar yang  telah di identifikasi oleh Tim Globiom ( ECOFYS dan IIASA)  lebih dari 12 parameter  karena banyaknya parameter tersebut tim  menggunakan Model Computed General Equiblibrium  (CGE)  dan beberapa model yang lainnya. Model ini bukanlah ciptaan baru tetapi sudah biasa digunakan  dalam menentukan parameter makro ekonomi dan lingkungan . Model ini menentukan   ILUC factor atau ILUC value  untuk beberapa jenis komoditi yang disebut sebagai conventional biodiesel dan advance biofuel.

Hasil dari perhitungan menggunakan model tersebut dapat dilihat  pada tabel berikut :

Tabel ILUC Value Conventional and Advance Biofuel  (gCO2/Mjoule )

                                     (sesuai perhitungan Globiom)

Conventional biofuel* ILUC value gCO2/MJ Advance biofuel ILUC value gCO2?MJ
Wheat ethanol      34 Miscanthus bioduesel        -12  
Maize  ethanol      14 Short rotation plantation biodiesel 29
Barley ethanol      36 Forest residue biodiesel         17  
Sugar beet ethanol        15 Straw ethanol         16
Sugarcane ethanol      17      
Silage maize biogas        21    
Sunflower oil biodiesel        63    
Palm biodiesel      231    
Rape seed oil biodiesel      65      
Soya bean oil biodiesel     150      

Sumber: Hasil Penelitian Globiom ( oleh Ecofys and IIASA)

  • Conventional  biofuel adalah Biofuels yang diproduksi dari  tanaman pangan atau pakan (food or feed crops) .

Disini  nampak  hanya palm oil (minyak sawit) memiliki ILUC value yang tinggi, disusul oleh soyabean oil. Dalam hal ini, perwakilan Indonesia tidak bersedia ikut dalam pertemuan atau workshop yang diselenggarakan oleh EU, sehingga tidak punya kesempatan untuk mengoreksi  value yang sangat tinggi ini.

Bagaimana menggunakan ILUC factor ini ?

Tetapi penggunaan  ILUC value sering salah diinterpretasikan. Untuk kombinasi bahan baku (crop-feedstock) spesifik  1% shok permintaan (demand shock) telah dilakukan evaluasi. Shock pasar ini dihitung dari  semua jenis bahan bakar  sesuai demand untuk transportasi yang menghasilkan faktor spesifik. Sebagai contoh, rapeseed biodiesel  memiliki ILUC emission sebesar 65 g CO2/MJ . Itu sebabnya, penambahan Direct Land Use Change (DLUC) dan ILUC  untuk menambah total emisi tidaklah benar .

Ada tiga aspek penting dalam rangka menginterpretasikan ILUC yaitu:

  • ILUC hanya  disebabkan oleh demand shock , misalnya  65 gCO2 yang dilaporkan untuk rapeseed biodiesel hanya berlaku untuk 1 % kenaikan  demand rapeseed biodiesel . Apabila penggunaan biofuel tidak terjadi kenaikan sampai 1% maka tidak akan terjadi ILUC.
  • Menurut data dari volume terdahulu  sebagian bebas ILUC, ini yang diproduksi sesuai peraturan yang khusus diciptakan untuk ini.  Berarti pertumbuhan volume terdahulu tidak menyebabkan ILUC.
  • Di EU faktor ILUC didasarkan  kepada faktor amortasi 20 tahun. Ada beberapa  emisi ILUC sepertinya instan semisal deforestasi. Ada yang terjadi terus beberapa dekade seperti oksidasi lahan gambut. Dalam hal rapeseed biodiesel, ILUC setelah 20 tahun falls back sekitar 4 gCO2.

Penilaian ini didasarkan kepada skenario setting for modeling of biofuel  2020-2030.

Dalam hal ini dapat dikatakan  bahwa pengenaan ILUC factor ini seperti market penalty hanya bila demand mencapai 1% dari demand pada 2019. Tetapi di dalam EU RED II  dinyatakan apabila sampai dengan waktu, negara anggota permintaan belum mencapai  1% maka diperbolehkan untuk mencapai 2%.

Disayangkan banyak diantara kita yang tidak mengerti perhitungan ini sehingga salah tanggap, karena Indonesia sejak tahun 2017 mengekspor FAME sedikit sekali. Akibat dari tuduhan anti dumping mungkin kita tidak akan terlalu bingung bagaimana angka satu persen ini bisa tercapai. (*)

4 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Keadilan Korektif REDD+

Oleh :Dr. Rio Christiawan,S.H.,M.Hum.,M.Kn.*   Pemerintah Indonesia akan mendapatkan bantuan dana dari pemerintah Norwegia sebesar US$ 800 Juta…