AKPY – STIPER Yogyakarta: Pencetak Tenaga Siap Kerja Perkebunan Sawit

AKPY – STIPER Yogyakarta didirikan untuk menyiapkan tenaga ahli memiliki skill dan berpengetahuan, berijazah Diploma Satu (D1) atau Ahli Pratama Kelapa Sawitserta memiliki sertifikasi kompetensi.

Sulit dipungkiri, perkembangan industri sawit baik di hulu maupun hilir di Indonesia begitu pesat. Hal ini, disebabkan meningkatnya kebutuhan minyak sawit baik di dalam dan luar negeri. Namun, untuk menjaga produktivitasnya, sektor hulu industri sawit (red-perkebunan sawit) juga perlu diperhatikan.

Dapat dibayangkan, jika perkebunan sawit tidak dirawat dengan baik tentu produktivitas akan menurun sehingga akan sulit untuk memenuhi kebutuhan minyak sawit, baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk itu, diperlukan Lembaga Pendidikan yang fokus mencetak tenaga-tenaga ahli di bidang perkebunan sawit.

Saat ini, ada salah satu Pendidikan tinggi yang khusus menyiapkan tenaga ahli di bidang perkebunan,  termasuk perkebunan sawit. Yaitu Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY). Pendidikan tinggi ini, di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY), satu Yayasan dengan INSTIPER Yogyakarta yang memiliki alumni bekerja di Industri sawit mulai dari hulu hingga hilir.

AKPY-STIPER didirikan berdasarkan banyaknya permintaan pelatihan untuk memperoleh kader-kader atau calon tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit baik di estate maupun di Mill. Awalnya pelatihan operator Mill selama 9 bulan bagi calon operator mill dari PT Swakarsa Sinar Sentosa tahun 2011. Selanjutnya dilaksanakan pula pelatihan untuk estate atau mandor perkebunan dari perusahaan Astra Agro Lestari, berlanjut pelatihan program untuk Kerani dari PT Karyamas dan sebagainya.

Seluruh kegiatan pelatihan ini, sejak 2011 – 2017 dikelola INSTIPER. Dan mulai 2018, dipisahkan dengan didirikannya AKPY oleh Yayasan, dikhususkan untuk mengelola program Pendidikan dan pelatihan vokasi D1.

Direktur AKPY-STIPER Yogyakarta, Sri Gunawan mengutarakan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor perkebunan kelapa sawit sangat banyak. “Di perusahaan Perkebunan sawit tidak hanya jabatan Asisten Kebun, tetapi masih ada dudukan lain di bawahnya yaitu level Mandor, Mandor I, Kerani dan operator Mill,” ujarnya, saat dihubungi via telepon oleh tim redaksi Majalah Sawit Indonesia, pada awal Juli lalu.

Selanjutnya, Sri Gunawan yang akrab disapa Pak Gun, menambahkan pihaknya melihat ada peluang kebutuhan level Mandor lebih banyak dari Asisten Kebun. “Peluang Mandor kebun banyak dibutuhkan di perusahaan perkebunan,” ucapnya.

Sebelumnya, SDM pada posisi Mandor kebun diambil dari dari program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Mandor tersebut hanya mendapatkan pengetahuan dari Mandor-Mandor kebun yang sudah ada di perusahaan perkebunan (sistem tandem).

“Base-nya hanya mengikuti mandor yang sudah ada (bekerja), mandor tersebut bisa karena hanya mengikuti mandor yang sudah bekerja. Misalnya hanya menjalani rutinitas kegiatan merawat tanaman sawit seperti memupuk dan lain sebagainya,” tambah Direktur AKPY – STIPER Yogyakarta.

AKPY–STIPER Yogyakarta didirikan untuk menyiapkan tenaga ahli yang memiliki skill, berpengatahuan, ber-attitude dan bersertifikasi kompetensi dengan program Diploma I (D1). “Sebelumnya mendirikan program D1, kami sering melatih calon-calon karyawan yang nantinya bekerja di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan Mandor. Sifatnya hanya pelatihan, waktunya kurang dari satu tahun, yang dikelola dan dilaksanakan oleh INSTIPER Yogyakarta,” kata Gunawan.

AKPY – STIPER Yogyakarta secara resmi berdiri pada 2017 memiliki core kompetensi Kelapa Sawit dan Tebu. Saat ini, fokusnya hanya pada tiga program studi (Prodi) yaitu Prodi Pembibitan Kelapa Sawit, Prodi Perawatan Kelapa Sawit dan Prodi Pembibitan Tebu. Program Diploma I yang ditempuh selama 1 tahun untuk penguatan Kompetensi. “Kami memiliki Kompetensi Pembibitan Kelapa Sawit, Pemeliharaan Kelapa Sawit dan Pembibitan Tebu,” lanjut Gunawan.

Masing-masing prodi dirancang untuk menyiapkan SDM yang implementatif sebagai tenaga mandor, yang nantinya setelah menyelesaikan Pendidikan langsung ditempatkan di perusahaan-perusahaan, perkebunan sawit dan perusahaan tebu, dan Koperasi Unit Desa (KUD).

Praktik pembelajaran yang dijalankan mulai dari praktikum dalam laboratorium kampus, praktik kompetensi di kebun AKPY – STIPER dan magang di perusahaan. Sehingga dalam kurun waktu satu tahun mahasiswa memahami teori dan kegiatan yang dilakukan di dunia kerja. Untuk menunjang praktik kebun, mahasiswa AKPY – STIPER melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di kebun INSTIPER, yang berlokasi di  Ungaran, Jawa Tengah.

Namun, jika menilik pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), posisi mandor di perkebunan sawit harus menguasai kompetensi mulai dari pembukaan lahan hingga panen. “Maka dalam pembelajaraanya, kami mengacu pada SKKNI dengan membuat kurikulum Blok. Misalnya mempelajari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, perawatan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan perawatan Tanaman Menghasilkan (TM), proses pemanenan sawit , ISPO, Koperasi, semua kami berikan,” jelas, Sri Gunawan yang pernah menjabat Wakil Rektor I INSTIPER Yogyakarta.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 105)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like