Berkat Sawit, 10 Juta Rakyat Indonesia Bebas Dari Kemiskinan

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Industri kelapa sawit menjadi penyelamat rakyat Indonesia dari garis kemiskinan. Itu sebabnya, pemerintah berjuang sekuat tenaga untuk membebaskan sawit dari tekanan pasar global.

“Sektor kelapa sawit terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam Seminar bertajuk Menciptakan Industri Sawit yang Berkelanjutan, Rabu (31 Juli 2019), di Jakarta.

Turut hadir dalam seminar tersebut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Dirjen Agro Kemenperin Abdul Rochim, Ketua Gapki Joko Supriyono, Rosan Roeslani (Ketua Kadin Indonesia), dan Managing Director Sustainability and Strategic Stakeholder Engagement Golden Agri Resources Agus Purnomo.

Menurut Darmin, semenjak tahun 2000 hingga sekarang sektor kelapa sawit Indonesia membantu 10 juta penduduk Indonesia keluar dari garis kemiskinan. Tercatat, ada 1,3 juta orang yang hidup di pedesaan keluar dari garis kemiskinan secara langsung berkat kelapa sawit.

Baca Juga :   Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI (Bagian CLXXX)

“Daerah-daerah yang dominan kelapa sawitnya memiliki tingkat kemiskinan yang lebih rendah dibanding daerah lain. Konteks ini menunjukkan bahwa industri kelapa sawit berkontribusi terhadap pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals) 2030. Artinya, kita sejalan dengan dengan program PBB untuk menyejahterakan masyarakat,” terang Menko Darmin.

Sebagai industri padat karya, jutaan masyarakat pun bergantung pada sektor kelapa sawit. Industri perkebunan sawit mampu menyerap hingga 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 14,3 juta tenaga kerja tidak langsung, Sementara kebun sawit yang dikelola petani swadaya mampu menyerap 4,6 juta orang.

Joko Supriyono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengakui industri sawit menghadapi banyak tekanan di sejumlah negara terutama Eropa.

Data mencatat, total nilai ekspor produk sawit pada 2018 sebesar USD 17,89 miliar dan berkontribusi hingga 3,5% terhadap Produk Domestik Bruto. Dalam sektor ketahanan energi, penerapan kebijakan mandatori biodiesel dalam kurun waktu Agustus 2015 hingga 30 Juni 2018 mencatatkan penghematan devisa sebesar USD 2,52 miliar, atau setara Rp30 triliun.

Baca Juga :   Wajibkan B20, Indonesia Hemat Devisa Rp 28,4 Triliun

Tekanan yang dihadapi komoditas sawit tidak lepas dari kompetisi minyak nabati di pasar global. Dari aspek produktivitas, kelapa sawit mampu memproduksi 6-10 kali dibandingkan minyak nabati lainnya. Sebagai perbandingan, Soybean memiliki produktivitas 0,4 ton/ha, Sunflower 0,6 ton/ha, Rapseed Oil 0,7 ton/ha, sementara Kelapa Sawit 4 ton/ha.

Joko Supriyono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengakui industri sawit menghadapi banyak tekanan di sejumlah negara terutama Eropa. Pasalnya, negara pembeli mengajukan standar sawit yang melampui regulasi di Indonesia.

Selain itu dibandingkan komoditas perkebunan lainnya, Menko Darmin menganggap kelapa sawit memiliki keunggulan, mengingat sebagian besar dikelola perusahaan besar, maka perkebunan sawit didukung sektor Research and Development (R&D) yang memadai.

Baca Juga :   Peneliti Muda di Perkebunan Kelapa Sawit

“Ini bukan mengenai baik dan benar. Ini masalah keunikan bahwa R&D itu tidak berjalan di komoditas lain seperti karet dan kelapa yang didominasi oleh perkebunan rakyat,” papar Darmin Nasution.

Devisa yang kita peroleh dari ekspor kelapa sawit dan turunannya pun sudah ada pada angka USD 20 Miliar. “Jadi itulah situasinya. Kelapa sawit ini bukan main-main,” pungkas Menko Darmin.

13 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like