Blunder WHO Kala Pandemi

FILE PHOTO: A logo is pictured outside a building of the World Health Organization (WHO) during an executive board meeting on update on the coronavirus outbreak, in Geneva, Switzerland, February 6, 2020. REUTERS/Denis Balibouse/File Photo

Negara produsen sawit kompak mengecam  flyer terbitan World Health Organization (WHO). Flyer menyebutkan minyak sawit tidak sehat ketimbang minyak nabati lain. Bukan kali inisaja, WHO bertindak serupa.

“Kemenlu sudah mengirimkan surat protes kepada WHO pada akhir April. Intinya, flyer online mereka harus diubah,” tegas Mahendra Siregar, Wakil Menteri Luar Negeri RI.

Surat protes Kemenlu RI dipicu flyer online berjudul “Nutrition Advice for Adults during Covid-19” dan “Food and Nutrition Tips During Self Quarantine”. Masing-masing flyer diterbitkan oleh kantor regional WHO di Mediterania Timur dan Eropa.  Dari segi konten, kedua flyer ini berisi panduan memilih makanan yang bernutrisi dan sehat selama pandemi Covid-19.  Yang menjadi persoalan, terdapat konten yang cenderung merekomendasikan konsumsi makanan berbahan minyak sawit.

Sebagai contoh dalam artikel berjudul “Nutrition Advice for Adults during Covid-19”  dicantumkan consume unsaturated fats (e.g. found in fish, avocado, nuts, olive oil, soy, canola, sunflower and corn oils) rather than saturated fats (e.g. found in fatty meat, butter, palm and coconut oils, cream, cheese, ghee and lard).Selain itu, ada pula kalimat don’t eat saturated fats (fatty meat, butter, palm and coconut oils, cream, cheese, ghee, and lard).

Sementara itu artikel berjudul “Food and Nutrition Tips During Self Quarantine” yang di terbitkan WHO regional Eropa. Ada himbauan yang tertulis reduce foods such as red and fatty meats, butter and full-fat dairy products, palm oil, coconut oil, solid shortening and lard.

Mahendra menjelaskan bahwa Indonesia secara resmi meminta WHO untuk membuat perubahan pada isi publikasi, menerapkan prinsip imparsialitas sebagai mana layaknya Badan PBB, menciptakan perspektif yang lebih seimbang tentang asupan minyak nabati dalam diet sehat, khususnya minyak sawit, serta menerapkan prinsip kehati-hatian ketika menerapkan saran yang bersifat umum kedalam konteks yang bersifat khusus.

Kemenlu RI dalam suratnya kepada WHO menuturkan ini siatif  WHO dihargai untuk memberikan saran nutrisi bagi masyarakat, Indonesia sangat prihatin dengan konten materi yang tidak berimbang dan bahkan mengesampingkan konsumsi minyak kelapa sawit sebagai produk yang layak dikonsumsi selama pandemi.

Tetapi, asumsi bahwa konsumsi minyak sawit berdampak buruk terhadap kesehatan merupakan mis persepsi yang masih dipertentangkan, mengingat terdapat berbagai penelitian lain yang menunjukkan manfaat nutrisi minyak sawit, termasuk untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Antara lain, berbagai penelitian telah menemukan bahwa kelapa sawit [Cazzola (2017), Mukjerjee and Mitra (2009), Slover (1971) and Gunstone (1986)].

Malaysia ikut meradang atas sikap WHO yang menyudutkan kelapa sawit di tengah pandemi Covid-19.”Berkenaan dengan lemak makanan sebagai sumber utama kalori, WHO melalui penasehatnya yang baru-baru ini kembali jatuh kesumur sebelumnya yang sama, mempromosikan minyak komoditas tertentu sambil menyisihkan minyak sawit,” kata Kalyana Sundram, CEO Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOC).

Sektor industri sawit di dalam negeri juga memprotes publikasi WHO. Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) mengirimkan surat yang mengecam informasi miring terhadap sawit. “DMSI telah mengirimkan surat protes melalui surat elektronik kepada WHO tanggal 28 April 2020. Dalam surat ini, kami sampaikan keberatan atas flyer WHO yang berisi anjuran agar orang dewasa tidak mengonsumsi minyak sawit dalam menghadapi Covid-19,” ujar Derom Bangun, KetuaUmum DMSI, dalam keterangan tertulis.

Dalam isi suratnya, DMSI menerangkan minyak sawit memilik kandungan saturated fats yang rendah. Dengan mengonsumsi RBD Palm Olein, produk turunan sawit, juga berdampak positif bagi Kesehatan. Minyak sawit juga memiliki keseimbangan dalam hal asam lemak jenuh dan tidak jenuh.

Di akhir, surat berbahasa inggris ini, DMSI meninggalkan pertanyaan krusial: We would appreciate it if you could share with us independently verified scientific evidence why you are advising against consuming Palm Oil during Covid-19.

Sementara itu, Dewan Negara-negara Produsen Minyak Sawit Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) dalam suratnya kepada WHO mengklarifikasi bahwa meski punya kandungan lemak jenuh tinggi, minyak sawit merupakan sumber minyak goreng yang paling banyak digunakan di dunia. CPOPC berpendapat minyak kelapa sawit adalah sumber tokotrienol yakni suatu bentuk vitamin E yang sangat baik untuk tubuh. Antioksidan ini melindungi sel-sel yang dapat mengurangi risiko masalah kesehatan tertentu seperti penyakit jantung dan kanker.

Setelah mendapatkan tekanan berbagai pihak. Alhasil, World Health Organization (WHO) Regional Mediterania Timur mengoreksi flyer yang berisi saran dan rekomendasi untuk mengonsumsi makanan di kala pandemi Covid-19 bagi orang dewasa. Koreksi ini dapat dilihat dalam link berikut: http://www.emro.who.int/noncommunicable-diseases/campaigns/nutrition-for-adults-during-covid-19.html.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 103)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like