Pembeli CSPO Gagal Penuhi Janji

Anggota RSPO – dari  sektor industri manufaktur dan konsumen  Uni Eropa– mengulur  waktu pembelian 100% minyak sawit bersertifikat (CSPO) sampai 2020. Walaupun target awalnya  pembelian CSPO bisa terealisasi pada tahun ini. Akan berakibat  RSPO ditinggalkan anggota dari  produsen sawit.

Janji anggota  RSPO dari negara Uni Eropa untuk menyerap  100% Certified Sustainable Palm Oil(CSPO) pada tahun ini, sama sekali tidak terbukti.  Sebelum tahun 2015, pembeli CSPO mengobral janji untuk membeli minyak sawit bersertifikat sampai 100%. Namun rencana ini dimentahkan kembali oleh kalangan pembeli yang berkumpul di RSPO European Roundtable pada 3 Juni di Amsterdam.

Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 280 peserta dari kalangan industri, NGO, dan para pemangku kepentingan. Dari forum ini lahir  kesepakatan untuk menyerap minyak sawit bersertifikat sebesar 100%.  Biswaranjan Sen, Co-chair of the RSPO Board of Governors and VP Chemicals Procurement & Supply Procurement Unilevermengatakan jika tidak ada perubahan signifikan RSPO akan ditinggalkan. Organisasi ini harus mengadopsi penyerapan CSPO lebih ambisius di semua negara.

Lebih lanjut kata Biswaranjan Sen, pembelian CSPO di Uni Eropa ditargetkan mencapai 100%, pembelian di Indonesia dan Malaysia sebesar 50%, India dipatok target 30% dan Tiongkok sebesar 10% pada 2020 mendatang.

 “Waktu sudah berubah dan harus melewati dari yang sekarang ini. RSPO butuh penerapan transformasi pasar di Uni Eropa dan kondisi global,” ujar Biswaranjan.

Edi Suhardi, Koordinator Indonesian Grower RSPO, mengaku kecewa dengan molornya waktu pembelian CSPO 100% yang seharusnya dijadwalkan tahun ini. Tetapi mundur menjadi lima tahun ke depan. Ada tiga kategori konsumen yaitu konsumen di Eropa  yang sudah maju dan hanya mau menerima standar RSPO plus, konsumen hanya meneriman standar RSPO, dan konsumen yang tidak peduli.

“Pasar Eropa tumbuh tetapi penyerapan minyak sawit bersertifikat sekitar 52% pada tahun lalu. Sayangnya tahun ini turun akibat pengaruh pertumbuhan ekonomi,” jelas Edi.

(Lebih lengkap baca Majalah  SAWIT INDONESIA Edisi Juni-Juli 2015)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.