EMISI INDIRECT LAND USE CHANGE RED UNI EROPA : MINYAK SAWIT BAHAN BAKU BIODIESEL EU PALING KOMPETITIF? Telaahan Atas Hasil Riset Tim Peneliti International Food Policy Research Institute European Commission (Bagian Kedua-selesai)

Oleh: Dr. Tungkot Sipayung *

EMISI ILUC SAWIT TERENDAH

Besarnya emisi ILUC bahan baku biodiesel, tergantung pada produktivitas tanaman bahan biofuel, karbon stok lahan yang dikonversi dan teknologi produksinya (intensitas teknologi padat modal/energi fosil). Penggunaan lahan dengan konversi lahan stok karbon tinggi seperti lahan gambut dan hutan alam, jelas mempengaruhi emisi (hal ini juga diperhitungkan oleh peneliti IFPRI) tersebut dengan mengadopsi faktor emisi dari IPCC maupun Couwenberg (2009).

Selain itu, bagi EU sendiri, kenaikan produksi atau penurunan produksi dari tanaman rapeseed akibat kebijakan RED tersebut juga menghasilkan emisi ILUC di dalam negeri. Teknologi pertanian rapeseed di EU yang yang umumnya lebih padat modal (mekanisasi dan penggunaan pupuk intensif) dibanding di negara lain, juga berkontribusi pada besaran emisi ILUC rapeseed. Bahkan setiap tanaman biofuel berbeda-beda emisi dan polusi yang dihasilkan (FAO, 2013). Artinya subsitusi rapeseed EU dengan bahan biofuel dari luar EU (regim free trade) juga mempengaruhi perubahan emisi ILUC. Oleh karena itu dalam studi IFPRI tersebut melakukan analisis pelaksanaan RED pada dua regim perdagangan internasional bahan baku bidiesel EU regim protektif (MUE-BAU) dan regim free trade (MUE- Free trade).

Salah satu indikator penting yang dilakukan dalam studi IFPRI tersebut adalah analisis Emisi Marginal ILUC, yakni emisi CO2 yang terjadi untuk setiap tambahan Mega Joule (MJ) energi biodiesel di EU. Hasil analisis emisi marginal tersebut untuk bahan baku biodiesel dalam dua regim perdagangan tersebut diatas disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Emisi Marginal ILUC (gram CO2 eq/MJ/tahun) Bahan Baku Biodiesel RED EU

Komoditas MEU_BAU (Regim Protektif) MEU_FT (Regim Free Trade)  
Tanpa Efek Lahan Gambut   Dengan Efek Lahan Gambut   Tanpa Efek Lahan Gambut   Dengan Efek Lahan Gambut  
Biodiesel 58.67   59.78   54.69   55.76  
Palm Oil   46.40   50.13   44.63   48.31  
Rapeseed Oil   53.01   53.68   50.60   51.24  
Soybean Oil   74.51   75.40   67.01   67.86  
Sunflower Oil   59.87 60.53   56.27   56.89

Sumber : IFFRI

Studi tersebut (Tabel 1) menunjukkan hal-hal yang menarik sebagai dampak dari kebijakan RED EU terhadap emisi ILUC tanaman biofuel global. Pertama, Emisi marginal ILUC biodiesel pada regim perdagangan protektif EU (MUE-BAU) lebih tinggi dari pada regim perdagangan bebas (MUE-Free trade) baik dengan memperhitungkan efek lahan gambut maupun tanpa memperhitungkan efek emisi lahan gambut. Emisi marginal ILUC biodiesel pada regim protektif berkisar antara 58.67 g CO2/MJ/tahun (Tanpa efek lahan gambut) sampai dengan 59.78 g CO2/MJ/tahun (Dengan efek lahan gambut). Sedangkan pada regim free trade, berkisar antara 54.69 g CO2/MJ/tahun (tanpa efek lahan gambut) sampai 55.79 g CO2/MJ/tahun (dengan efek lahan gambut). Hal ini menunjukkan bahwa dampak pada emisi ILUC global akibat kebijakan RED EU, lebih rendah jika RED EU tersebut dilaksanakan dengan disertai free trade bahan baku biodiesel antara EU dengan negara eksportir bahan baku biodiesel. Hal ini dapat dipahami bahwa pada regim free trade, EU dapat memperoleh bahan baku biodiesel yang dalam proses produksinya menghasilkan emisi yang lebih rendah dari negara lain sebagai subsitusi bahan baku dari domestik (rapeseed).

4 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like