Sejak tahun lalu, Pemerintah Indonesia telah mengupayakan strategi jangka panjang pembangunan berkelanjutan melalui Indonesia FoLU Net Sink 2030. Ini dilakukan untuk mencapai target Perjanjian Paris yaitu Low Carbon and Climate Resilience (LCCR). Harapannya Indonesia dapat mencapai puncak emisi bersih 1,2 M CO2e. Hutan dan penggunaan lahan yang tadinya menjadi emitter, kini diarahkan menjadi penyerap karbon. Skenario ini sudah mulai terealisasi pada berbagai sektor dan instansi.

Dr Tatang Taryana, Dosen IPB University dari Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) mengulas bahwa sebenarnya kalkulasi emisi FoLU pada dasarnya sederhana yaitu diambil dari data penutup lahan dikalikan dengan cadangan karbon. Sedangkan kalkulasi cadangan karbon atau emisi bersih didapat dari emisi kotor dikurangi serapan emisi.

“Di sini tidak hanya perlu data luasan, tapi bagaimana target emisi bersih bisa dicapai,” ungkapnya dalam Diskusi Pojok Iklim “Indonesia’ FoLU Net Sink 2030: Peran Restorasi Ekosistem dan Konservasi Keanekaragaman Hayati,” (06/07). Ilustrasi sederhananya, lanjutnya, adalah luasan hutan deforestasi yang semakin berkurang direstorasi menjadi hutan sekunder. Harapannya ada peningkatan stok karbon.

“Walau luasannya tetap 400 hektar, tapi kalau kita bisa meningkatkan stok karbonnya maka di sini potensi serapan emisinya meningkat. Jadi jangan hanya melihat luasannya tetapi bagaimana kita mengupayakan adanya peningkatan cadangan karbon dan ada serapan emisi yang lebih baik,” tambahnya.

Menurutnya, pendugaan cadangan karbon juga dapat diperhitungkan dengan menghitung biomassa pada penyimpan/pool karbon. Penyimpan karbon ini di antaranya biomassa atas permukaan, biomassa bawah permukaan, kayu mati, serasah dan karbon tanah. Proporsi terbesar hingga saat ini adalah hutan lahan kering, hutan mangrove/gambut.

“Restorasi lahan-lahan ini ditentukan oleh mana yang menjadi prioritas dan sesuaikan dengan tujuan, perubahannya cepat, dinamikanya cepat. Misalnya lahan gambut tidak terlalu urgen untuk direstorasi karena dinamikanya cenderung lambat,” katanya.

Menurutnya, peran konservasi dan restorasi membuktikan bahwa keragaman hayati berhubungan erat dengan cadangan karbon yang tinggi. “Contoh areal rehabilitasi di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPWG) IPB University yang cadangan karbon semakin meningkat sejak adanya upaya rehabilitasi, “ tandasnya.  Menurutnya ukuran kinerja aksi reduksi emisi FoLu seyogyanya tidak hanya memperhatikan target luas areal melainkan juga peningkatan cadangan karbonnya.

Ia menambahkan, konservasi keragaman hayati perlu diarahkan untuk melindungi dan mempertahankan areal-areal hutan dengan cadangan karbon tinggi agar tidak sampai terjadi kebocoran atau deforestasi lagi. “Restorasi ekosistem perlu diarahkan dan dikelola dengan baik untuk meningkatkan cadangan karbon dan serapan emisi, “ ungkapnya.

Sumber: ipb.ac.id

Share.