Edisi 29 Maret 2014

Dari Socfindo KITA Belajar

Salam Sawit Indonesia, Adrien Hallet, pendiri Societe Financiere des Caouchoucs Medan Societe Anonyme atau dikenal sebagai Socfin, mungkin merasa takjub usaha perkebunan yang dibangun 100 tahun lalu tetap bertahan hingga sekarang. Namun, perusahaan yang sekarang bernama PT Socfin Indonesia (Socfindo) bukan sekadar bertahan tetapi mampu berkontribusi besar terhadap perjalanan industri sawit tanah air selama ini. Dengan luas lahan 38 ribu hektare, Socfindao dapat berdiri sejajar dengan perusahaan perkebunan sawit lainnya yang lahannya di atas 100 ribu hektare.

Strategi intensifikasi diterapkan sudah semenjak lama supaya tidak bergantung kepada lahan. Sebab, karakter perusahaan ini hati-hati dalam pengambilan keputusan. Walaupun efeknya penambahan lahan sawit perusahaan terbilang minim. Tetapi, prinsip ini mampu diimbangi melalui intensifikasi. Yang menarik, metode intensifikasi difokuskan kepada pengembangan bahan tanaman atau bibit. Ibarat masakan, bahan baku yang dipakai haruslah terbaik dan berkualitas tinggi dengan begitu koki beserta tim lebih mudah dalam meracik.

Baca Juga :   Edisi 13 November 2012

Dengan menghasilkan benih sawit sendiri, Socfindo dapat menghasilkan tanaman sawit sesuai kebutuhan. Baik yang rendemen dan yield tinggi, melambatnya tinggi tanaman setiap tahun, maupun yang toleran terhadap serangan penyakit. Boleh dikatakan, masalah dan target di kebun berupaya diselesaikan salah satunya lewat bahan tanaman.
Perjalanan melewati tiga generasi sudah dijalankan Socfindo sangat baik. Menjadi perusahaan perkebunan yang produktivitas tinggi. Dan juga sebagai penghasil benih sawit di atas 30 juta kecambah setiap tahun. Reputasi ini yang membuat banyak pemangku usaha sawit lainnya merasa perlu singgah di perkebunan sawit Socfindo.

Pada Februari kemarin, tim redaksi SAWIT INDONESIA diundang untuk berkunjung ke kebun pembibitan Socfindo di Bangun Bandar, Sumatera Utara. Kesempatan ini tidak kami sia-siakan alhasil kunjungan satu hari ini dapat melihat fasilitas laboratorium Socfindo dan aktivitas polinasi. Di sela-sela liputan, kami bertemu calon pembeli benih yang berasal dari Guatemala. Gustavo Bolanos, Chairman AgroAmerica, perusahaan agrobisnis dari negara tersebut, mengakui nama Socfindo sudah dikenal sampai ke negaranya. Untuk itu, penting bagi dirinya melihat langsung kegiatan Socfindo menghasilkan benih. Liputan lengkap mengenai Socfindo kami sajikan di edisi ini.

Baca Juga :   Edisi 28 Februari 2014

Pembaca, kami sangat senang apabila saran dapat diberikan melalui email atau telepon secara langsung. Sebagai majalah yang baru berjalan dua tahun, tentu saja tidak terlepas dari kekurangan dari aspek kualitas berita dan tampilan majalah. Oleh karena itu, kritikan dan usulan yang sifatnya konstruktif sangatlah kami tunggu. Selamat membaca…

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Edisi 07 Mei 2014

Makin Dikenal, Salam Sawit Indonesia!, Tak Kenal Maka Tak Sayang, pepatah ini sangat cocok dengan Majalah Sawit Indonesia…

Edisi 54 April 2015

Kenapa Harus Moratorium? Salam Sawit Indonesia,Kenapa kelapa sawit sampai harus dimoratorium? Niatan Joko Widodo, Presiden RI, untuk menjalankan…
Read More

Diplomasi

Salam Sawit Indonesia, Dalam kamus Merriam Webster, Diplomacy – diplomasi dalam bahasa Indonesia – adalah the art and…