Berburu Sawit Di Kamerun: 13 Years and Many More to Come

(Pengalaman ini dikisahkan oleh Dr. Dwi Asmono)

“The activities were halted because of increased insecurity. The estate manager was killed by the rebels,” kata sahabatku beberapa hari lalu, menceritakan situasi di North West dan South West Cameroun.

Ingatanku melayang ke Bafaussam dan Bamenda Highland yang natural dan sangat indah dalam sebuah misi 13 tahun lalu dan beberapa perjalanan dinas sesudahnya. Seharusnya 2020 lalu, saya agendakan ke Kamerun; dan ada juga agenda tahun ini. Tapi situasi keamanan belum kondusif  di wilayah yang ingin kulihat di sekitar Ekondo-Titi dan Ekona. Saya menunda rencana, selain faktor  pandemic juga.

Bagi sebagian pemulia senior kelapa sawit Indonesia di antara Februari-Maret 2008, 13 tahun lalu adalah sejarah tak terlupa. Beberapa kali meeting karena pintu kerjasama Indonesia – Kamerun terbuka. Kulminasi dari perjalanan panjang yang memerlukan waktu lebih dari 10 tahun untuk mencari format kerjasama dengan Afrika dan Amerika Selatan dalam pertukaran plasma nutfah. Saya teringat setelah kembali dari Amerika Serikat pada  1998 harus wira-wiri melakukan beragam pendekatan dan meyakinkan para stakeholders perkebunan. Mempresentasikan konsep dan berdiskusi untuk menyakinkan kenapa kita harus memiliki darah-darah baru di kelapa sawit Indonesia.

Saya berkunjung ke Badan Litbang Pertanian, Komisi Plasma Nutfah Nasional dan universitas yang memiliki  pemulia handal. Bahkan negeri jiran yang telah blusukan ke lebih dari 15 negara di Afrika dan Amerika. Tentu saja, saya berdiskusi dengan pelaku industri yang memiliki riset perkebunan. After all, jika ada darah baru material genetik, bukan hanya jadi sekedar pajangan? Tapi harus dimanfaatkan, di-introgresi.

Beruntung ada Pak Achmad Mangga Barani—Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian saat itu—dan Pak Daud Dharsono—senior di industri perkelapasawitan. Beliau-beliau berkenan mendedikasikan waktu untuk menjadi leader dan mengawal kami-kami yang muda untuk leluasa bergerak. Melakukan pendekatan, memilih consulting expert, dan membahas segala sesuatu menyangkut aspek teknis maupun non-teknis.

Walaupun, Kamerun bukan negeri pertama di mana saya  terlibat dalam menjalin kerjasama; berada di Steering Committe Konsorsium Plasma Nutfah Kelapa Sawit merupakan pengalaman menarik bagiku. Langkah selanjutnya, meminta dukungan Kedubes RI di London, melobi CABI, meeting panjang dengan Dirjen IRAD dan Menteri Riset dan Inovasi (MINRESI) Kamerun.

Hal penting lainnya adalah menyambung pikiran dan hati dengan tim peneliti Kamerun; baik di CEREPAH La Dibamba Research Station dan Bamenda Highlands. Platform kerjasama yang akhirnya menjadi model saat menjalin kerjasama lain di Afrika dan Amerika Selatan.

Alhamdulillah, setelah 13 tahun berlalu jalinan tetap ada. Lebih dari 100 aksesi plasma nutfah kelapa sawit Kamerun saat ini ada di Indonesia, begitupun sebaliknya. Beberapa sudah dibuat hibridanya. Sejumlah perusahaan membangun aliansi bilateral. Termasuk menjalin ikatan hati dengan peneliti di Kamerun tetap terjaga.

Kamerun memang menambat. Jika ada yang sulit terlupa. Selain wild palm di remote area yang bersaing dengan ‘American type’ palm— sebutan petani untuk hibrida sawit DxP — adalah istirahat siang dan senyuman manis di Les Mangrove bantaran Wouri river, Douala. Cita rasa dinner khas Cameroun di Hilton Younde, dan jagung bakar di sejuknya Bamenda Highland.

 

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like