Dari Sawit, Ekonomi Halmahera Selatan Bisa Tumbuh

Pengembangan perkebunan sawit di Halmahera Selatan sangat dibutuhkan untuk membantu jalannya perekonomian setempat. Komoditas ini sudah teruji menggerakkan ekonomi daerah.

“Masyarakat di sini ingin bekerja. Perkebunan sawit menjawab kebutuhan kami,” kata Syahril, perwakilan masyarakat Desa Gane Dalam, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Syahril menjelaskan bahwa masyarakat terutama di Desa Gane telah menyadari pentingnya kelapa sawit bagi kesejahteraan masyarakat. Di awal pengembangan sawit yang dijalankan oleh PT Gelora Mandiri Membangun (GMM), memang masih terjadi kekurangpahaman di kalangan masyarakat mengenai sawit. Karena masyarakat terbiasa berkebun kelapa. Komoditas kelapa saat ini menjadi andalan masyarakat Halmahera Selatan pada umumnya. Merujuk data pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, luas perkebunan kelapa mencapai 32.592 Ha dengan produksinya 29.254 ton/tahun.

Tetapi setelah mendapatkan sosialisasi manfaat kelapa sawit. Masyarakat setempat mulai memahami keuntungan dari komoditas ini. Syahril menuturkan awalnya  masyarakat bersama warga lainnya memang belum terbiasa dengan perkebunan sawit. “Dengan sosialisasi dan pemahaman  lebih lanjut, masyarakat saat ini menjadi lebih tertarik untuk mengembangkan perkebunan sawit,” jelas Syahril.

Di wilayah Gane, Halmahera Selatan, PT Gelora Mandiri Membangun (GMM) mengembangkan perkebunan sawit semenjak tujuh tahun lalu. Perkebunan sawitnya berada di tiga kecamatan antara lain 8 desa di Kecamatan Gane Barat Selatan, 5 desa di Kecamatan Gane Timur Selatan, dan  Kepulauan Goronga terdapat 7 Desa. Kehadiran perusahaan sangat dinantikan masyarakat setempat. Pasalnya, perusahaan juga membangun lahan plasma melalui kerjasama kemitraan bersama masyarakat desa.

Merujuk data Palm Oil Strategic Policy Institute (PASPI) bahwa berdasarkan tenaga kerja yang terlibat langsung pada kebun sawit dan suplier kebun saja, nilai transaksi antara masyarakat di kebun sawit dengan sektor pedesaan tahun 2016 saja mencapai Rp 92 trilyun per tahun, sedangkan dengan perkotaan mencapai Rp 336 trilyun per tahun. Nilai transaksi ini mencerminkan bahwa mengembangkan kebun-kebun sawit juga berarti mengembangkan ekonomi di pedesaan dan perkotaan.

Menteri PPN/ Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro pun mengakui industri  sawit berperan penting bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebab, industri kelapa sawit ini mampu menyerap 16,2 juta orang tenaga kerja dengan rincian 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung. Dalam pembangunan kelapa sawit, Indonesia harus memperhatikan masukan dan peran pihak swasta dan pekebun rakyat skala kecil.

Bagi masyarakat kawasan Indonesia Timur, budidaya kelapa sawit sebenarnya dekat dengan kehidupan mereka. Pasalnya, mereka telah mengenal lebih dahulu tanaman kelapa dan sagu yang berfamili dengan sawit. Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif PASPI menyebutkan sawit memiliki kelenturan budaya dan agroklimat relatif luas. Kebun sawit sesuai untuk masyarakat Maluku Utara dan Papua. Sebab, mereka telah mengenal lebih dulu pohon sagu dan keluarga yang masih satu keluarga dengan sawit.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like