Benih Topaz Selalu Di Hati Petani

Asian Agri melalui unit bisnis PT Tunggal Yunus Estate memberikan perhatian besar kepada produktivitas petani. Salah satunya penyediaan benih unggul sebagai material tanaman.

Bagi petani sawit di Indonesia khususnya Riau, Benih Topaz sudah lama dikenal dan dipercaya sebagai bahan tanaman sawit. Pawito Saring Ketua  KUD Mulus Rahayu, menceritakan Benih Topaz menjadi andalan bagi anggota koperasi dalam program Peremajaan Sawit Rakyat.

“KUD Mulus Rahayu adalah koperasi petani kelapa sawit pertama yang menerima dana bantuan peremajaan dari pemerintah melalui BPDP-KS. Sekaligus melakukan peremajaan pertama pada April 2016,” urai Pawito.

Ia mengungkapkan panen perdana sudah dirasakan saat tanaman memasuki usia 28 bulan atau umur 2 tahun. Awalnya, target panen diperkirakan baru memasuki tahun ke-4.

“Panen bisa lebih cepat salah satunya didukung penggunaan Benih Topaz. Anggota KUD Mulus Rahayu merasa senang dengan hasil panen yang lebih cepat. Teknologi pembibitan PT OPRS Topaz telah membantu petani untuk meningkatkan produktivitas kebunnya,” jelasnya.

Pawito Saring mengatakan hasil panen kebun PSR lebih baik dan memberikan kesejahteraan lebih baik. Rata-rata hasil panen setiap bulan sebesar 4 ton per kavling. Sebelum diremajakan, petani hanya menghasilkan rerata 1-2 ton per bulan per kavling. Lantaran, usia tanaman sudah di atas 25 tahun.

Pengalaman serupa dirasakan anggota Asosiasi Petapahan Maju Bersama. Maskom Damanik, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petapahan Maju Bersama menceritakan bahwa Asosiasi Petapahan Maju telah bekerjasama dengan Asian Agri semenjak 2014. Saat itu Asosiasi Petapahan Maju Bersama dibina langsung dan dibantu dalam hal pupuk, perbaikan jalan, dan bagaimana cara mengurus kebun dengan prinsip berkelanjutan.

Bentuk pendampingan lainnya adalah mendukung penyaluran benih kelapa sawit. Asosiasi Petapahan Maju Bersama dan anggotanya semenjak lama telah menjadi pengguna benih Topaz.  Setelah menggunakan Benih Topaz, Maskom Damanik, mengakui produktivitas sawit anggotanya mengalami peningkatan. Pada 2016, kebun sawit Asosiasi Petapahan Maju Bersama panen yang menghasilkan 37,7 ton per hektar per tahun.

Prestasi lainnya adalah asosiasi meraih juara pertama lomba produktivitas yang diserahkan saat acara Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) yang digagas Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada 2018 di Bali.

Dari beragam prestasi inilah, Damanik berpesan supaya petani yang berencana meremajakan kebun untuk menggunakan bibit yang sudah terbukti dan teruji, seperti bibit Topaz.”Karena itulah Asosiasi Petapahan Maju bersama telah membuktikan sendiri sendiri sudah membuktikan sudah menanam selama 13 tahun dan hasilnya sangat memuaskan,” ujar Damanik.

Benih Topaz diproduksi oleh PT Tunggal Yunus Estate yang dikembangkan Oil Palm Research Station (OPRS) Topaz semenjak 1992. Oil Palm Research Station (OPRS) Topaz di tahun tersebut telah menyeleksi dan menyilangkan indukan Dura dan Pisiferater pilih dari Costa Rica. Tahun 1996-1998 OPRS Topaz memulai penanaman indukan dura dan pisifera terpilih di kebun benih Topaz dengan kombinasi persilangan generasi satu DxP.

Potensi produksi DxP Topaz dari hasil pengujian persilangan generasi satu selama 6 tahun menghasilkan (1999-2004) didapatkan potensi produksi 16 ton TBS/Ha pada Tanaman Menghasilkan 1 (TM1) dan rata-rata mencapai 31 ton TBS/Ha pada TM3 sampai dengan TM6 dengan potensi OER 22%.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 118)

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like