Binasawit Makmur Jamin Kualitas Benih PSR

PT Binasawit Makmur menerapkan pendekatan jaminan kualitas (Quality Assurance) prabenih dikecambahkan hingga seed processing unit. Perusahaan sangat yakin DxP Sriwijaya dapat memenuhi standar benih PSR sesuai arahan pemerintah.

PT Binasawit Makmur, produsen benih sawit anak usaha PT Sampoerna AgroTbk, mempunyai komitmen kuat terhadap mutu dan kualitas benih DxP Sriwijaya. Komitmen ini ditunjukkan melalui kepatuhan serta pelaksanaan standar nasional dan internasional. Selain itu, perusahaan menerapkan jaminan kualitas (Quality Assurance) kepada seluruh varietasnya.

“Jaminan kualitas benih sangat penting bagi produsen untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Sekarang ini, kami telah mempunyai teknologi quality assurance,” ujar Dr.DwiAsmono, Direktur PT Sampoerna Agro Tbk, dalam Diskusi webinar bertemakan “Produktivitas Sawit Sampai Dimana?” yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia, 30 April 2020.

Dwi Asmono menjelaskan bahwa jaminan kualitas benih unggul di tingkat produsen sebenarnya tidak perlu lagi diperdebatkan. Karena produsen benih termasuk PT Binasawit Makmur sudah menerapkan standar jaminan kualitas yang ketat. Selain itu dilakukan pula uji kemurnian persilangan dengan DNA. Strategi menjamin kualitas ini telah berjalan semenjak 2014 lalu, ketika varietas DxP Sriwijaya persiapan pelepasan.

Baca Juga :   Sawit Dibebani Pajak Tinggi, Menko Rizal Ramli Tegur Perancis

PT Binasawit Makmur memiliki 16 titik di Seed Garden sebagai penentu mutu benih yang mengedepankan quality assurance. Titik kritikalter sebut tersebar di sepuluh inti proses, yaitu inspeksi polyester bag; sensus bunga; inspeksi isolasi; inspeksi polinasi; inspeksi bag remove, labelling, dan netting; inspeksi panen tandan polinasi; inspeksi penerimaan tandan polinasi; inspeksi seleksi, dan hitungulang biji;  uji viabilitas embyo dan inspeksi keberadaan jamur; serta inspeksi pengiriman benih ke Seed Processing Unit untuk dikecambahkan.

Denganjaminan kualitas ini, PT Binasawit Makmur mampu menjaga kemurnian persilangan teneranya sesuai SNI. Karena menerapkan kontrol kualitas yang ketat, termasuk implementasi teknologi DNA sehingga kecambah DxP Sriwijaya akan terjaga mutunya.

Sebagai informasi, Direktorat Jendral Perkebunan Kementerian Pertanian RI berencana mewajibkan tes DNA benih sawit yang dipakai untuk PSR. Tujuan tes DNA ini supaya benih minim kontaminasi dan petani tidak kecewa terhadap hasilnya.

Dwi Asmono menjelaskan Binasawit Makmur sangat menjaga kualitas benihnya dari kontaminasi Dura. “Bila hasil analisis DNA menunjukkan adanya kontaminasi Dura maka seluruh benih dalam satu persilangan/tandan akan dimusnahkan,” ujar Doktor lulusan University of Iowa.

Baca Juga :   Menko Perekonomian Dukung RPN Beralih Menjadi BUMN

Komitmen lainnya adalah varietas sawit DxP Sriwijaya telah mengikuti SNI 8211:2015 mengenai benih kelapa sawit sesuai standar Badan Standardisasi Nasional. Standar ini menetapkan persyaratan mutu benih kelapa sawit meliputi persyaratan mutu produksi benih, persyaratan mutu kecambah, persyaratan teknis pengemasan, persyaratan pertumbuhan benih kelapa sawit, dan layanan purna jual.

Dalam implementasinya, PT Binasawit Makmur (BSM) sebagai anak usaha Sampoerna Agro telah memproduksi DxP Sriwijaya. Varietas ini mendapatkan pengakuan Integrated Management System untuk mutu dan lingkungan yaitu ISO 9001:2015 dan 14001:2015, sejak tahun 2006.

Kendati demikian, tantangan proses jaminan kualitas ini sampai di Seed Procesing Unit. Belum menyentuh kegiatan pengiriman. Disinilah, titik paling kritikal di fase pengiriman kecambah kepelanggan, pembibitan, dan distribusi bibit untuk penanaman di lapangan.Sebagai solusinya, PT Binasawit Makmur memilih perusahaan pengiriman (forwarder) yang terpercaya dan kredibilitas tinggi.

Produktivitas sawit petani

Dalam diskusi webinar, Dwi Asmono memaparkan beragam faktor yang mempengaruhi produktivitas sawit dalam beberapa tahun di Indonesia. Berdasarkan data yang dirangkum Dwi Asmono, produktivitas sawit Indonesia berada di kisaran 3,6 ton-4,01 ton/ha/tahun. periode 2017-2020.  Rerata ini lebih rendah dari Malaysia yang mencapai 4,26-4,3 ton/ha/tahun.

Baca Juga :   Petani KKPA Kebun Arso Direkomendasikan Jual TBS Ke Swasta

“Jika dilihat secara global, seakan pertumbuhan produktivitas sawit Indonesia stagnan. Tetapi jika dilihat holistik tanpa melihat sub komponen lain. Sepertinya yang dikerjakan Ditjenbun seolah tidak ada, pada hal faktanya tidak seperti itu,” ujar Dwi Asmono.

Selanjutnya, ia pun menyajikan data struktur komposisi tanaman menghasilkan dan tanaman belum menghasilkan di Indonesia dan Malaysia. Dari data tadi terlihat bahwa komposisi tanaman menghasilkan di Indonesia sebesa 79,8% dan tanaman belum menghasilkan 20,2%. Di Malaysia, tanaman menghasilkan mencapai 88% dan tanaman belum menghasilkan 12%.

“Artinya perbedaan signifikan sekitar 10% berkaitan tanaman yang produktif. Di Malaysia, lebih tinggi tanaman produktif. Tapi data ini tidak bisa dijadikan perbandingan produktivitas per hectare di Indonesia lebih rendah dari Malaysia karena unsurnya tidak head to head,” jelasnya.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 103)

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like