Beroperasi Normal, Industri Sawit Perketat Protokol Kesehatan

Perusahaan sawit di sejumlah daerah di Indonesia tetap beroperasi normal. Protokol Kesehatan tetap diperketat untuk mencegah penularan di kebun.

“Perusahaan sawit terus memperketat protokol Kesehatan. Kita ingin mencegah karyawan kebun terjangkiti Covid-19. Sekali ada yang kena, akan membahayakan operasional,” ujar Tofan Mahdi, Ketua Bidang Komunikasi GAPKI.

Tofan Mahdi merasa bersyukur belum menerima laporan yang menyatakan ada kendala di lapangan. Karena itu, sampai sejauh ini bisa di pastikan bahwa industri kelapa sawit masih aman dari dampak Covid-19.

Berkaca pada industri minyak yang sudah terpukul, lanjut Tofan, situasi pada bisnis Crude Palm Oil (CPO) agak berbeda. Ini terjadi mengingat permintaan terhadap minyak sawit sebagai bahan kebutuhan pangan sangat tinggi. Merujuk pada tren harga, kondisi sekarang pun menurutnya masih jauh lebih baik ketimbang situasi 2019 lalu.

Baca Juga :   Tinjauan Singkat Karakter Unik Minyak Sawit

Ditambah dengan penerapan protokol yang ketat, Tofan Mahdi menegaskan bahwa pelaku usaha komoditas strategis nasional optimistis bahwa industri kelapa sawit akan aman. “Kita semua tentu berharap pandemi ini akan segera berakhir,” katanya

Melalui Konfrensi Pers online, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan selatan, Eddy S. Binthi menyampaikan bahwa industri kelapa sawit di Kalimantan Selatan sampai dengan saat ini masih normal, baik untuk operasional pabrik dan kebun. Untuk harga pembelian TBS di tingkat petani juga masih berada diangka Rp 1.200 – 1.300/kg.

“Kami masih beroperasi seperti biasa namun hanya memperketat protokol pencegahan Covid-19” kata Eddy saat konferensi pers online pada Jumat (15/5).

Baca Juga :   Optimasi Kalium pada Tanaman Sawit

Ia pun menambahkan bahwa industri sawit masih dibutuhkan dunia, pasalnya ditengah gencarnya boikot media Eropa permintaan Crude Palm Oil (CPO) mengalami peningkatan di pasar Eropa. Hal ini menurutnya meski pun tidak sebagai sumber energi, Eropa masih menggunakan bahan baku minyak sawit untuk membuat sanitizer.

Totok Dewanto, Dewan Pembina Gapki Kalsel juga mengatakan hal serupa terkait industri sawit Kalsel. Ia juga menambahkan bahwa selain memperketat protokol kebun, GAPKI Kalsel juga turut memberikan bantuan berupa APD, bahan pangan dan juga  bekerjasama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) untuk mengolah cangkang sawit menjadi cairan disinfektan.

Dari Jambi, Ketua GAPKI Provinsi Jambi, M Tidar Bagas kara juga menegaskan bahwa di lapangan pun tidak ada dampak pandemi yang signifikan terhadap industri kelapa sawit. Harga Tandan Buah Segar (TBS) masih bagus. Turun naiknya harga di propinsi Jambi masih mengikuti tren normal, dan bukan karena dampak Covid-19. Per hari ini, menurutnya, TBS berkisar di angka Rp 1.400 sd 1.600 per kilo.

Baca Juga :   Potensi Bioenergi Indonesia Untuk Menghasilkan Listrik dan Menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca Melalui Metode Life Cycle Assessment Penulis: Dr.Kiman Siregar,S.TP,M.Si (bagian kedua-selesai)

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 103)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like