Eropa Berulah, Pemerintah Harus Tegas dan Berani

Salam Sawit Indonesia, seperti tidak henti-hentinya produk kelapa sawit mendapatkan gangguan dari negara pembeli yaitu Uni Eropa. Tindakan anggota parlemen Komisi Uni Eropa yang menyetujui laporan negatif sawit  membuktikan komoditas ini tetap didiskriminasi. Walaupun, laporan ini baru  diajukan ke sidang pleno pada April, keputusan ini dapat berimbas buruk kepada ekspor Indonesia.

Mau tidak mau,  Indonesia harus cepat berdiplomasi ke negara Uni Eropa. Terlambat sedikit, ekspor sawit dapat dipastkan akan terganjal. Agenda tersembunyi dari putusan ini sudah jelas perang dagang antar minyak nabati. Indonesia dapat memainkan berbagai strategi supaya produk sawit tidak dihambat kebijakan tarif maupun non tarif.

Forum seperti WTO dan perjanjian perdagangan bebas dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.  Kelapa sawit adalah satu-satunya produk minyak nabati yang mendapatkan perlaku semena-mena. Tidak ada anggota parlemen Uni Eropa membahas dampak negatif minyak nabati lain seperti kedelai, rapeseed, dan bunga matahari –  komoditas yang diproduksi di kawasan Uni Eropa. Langkah lain, Indonesia bisa main “gertak” terhadap produk impor asal Eropa. Kalau sawit diganjal maka produk perdagangan dari Uni Eropa dapat kita hambat. Kuncinya satu keberanian dan ketegasan dari pemerintah.

Baca Juga :   Edisi 04 Januari 2012

Dalam Rubrik Sajian Utama mengulas Musim Mas, Kelompok Usaha Hulu dan Hilir Sawit,  mencanangkan program Masyarakat Bebas Api (MBA) yang difokuskan kepada sosialisasi dampak kebakaran lahan dan hutan (karlahut) pelatihan penanggulangan kebakaran, pemberian reward bagi desa yang sukses mencegah kebakaran lahan di wilayahnya. Perusahaan melibatkan 71 desa dalam program penanggulangan kebakaran lahan.

Rubrik Hot Issue menampilkan kebijakan pemerintah yang menunda penghapusan minyak goreng curah. Alasannya pelaku industri belum siap untuk membangun fasilitas pengemasan minyak goreng. Selain itu, pemerintah khawatir harga minyak akan bergejolak apabila kebijakan ini dipaksakan. Kewajiban pengemasan minyak goreng ditargetkan pada 2020 yang didahului masa transisi 24 bulan mulai 2018.

Baca Juga :   Sawit Membangun Indonesia dari Pinggiran

Pembaca kami ucapkan terima kasih untuk apresiasi yang diberikan selama ini. Kami harapkan informasi yang disuguhkan dapat informatif dan membantu wawasan berpikir pembaca.

 

 

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Petani Siap ISPO

Salam Sawit Indonesia, Petani sawit yang menjadi bagian dari industri sawit berhadapan dengan tuntutan global. Isu sustainability merupakan…

Edisi 08 Juni 2012

Salam Sawit Indonesia!, Sudah menjadi keniscayaan, manusia tidak dapat hidup sendiri di muka bumi sehingga  perlu dibangun hubungan…

Edisi 54 April 2015

Kenapa Harus Moratorium? Salam Sawit Indonesia,Kenapa kelapa sawit sampai harus dimoratorium? Niatan Joko Widodo, Presiden RI, untuk menjalankan…

Edisi 49 November 2015

Mengapresiasi Kerja BPDP Sawit Salam Sawit Indonesia, Kendati seumur jagung, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit telah menunjukkan…