Eropa Eksploitasi  Gambut Sebagai Energi Listrik

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Lain padang lain ilalang, pepatah ini sangat tepat untuk menggambarkan kebijakan gambut di Eropa dan Indonesia. Saat ini, pemerintah Indonesia melarang penggunaan lahan gambut untuk kepentingan budidaya terutama. Kebijakan ini diambil akibat tekanan dunia internasional salah satunya negara-negara Uni Eropa. Alasannya, perkebunan sawit di tanah gambut akan melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar.

Walaupun, Eropa menempati urutan kedua penghasil emisi karbon di seluruh dunia. Namun, larangan pemanfaatan gambut tidak berlaku di Uni Eropa. Gambut dapat digunakan dan diperdagangkan untuk kepentingan komersial. Dalam buku European Mires Book yang disusun International Mire Conservation Grup terdapat data peta lahan gambut di Eropa secara komprehensif. Luas lahan gambut di Eropa adalah 593.727 km² (59.372.700 hektare atau 1 km2 =  100 ha). Jika lahan gambut dangkal (<30 cm gambut) di Eropa Rusia juga dihitung, maka total luas lahan gambut di Eropa lebih dari 1.000.000 km2, atau hampir 10% dari total luas permukaan. Luas permukaan daratan di Eropa mencapai 10,9 juta km2.

Sekitar 40% dari lahan gambut Eropa digunakan untuk pertanian dan kehutanan. Pemanfaatan gambut untuk hortikultura juga mewakili sebagaian kecil penggunaan di Eropa. Tidak lebih dari 0,4% lahan gambut di Eropa digunakan untuk ekstraksi gambut.

Yang menarik, pemakaian gambut untuk kepentingan energi telah berjalan 2.000 tahun lalu di Eropa. Kala itu, tanah gambut dapat diolah menjadi alternatif kayu bakar untuk memasak dan memanaskan di daerah beriklim sedang di Eropa, khususnya Irlandia, Inggris, Belanda, Jerman, Swedia, Polandia, Finlandia dan Rusia. Di abad 20, gambut mulai diperhitungkan untuk memenuhi kebutuhan listrik.

Saat ini, gambut juga dikembangkan sebagai sumber pembangkit listrik di Eropa. Daya listrik dihasilkan pembangkit listrik dari gambut sebesar 60 MW-200 MW. Akan tetapi gambutnya harus direklamasi terlebih dahulu secara luas seperti di Irlandia dan Finlandia. Saat ini, gambut digunakan untuk pembangkit listrik dalam unit kecil dengan kisaran 20 kW-1.000 kW.

Dalam presentasi berjudul Energy Peat Position In EU Countries And Alternative Usage Possibilities yang dipublikasikan Jaakko Silpola di Baltic Peat Producers Forum pada September 2019. Senior Specialist, Vapo Oy (perusahaan produsen dan pengolahan gambut) ini menjelaskan bahwa sekitar 60 pembangkit listrik (kebanyakan  dari combined heat and power atau CHP) dan lebih dari 120 fasilitas boiler menggunakan gambut dikombinasikan bahan bakar berbasis kayu. Sekitar 600.000 orang Finlandia tinggal di rumah yang ada dipanaskan oleh gambut. Bahan bakar gambut sekitar 20% dari semuanya dari Combined Heat and power di Finlandia.

Sementara itu Irlandia, konsumsi listrik dari gambut mencapai 3 juta ton. Terdapat tiga pembangkit listrik bertenaga gambut skala besar yaitu ESB menghasilkan 250 MW dengan konsumsi sekira 2,2 juta ton. Bord na Mona kapasitas listrik 128 MW dengan konsumsi 500 ribu-600 ribu to gambut.

Di Swedia, areal gambut untuk kepentingan energi mencapai 6.000 hektare. Gambut menghasilkan energi sebesar 1,1 juta MWh. Gambut digunakan di pembangkit listrik skala menengah dan besar. Selain itu, kebijakan pemerintah Swedia bersifat netral terhadap penggunaan gambut untuk energi.

Hampir sepertiga dari sumber daya lahan gambut Eropa ada di Finlandia, dan lebih dari seperempatnya ada di Swedia. Sisanya berada di Polandia, Inggris, Norwegia, Jerman, Irlandia, Estonia, Latvia, Belanda, dan Prancis. Area kecil gambut dan tanah puncak gambut juga terjadi di Lituania, Hongaria, Denmark dan Republik Ceko.

 

 

 

 

 

 

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like