EMISI INDIRECT LAND USE CHANGE RED UNI EROPA : MINYAK SAWIT BAHAN BAKU BIODIESEL EU PALING KOMPETITIF?

Telaahan  Atas Hasil Riset Tim Peneliti International Food Policy Research Institute European Commission (Bagian Pertama)

Oleh: Dr. Tungkot Sipayung *

Text Box: 1.	Artikel akan diterbitkan sebanyak dua kali yaitu edisi 15 April-15 Mei 2019 (Bagian Pertama). Dan edisi 15 Mei-15 Juni 2019 (Bagian kedua)

2.	* Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute

Rancangan kebijakan baru Uni Eropa (EU) yang mengkaitkan Kebijakan Renewable energy Directives Uni Eropa (RED) dengan ILUC (Indirect Land Use Change) menjadi perdebatan publik dan memicu protes dari Indonesia dan Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia. Kebijakan baru biofuel EU tersebut dikhawatirkan sebagai bentuk baru yang menghambat ekspor minyak sawit ke EU.

Kebijakan RED merupakan kebijakan yang ditujukan untuk mengurangi konsumsi energi fosil dengan mencampurkan dengan biofuel yang dinilai lebih hemat emisi. RED I (2010-2020) diadopsi sejak 23 April 2009 dengan target penggunaan renewable energy 20 persen tahun 2020 dimana 10 persen renewable energy pada sektor transportasi EU. Pada RED I, penggunaan biodiesel berbahan baku (juga) bahan pangan/pakan (first biofuel generation) dibatasi maksimum 5.6 persen.

Kemudian akhir tahun 2018, EU menetapkan RED II (2020-2030) dengan target tahun 2030 penggunaan renewable energy 32 persen, dengan 14 persen penggunaan renewable energy pada sektor transportasi. Penggunaan first biofuel generation yang tergolong high indirect land use change risk, sejak tahun 2020 dikurangi secara drastis dan sudah harus ditiadakan (nol persen) pada tahun 2030. Untuk menetapkan biofuel mana yang harus dikurangi atau ditiadakan didasarkan kriteria emisi Indirect Land Use Change (ILUC) bahan baku biofuel dan akan diatur dalam Delegated Regulation of ILUC-RED II.

Mengapa ILUC RED menjadi perhatian EU? Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel, produksi bahan baku biodiesel EU yakni minyak rapeseed tidak mencukupi, sehingga harus mengimpor dari luar EU. Setiap tahun EU mengimpor bahan baku biodiesel berupa minyak sawit, minyak kedelai maupun minyak sunflower.Oleh karena itu pelaksanaan RED, akan meningkatkan impor bahan baku biodiesel EU dari negara-negara lain. Hal ini akan mendorong peningkatan produksi bahan baku biodiesel tersebut di negara-negara eksportir, baik melalui ekpansi areal tanaman biodiesel maupun intensifikasi tanaman biofuel, sehingga juga berpotensi meningkatkan emisi GHG dunia. Hal inilah yang disebut sebagai emisi Indirect Land Use Change (ILUC) RED EU, (Laborde, 2011).

Berbagai studi sebelumnya (European Commission, 2013, Sandstrom, et.al. 2018) juga mengungkap bahwa konsumsi pangan, pakan dan biofuel EU memicu emisi ILUC pada negara-negara eksportir Melalui evaluasi emisi ILUC tersebut, EU ingin memastikan bahwa pelaksanaan RED yang tujuanya untuk menguangi emisi, jangan justru meningkatkan emisi dunia.

Kebijakan RED EU tersebut telah lama menjadi perhatian para ahli. Dua pertanyaan mendasar dari ILUC RED tersebut adalah Pertama, dalam pelaksanaan RED EU apakah lebih baik membatasi impor bahan baku biofuel ke EU (regim protektif) seperti selama ini ataukah lebih baik perdagangan bebas (regim free-trade). Dan Kedua, Diantara bahan Baku biodiesel (first biofuel generation) yang digunakan pada RED EU seperti minyak sawit, minyak rapeseed, minyak kedelai dan minyak sunflower, bahan baku biofuel mana yang paling rendah atau menurunkan emisi ILUC RED EU ?

Berbagai studi telah dilakukan berbagai lembaga internasional maupun lembaga afliasi EU untuk mengidientifikasi hal tersebut. Salah satunya adalah studi yang dilakukan IFPRI (International Food Policy Research Institute) Eropean Commission (Al-Riffai et.al, 2010) dengan judul : Global Trade and Environmental Impact Study on the EU Biofuels Mandate, 2010. Studi IFPRI ini menggunakan model MIRAGE (Modeling International Relationship in Applied General Equilibrium) yang menggabungkan dengan GTAP (Global Trade Analysis Project) dan AEZ (Agro Ecological Zones) sehingga emission factor setiap ekosistem dan perdagangan masing-masing negara terakomodir dalam model.

Studi tersebut antara lain menggunakan pendekatan emisi marginal ILUC bahan baku bioethanol (susbsitusi gasoline) dan bahan baku biodiesel (susbsitusi diesel) untuk mengukur emisi ILUC untuk setiap MJ (Mega Joule) energi biodiesel. Dengan pendekatan emisi marginal tersebut, meskipun studi ini dilaksanakan dalam konteks RED I, masih dapat digunakan untuk mengevaluasi biofuel RED II.

Tulisan ini mendiskusikan hasil studi IFPRI tersebut yang terkait dengan bahan baku biodiesel yakni minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak sunflower.

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like