Banjir di Kalsel, APKASINDO Nilai Analisis LAPAN Bikin Ribet

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr (c). Ir. Gulat Manurung, MP.,C.APO, mememinta bencana banjir di Kalimantan Selatan tidak dijadikan upaya menyudutkan pemerintah dan mencari kesalahan.

“Seharusnya empati yang disampaikan dan solusi. Bukannya malah meributkan ini dan itu. Apalagi menyudutkan sawit sebagai salah satu penyebabnya. Seperti yang disampaikan oleh salah satu NGO, saya himbau jangan asal lempar statement. Kalau gak punya data kajian ilmiah,” ujar Gulat dalam sambungan telepon. .

Menurutnya, kelakuan NGO yang menyudutkan Presiden Jokowi saat berkunjung ke Kalimantan Selatan sangat keterlaluan. Sementara itu, masyarakat setempat menghargai kunjungan Presiden tersebut. “Ini penting dilakukan seorang kepala negara untuk memberikan instruksi langsung kepada semua stakeholder yang mengurusi bencana ini, supaya semua bekerja cepat dan proses pemulihannya terkordinasi,” ujar kandidat Doktor Lingkungan ini.

“Kalau menyalahkan sawit, saya ingin balik bertanya, apakah di Jakarta ada tanaman kelapa sawit. Padahal, Jakarta salah satu langganan banjir nasional  atau di Manado yang tertimpa bencana banjir di Manado tidak ada sawit,” ujar Gulat baIik bertanya.

Di Kalimantan Selatan luas perkebunan kelapa sawit 549 ribu hektar (Kementan 2019) atau sekitar 3,36% dari total luas sawit Indonesia. Sementara di Riau sudah mencapai 4,02 juta hektar (26%). Tapi di Riau jika musim hujan bukan tidak ada banjir, tapi masyarakat di Riau tidak langsung menyalahkan sawit. “Yang diperlukan saat ini  bagaimana memperbaiki dan meningkatkan peran serta konsep sawit berkelanjutan (sustainable) apalagi pemerintah sudah menerbitkan Inpres No 6 2019 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Sawit Berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, tidak usaha sektor kehutanan atau perkebunan lainnya yang berani membuat sertifikasi sustainable seperti sawit. Bagi kami petani yang mengelola 41% sawit di Indonesia tertantang dengan konsep RAN Sawit Berkelanjutan ini. Maka, petani berusaha untuk bisa mengikutinya. “Niat petani sawit ini harus dihormati oleh semua pihak, meskipun kami harus menempuh jalan panjang untuk menuju ke sana,” jelasnya.

Gulat juga merasa heran dengan pada pemberitaan yang merujuk informasi LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) justru menyimpulkan bahwa penyebab banjir adalah perkebunan. Dengan indikator area perkebunan meluas cukup signifikan 219.000 hektare dalam satu dekade di Kalimantan Selatan.

“Jika benar pernyataan resmi dari LAPAN, ini sudah melampaui wewenang LAPAN, karena LAPAN tidak mengurusi masalah lingkungan. Harusnya LAPAN cukup melakukan tugas sehingga tidak semakin  menyudutkan sektor perkebunan,” paparnya.

“Kalimantan Selatan adalah contoh kegagalan pengelolaan hutan di masa lalu. Lalu kenapa sawit disalahkan terus. Kita harus bersyukur dengan adanya sawit. Sawit itu pakai ilmu menanam, bukan ilmu menebang,” ujar Gulat yang juga Auditor ISPO ini.

Dari laporan anggotanya di Kalsel, menurut Gulat, banjir juga menyusahkan petani. Dampak banjir membuat kegiatan rotasi panen dan mobilisasi hasil panen menjadi terhenti. Begitupula rumah tinggal petani juga tergenang.

“Semua susah akibat banjir ini. Secara umum siklus pengiriman buah ke pabrik sawit akan terganggu setidaknya dalam  30 hari kedepan. Ini semua akan berdampak kepada semua lini,” pungkas Gulat.

Andikasruddin Rajamuda Ketua APKASINDO Sulawesi Barat menyatakan tidak ada hubungan antara sawit dengan banjir saat ini. Justru sawit yang menyelamatkan lingkungan akibat kecerobohan pemberian izin kepada perusahaan HTI yang menelantarkan izinnya. Setelah kayunya habis dibabat lalu dihijaukan dengan tanaman sawit.

“Faktanya masyarakat sejahtera dan ekonomi Indonesia bangkit  seperti masa pandemi ini,” ujar Andi.

Samsul Bahri, petani sawit yang juga Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Selatan menolak  tuduhan Walhi, LSM Lingkungan Hidup, yang menuding banjir akibat perkebunan sawit. Pasalnya, banyak pakar berpendapat bahwa banjir disebabkan tingginya curah hujan selama seminggu terakhir di Kalimantan Selatan.

“Walhi seenaknya tuduh kebun sawit penyebab banjir. Salah besar itu, tidak benar. Asal bicara saja (Walhi),” ujar Samsul yang tinggal di Pelaihari, Kalimantan Selatan.

Sementara itu, Dr.Ir. Arief Rahmad Maulana Akbar, M.Si., Wakil Dekan Akademik Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) menyatakan  tuduhan bahwa sawit penyebab banjir di Kalsel tidak mendasar karena lokasi banjir awal di daerah Pengaron, Kabupaten Banjar yang  paling awal terendan hampir sebulan dan di Kabupaten Banjar ini sangat sedikit sawitnya.

29 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like