Emiten Sawit Kencangkan Ikat Pinggang

Kenaikan produksi  minyak sawit 2018 tidak mampu menutupi merosotnya harga. Perusahaan memilih tidak ekspansif.

“Dengan mengantisipasi melemahnya harga CPO, kami memberikan prioritas utama hanya kepada proyek yang bersifat strategis seperti penyelesaian PKS di Papua Barat dan penyelesaian fasilitas pemrosesan edamame beku di Jawa Timur,” ujar Lucas Kurniawan, Direktur PT Austindo Nusantara Jaya Tbk.

Menurut Lucas, pengeluaran modal yang dapat ditunda tanpa mempengaruhi kegiatan operasi perusahaan secara signifikan akan ditunda sampai terjadi perbaikan di harga jual CPO. Pada 2019,  emiten berkode ANJT menyiapkan belanja modal sebesar US$60 juta. Dana sebesar ini dipakai untuk pembangunan pabrik dan pemeliharaan tanaman.

Alokasi dana  belanja modal dipakai untuk penyelesaian pembangunan pabrik dan infrastruktur di Papua Barat. Targetnya dapat selesai kuartal ketiga 2019. Pabrik ini merupakan fasilitas pengolahan minyak kelapa sawit (CPO), minyak kernel sawit (PKO), dan sagu di Papua Barat.

Lucas Kurniawan, dalam kesempatan terpisah pada Februari 2019, menyebutkan  fasilitas pengolahan CPO dan PKO dibangun dua lini. Masing-masing lini berkapasitas 45 metrik ton per jam. Investasi fasilitas tersebut sebesar US$ 23 juta.

Rencana lainnya menuntaskan pembangunan  frozen line edamame di anak usahanya PT Gading Mas Indonesia Teguh (GMIT). Adapula  pemeliharaan tanaman yang belum menghasilkan dan pembangunan infrastruktur kebun. Kebutuhan investasi pengolahan edamame di Jember, Jawa.

Sepanjang 2018, perusahaan mencatat total produksi TBS 786.104 metrik ton (mt), atau naik 7,6% dibandingkan tahun 2017 sebesar 730.356 mt pada tahun 2017. Lucas menyebutkan peningkatan produksi TBS sebagian besar adalah kontribusi dari kenaikan produksi TBS dari perkebunan kami di Sumatera I (Binanga) dan perkebunan kami di Pulau Belitung serta perkebunan kami di Kalimantan Barat yang baru mnghasilkan yang terus melanjutkan tren positifnya dalam produksi TBS.

“Meskipun perkebunan Pulau Belitung dan Sumatera I sedang dalam program penanaman kembali, produksi TBS dari kedua perkebunan tersebut mengalami peningkatan dibandingkan dengan produksi TBS 2017 karena kondisi cuaca yang mendukung selama periode sekitar 18 bulan terakhir, jelasnya.

Perusahaan sawit lainnya seperti PT Astra Agro Lestarik Tbk mengerem rencana bisnisnya. Tahun ini, belanja modal yang disiapkan perusahaan sebesar Rp 1,5 Triliun. “Belanja modal tahun ini sama seperti tahun sebelumnya di kisaran Rp 1,4 triliun-Rp 1,5 triliun,” ujar Santosa, Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk.

Santosa menyebutkan alokasi belanja modal Astra Agro sekitar 40%  akan dipakai kegiatan perawatan tanaman  sawit yang belum menghasilkan. Selain itu, belanja modal juga akan dipakai untuk meningkatkan kapasitas pabrik di Kalimantan. Kapasitas pabrik baru  tersebut mencapai 45 ton per jam. Dengan tambahan pabrik baru ini, maka kapasitas produksi AALI akan menjadi sebanyak 1.555 ton per jam. Sebelumnya, produksi anak usaha Grup Astra sebesar 1.510 ton per jam. Saat ini kapasitas pabrik milik AALI sudah sebesar 1.525 ton per jam, dengan utilisasi sekitar 80%-85%.

PT PP London Sumatera Indonesia Tbk  membukukan   kenaikan produksi i Tandan Buah Segar (TBS) inti meningkat 18,5% yoy menjadi 1.515.537 ton. Peningkatan produksi TBS terutama berasal dari Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan seiring implementasi manajemen panen yang lebih baik serta peningkatan kondisi dan jalan kebun secara umum. Seiring peningkatan produksi TBS, produksi CPO pada FY2018 meningkat 16,4% yoy menjadi 453.168 ton. Pada 4Q2018, produksi TBS inti meningkat 29,6% yoy dan total produksi CPO meningkat 28,8% yoy.

“Lonsum mencatat pertumbuhan produksi yang kuat, baik produksi TBS inti dan total CPO, namun demikian Lonsum menghadapi penurunan harga komoditas terutama harga produk sawit dan karet yang berdampak pada kinerja Perseroan,” kata Benny Tjoeng, Presiden Direktur PT PP London Sumatera Indonesia Tbk, dalam keterangan resmi.

Kendati demikian, turunnya harga jual rata-rata dari produk sawit (CPO & PK) dan karet berdampak pada total penjualan dan laba Perseroan. Benny Tjoeng menyebutkan harga CPO di semester kedua 2018 berada pada posisi terendah dalam kurun beberapa tahun terakhir dan pada FY2018 harga CPO turun 16% yoy dibandingkan FY2017. “Industri perkebunan diperkirakan akan tetap kompetitif dan menantang, kami terus memperkuat posisi keuangan, fokus pada praktik-praktik agrikultur yang baik serta meraih potensi pertumbuhan sehingga dapat mendukung upaya-upaya kami untuk mengatasi tantangan-tantangan di masa depan,” ujarnya.

Penjualan Lonsum pada FY2018 mencapai Rp4,02 triliun atau turun 15,2% yoy, sementara itu laba usaha dan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun masing-masing sebesar 62,4% yoy dan 54,8% yoy menjadi Rp339,7 miliar dan Rp331,4 miliar.

Kontribusi produk sawit terhadap total penjualan mencapai 91% diikuti oleh karet sekitar 5% dan benih bibit sawit sekitar 2%. Lonsum mempertahankan posisi keuangan yang sehat dengan total aset mencapai Rp10 triliun dengan posisi kas sebesar Rp1,66 triliun pada 31 Desember 2018 serta tanpa funded debt.

Emiten lainnya, PT Dharma Satya Nusantara Tbk mencetak jumlah produksi Crude Palm Oil (CPO) mencapai 488 ribu ton, mengalami kenaikan sebesar 21% dibandingkan pada tahun 2017.

Peningkatan tersebut ditopang produksi Tandan Buah Segar (TBS) Perseroan sebesar 20% menjadi 1,85 juta ton dibandingkan tahun 2017 sebanyak 1,55 juta ton. Dari jumlah tersebut, produksi kebun inti mencapai 1,59 juta ton, naik sekitar 15% dibandingkan 2017.

Direktur Utama Perseroan, Andrianto Oetomo, menjelaskan kenaikan produksi TBS tersebut disebabkan oleh meningkatnya produktivitas kebun pada semester kedua tahun 2018 dibandingkan semester pertama sebagai akibat dari yield recovery pasca dampak lanjutan El-Nino.

“Produksi TBS Perseroan pada semester kedua naik cukup signifikan sebesar 65% dibandingkan pada semester pertama, akibat produktivitas kebun di semester dua yang lebih tinggi dibandingkan semester pertama,” kata Andrianto.

Selain itu, produksi Palm Kernel (PK) Perseroan pada tahun 2018 naik 26% menjadi 82 ribu ton dan Palm Kernel Oil (PKO) naik 21% menjadi 29 ribu ton.

7 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like