Edisi 02 November 2011

Salam Sawit Indonesia , Tekanan terhadap industri kelapa sawit nasional tidak dapat dipungkiri terus terjadi. Gangguan ini semestinya dapat disikapi secara bijak oleh pelaku usaha supaya bisnis mereka secara khusus tetap berkelanjutan, dan secara umum industri kelapa sawit tidak menerima cercaan dari masyarakat.

Bagi pelaku usaha sawit yang menginginkan bisnisnya dapat tumbuh positif, implementasi manajemen budidaya lestari sudah menjadi kewajiban utama. Pasalnya, sekarang ini interaksi antara dunia industri dengan aspek sosial dan lingkungan telah menjadi keniscayaan.
Untuk itu, dukungan teknologi sangat dibutuhkan pelaku industri kelapa sawit mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor  hulu, teknologi memberikan manfaat positif dalam peningkatan efisiensi dan efektivitas kerja baik di perkebunan dan pabrik kelapa sawit. Kedua hal tadi sangat berkaitan dengan pencapaian target perusahaan dalam peningkatan CPO.

Baca Juga :   Edisi 45 Juli 2015

Rubrik sajian utama di edisi ini, mengulas produk beberapa perusahaan pendukung industri kelapa sawit yang mendorong efisiensi dan efektivitas. Misalkan saja, penggunaan sprinkler yang dijadikan sebagai alat penyiraman bibit sawit.  Pertimbangannya, bibit sawit membutuhkan air sebesar 12,5 mm per dua hari. Apabila terjadi kekurangan air berakibat kepada tidak optimalnya pertumbuhan bibit  sawit.

Sementara itu, sistem otomasi di pabrik kelapa sawit mulai dikenal oleh pelaku usaha, karena hasil produksinya lebih optimal. Selain itu, otomasi bermanfaat bagi aspek efisiensi kerja dan keselamatan pekerja, lantaran  sistem konvensional yang dipakai selama ini dapat membahayakan pekerja. Manfaat lain, otomasi dapat mempermudah pengontrolan dan pengawasan kerja pabrik kelapa sawit seperti di sistem perebusan.

Baca Juga :   Tanah Harapan Elaeis (Bagian LVX)

Rubrik hot issue menyajikan permasalahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di Kalimantan Tengah, yang tak kunjung selesai hingga tahun ini. Tak dipungkiri, terhambatnya pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah disebabkan mandegnya penyelesaian RTRW. Sehingga, pengusaha tak mendapatkan kejelasan mengenai status lahan yang akan mereka pergunakan.

Supaya dapat mengatasi rasa keingintahuan, silakan membuka lembar demi lembar halaman di edisi ini. Selamat membaca !!

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Edisi 04 Januari 2012

Salam Sawit Indonesia, Hidup ini adalah perjalanan, yang ditaburi mimpi, diisi keberanian, dan dinyatakan dalam tindakan, kalimat yang…
Read More

Benih Harus Dijaga

Salam Sawit Indonesia, material tanaman adalah kunci produktivitas. Tanpa material atau benih tanaman unggul, sulit mendapatkan hasil terbaik. Selain,…

Saatnya Harga CPO Naik

Salam Sawit Indonesia, Dalam sejumlah kegiatan jumpa pers dengan topik kelapa sawit, seringkali muncul pertanyaan bagaimana produksi CPO…

Edisi 43 Mei 2015

Reshuffle Menteri, Lalu Apa? SALAM SAWITINDONESIA – Baru enam bulan bekerja, Kabinet Jokowi-JK mendapatkan ujian. Kritikan datang dari…