Edisi 16 Februari 2014

Berdaulat di Negeri Sendiri, SALAM SAWIT INDONESIA, Menjadi yang terbesar tapi bukan berarti yang terkuat, kondisi ini setidaknya dapat menggambarkan Indonesia yang menjadi produsen sawit terbesar di dunia. Dengan titel ini sebenarnya, kita boleh berbangga hari karena lebih dari 30% pasokan minyak sawit dunia berasal dari negara ini. Ini artinya, Indonesia telah menjadi pemasok produk makanan sampai energi ke seluruh dunia atau bahasa kerennya Indonesia Feed The World. 

Kendati demikian, sebagai produsen terbesar tidak menjadikan negara ini lebih mudah dalam mengelola bisnis emas hijau ini. Bahkan, cukup banyak intervensi dari negara lain  yang berupaya mengatur pengelolaan industri sawit dengan agenda tersembunyi ingin membatasi produksi minyak sawit Indonesia. Laju pertumbuhan minyak sawit Indonesia yang meningkat 200% kalau dibandingkan 12 tahun lalu, sebenarnya cukup mengkhawatirkan kalangan produsen minyak nabati lain. Sudah sering disebutkan oleh pengamat bahwa isu dan kampanye negatif terhadap minyak sawit tidak terlepas dari persaingan dagang. 

Baca Juga :   Edisi 30 April 2014

Demi masa depan bangsa ini, pemangku kepentingan  negara ini harus berani melawan setiap intervensi yang datang dari negara lain. Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) adalah terobosan baru yang dijalankan pemerintah dan kalangan  pelaku usaha sawit, untuk menunjukkan minyak sawit dihasikan dari proses bertanggungjawab dan sesuai aturan pemerintah dari  hulu sampai hilir. Penerapan ISPO ini bukanlah hal mudah tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan, asalkan ada dukungan dari semua stakeholder sawit. Tujuan lain, standar ini dapat digunakan untuk menjawab tuduhan maupun tudingan berbagai pihak terhadap kelapa sawit Indonesia.  Dan yang paling utama, ISPO merupakan bagian dari penegakan hukum dan regulasi yang wajib dipatuhi pelaku di dalamnya. 

Baca Juga :   Gambut dan Kedaulatan Negara

Rubrik Sajian Utama di edisi ini, mengulas beberapa kontraktor perkebunan sawit mulai dari pembukaan lahan sawit sampai  pemetaan lahan. Pekerjaan yang dikontrakkan ini bukanlah pekerjaan gampang dan menuntut ketelitian mengingat sangat menentukan kegiatan perkebunan sawit ke depannya. Salah-salah  pilih kontraktor dikhawatirkan mengakibatkan kerugian besar  bagi perusahaan sawit, lebih parahnya kalau perkebunan malah tidak jadi. Itu sebabnya, kontraktor yang dipilih harus mempertimbangkan portofolio proyek apa saja yang pernah dikerjakan.

Edisi kali ini, kami membuat rubrik baru yaitu Hukum Usaha Perkebunan yang diasuh Dr. Sadino, praktisi kehutanan, yang akan menjawab beragam pertanyaan mengenai kendala yang dihadapi pelaku sawit dari  aspek hukum dan regulasi. Hal ini kami lakukan, supaya pembaca tidak bosan  membaca lembar  demi lembar majalah ini. Selamat Membaca !! 

Baca Juga :   Edisi 22 Agustus 2013
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Petani Siap ISPO

Salam Sawit Indonesia, Petani sawit yang menjadi bagian dari industri sawit berhadapan dengan tuntutan global. Isu sustainability merupakan…

Edisi 19 Mei 2013

Sawit Bukan Prioritas. SALAM SAWIT INDONESIA, Keluarnya Instruksi Presiden Nomor6  Tahun 2013 mengenai penundaan izin baru dan penyempurnaan…
Read More

Gaspol Sawit

Edisi 15 Maret – 15 April 2019 SALAM SAWIT INDONESIA, “Industri sawit telah berkembang jauh. Tidak bisa mundur…