BASTA, Pengendali Gulma Non Sistemik

BASTA mempunyai kandungan bahan aktif amonium glufosinat untuk mengendalikan gulma di perkebunan. Produk herbisida buatan BASF Indonesia ini diklaim membantu efisiensi tenaga kerja dan peningkatan produktivitas.

PT BASF Distribution Indonesia (BASF) merupakan perusahaan penyalur produk chemical ternama. Beragam produk chemical didistribusikan, salah satunya chemical yang dapat mengendalikan gulma. Perusahaan ini, memiliki satu produk hesbisida yaitu BASTA dengan kandungan bahan aktif Amonium Glufosinat yang mampu mengendalikan gulma di perkebunan.

Seperti diketahui, Gulma menjadi salah satu organisme pengganggu tanaman utama sehingga harus dikendalikan. Herbisida BASTA di Indonesia sudah diaplikasikan pada sektor pertanian dan perkebunan sejak era 90an, saat itu dikomersilkan melalui PT. Bayer Indonesia. Namun sejak tahun lalu, BASTA resmi menjadi milik BASF setelah melalui proses akuisisi. Untuk dapat memahami bagaimana BASTA bereaksi mengendalikan gulma di perkebunan terutama di perkebunan kelapa sawit.

Country Head Agricultural Solution, PT BASF Ditribution Indonesia, Ganesh Pamugar Satyagraha menjelaskan pengendalian gulma pada tanaman kelapa sawit umumnya dilakukan pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan tanaman kelapa sawit yang baru proses (replanting) atau tanam ulang. “Pada tahap ini, tanaman memerlukan perhatian khusus sehingga penyemprotan herbisida dilakukan supaya tanaman utama tidak mengalami gangguan pertumbuhan,” kata Ganesh, saat ditemui tim Majalah Sawit Indonesia, di Jakarta.

Pada hamparan perkebunan sawit kerap ditemui beberapa jenis gulma di antaranya alang-alang (imperata cylindrica), putri malu (Mimosa pudica), teki ladang, babandotan dan tembelekan. Jenis gulma ini jika tidak dikendalikan maka bisa mempengaruhi pertumbuhan tanaman kelapa sawit.

Selanjutnya, Ganesh mengatakan pengendalian gulma dengan BASTA lebih pada konteks bukan pada pengendalian sistemik. Jika dilihat dari profil produknya, BASTA mempunyai keunggulan lebih kepada safety baik bagi pengguna (orang yang menyemprotkan) maupun bagi tanaman budidaya. BASTA tidak terlalu berdampak bila percikan semprotannya mengenai tanaman utama, ini relative lebih baik apabila dibandingkan dengan herbisida non selektif lainnya yang dampaknya lebih buruk buat tanaman utama,” tambahnya.

“Jika dibanding dengan produk herbisida lainnya, BASTA penetrasinya tidak sampai pada akar sehingga akar tanaman (gulma) masih tetap ada. Alhasil, dari sisi ekosistem tidak terganggu. Fungsi inilah yang menjadi keunggulan produk BASTA,” pungkas Ganesh.

Sejak masuk dan dikomersilkan di Indonesia, produk BASTA banyak diaplikasikan di perkebunan sawit dan hutan tanaman industri. Tentu agar pengendalian gulma di perkebunan sawit bisa optimal dosis penyemprotannya harus tepat.

“Secara umum, rata-rata 3-5 liter per hektar, namun dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan dan keadaan gulma yang ada. Jika menggunakan produk BASTA dengan konsentrasi tinggi akan mengurangi penggunaan air. Kami selalu mengampanyekan hal itu. Dan, kami juga memahami tidak semua lahan (tempat) ketersediaan air cukup sehingga butuh transfer air karena membutuhkan cost yang tinggi,” jelas Ganesh.

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia Edisi 92, 15Juni-15 Juli 2019)

6 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like