Dua Organisasi Sawit Terbesar Sepakat Lanjutkan Kemitraan

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) mempunyai perspektif sama terkait kemitraan. Memperkuat pembinaan kemitraan di tingkat daerah sentra sawit.

Dalam satu bulan terakhir, GAPKI dan APKASINDO terus memperkuat kemitraan di tingkat daerah. Langkah ini merupakan tindak lanjut penandatanganan nota kesepahaman pembinaan kemitraan permanen di sela-sela 13th Indonesian Palm Oil Conference and 2018 Price Outlook pada 2 November 2017 di Nusa Dua.

Komitmen ini terus berlanjut dua tahun kemudian dalam pertemuan pengurus kedua organisasi ini. Pada awal September 2019, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) sepakat membangun pola kemitraan yang lebih luas dalam rangka mendukung keberlanjutan dan kesejahteraan industri sawit di Indonesia.

Kala itu, Gulat ME Manurung, Ketua Umum DPP Apkasindo, mengapreasi pertemuan ini karena menjadi pertemuan bersejarah karena petani mau pun pengusaha menghadapi masalah yang sama yaitu kampanye negatif sawit dari luar negeri dan perkebunan sawit yang terjebak dalam kawasan hutan. Apkasindo dan Gapki akan bekerja sama menyelesaikan persoalan ini supaya industri sawit tidak ditekan terus menerus oleh berbagai pihak. “Kerjasama ini merupakan lanjutan Implementasi MoU yang sudah ditandatangani tahun 2017 di Bali dan kerjasama ini adalah untuk yang kesekian kali dilakukan kedua asosiasi ini,” ujarnya.

Baca Juga :   Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI Membangun Kemandirian Ekonomi Dan Pangan Secara Berkelanjutan (Bagian XLVI)

Dalam kesempatan berbeda, Joko Supriyono, KetuaUmum GAPKI menjelaskan bahwa petani dan pengusaha tetap memerlukan kemitraan yang sinergis dan kuat. Karena petani masih punya peluang untuk meningkatkan produktivitas TBS lewat peremajaan. Di sisi lain, perusahaan memiliki kapasitas pabrik yang cukup. Alhasil, kemitraan dapat dilakukan secaralebih baik.

“Yang punya masalah tidak hanya petani saja. Pengusaha juga hadapi masalah. Kami dengan petani itu sama-sama satu kapal, we’re in the same boat. Sama-sama menghadapi gelombang masalah ini,” ujar Joko Supriyono.

Rino Afrino, Sekjen DPP APKASINDO, menuturkan penandatanganan kemitran ini akan mencakup peremajaan sawit ,tata niaga TBS,  kemitraan 20%, dan pelatihan petani. “Penandatangan MoU akan berjalan di provinsi yang terdapat cabang GAPKI dan APKASINDO,” ujarnya.

Sebagai informasi, GAPKI memiliki 13 cabang di pronvisi sentra sawit. Hingga Maret 2019, jumlah anggota GAPKI mencapai 725 perusahaan.  Sementara itu, APKASINDO mempunyai Dewan Perwakilan Wilayah yang tersebar di 22 provinsi. Di perkirakan ada 3,9 juta petani baik plasma dan mandiri bergabung dengan organisasi petani yang berdiri pada 2000.

Baca Juga :   Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXI)

Menindak lanjuti kerjasama kemitraan, Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kalimantan Tengah dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Tengah menandatangani nota kesepahaman berkaitan Pembinaan Kemitraan Permanen di hotel Luwansa, Palangka Raya, Kamis (15 Oktober 2020).

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Tengah (Kalteng), Ir. JMT Pandiangan, MM, dan Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalteng, Halind Ardi yang mewakili Dwi Dharmawan, Ketua GAPKI Kalteng.

Kerjasama ini disaksikan Staf Ahli Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Yuas Elko mewakili Plt. Gubernur Kalteng Habib Ismail Bin Yahya,  KetuaUmum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APKASINDO Ir. Gulat ME Manurung, MP.,C.APO., Sekjen DPP APKASINDO, Rino Afrino, Tenaga Ahli Utama KSP RI sekaligus Dewan Pembina DPP APKASINDO, Mayjen TNI (Purn) Erro Kusnara, Dr. Tri Chandra Apriantodari Kantor Wakil Presiden RI,  Direktur Penghimpunan Dana BPDP-KS, Sunari, dan Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif GAPKI.

JMT Pandiangan menjelaskan bahwa pemerintah provinsi Kalimantan Tengah berupaya mencapai pembangunan sawit berkelanjutan yang menjadi bagian tugas petani untuk mewujudkannya. “Ini merupakan tantangan yang berat apa lagi saat ini banyak permasalahan yang dihadapi petani sawit. Terutama petani yang berada di kawasan hutan, peran pemerintah ini sangat dibutuhkan dalam mencari solusinya,” terang JMT Pandiangan.

Baca Juga :   Menko Airlangga: Pajak Ekspor CPO Naik US$ 12,5/ton dan Hilir Naik US$ 10/ton

JMT Pandiangan mengatakan bahwa Apkasindo siap menjadi jembatan antara perusahaan dengan petani sawit dalam upaya membangun kemitraan. Sebagai contoh, kemitraan ini dapat membantu permasalahan harga Tandan Buah (TBS) sawit petani sehingga dapat mereka nikmati.

“Di sisi lain, kami juga melatih petani sawit supaya dapat memasarkan hasil panen dan meningkatkan kemampuan merawat tanaman. Untuk menyongsong harga yang baik maka  kami harapkan dapat lakukan pelatihan berkala kepada rekan petani,” ujarnya.

Sementara itu, Dwi Dharmawan, Ketua GAPKI Kalteng, menyambut baik kerjasama kemitraan diantara kedua asosiasi karena memberikan banyak manfaat baik kepada petani dan perusahaan. Tujuan kerjasama ini dapat memperkuat kemitraan untuk meningkatkan produktivitas petani, meningkatkan kualitas TBS di rantai pasok industri kelapa sawit, pelatihan teknis budidaya kelapa sawit (good agriculture pratices), dan penguatan ISPO bersama petani sawit.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 108)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like