Soedjai Kartasasmita: “Kalau Biodiesel Bisa Dikelola, Pasar CPO Dunia Mudah Kita Atur”

Pemerintah diminta serius dalam pengembangan biodiesel.Penyerapan biodiesel sebagai bahan bakar akan berpengaruh positif kepada harga minyak sawit. Jika, penggunaan biodiesel ditingkatkan maka pasokan CPO dari Indonesia akan berkurang. Alhasil, mampu memberikan dampak baik kepada harga.

Lulusan Advanced Management INSEAD ini mendukung program CPO Fund yang bertujuan membantu pendanaan subsidi biodiesel, promosi sawit, penelitian dan pendidikan. Yang menjadi tantangan bagaimana cara menghimpun dana ini sehingga dapat digunakan sesuai rencana penggunaan.

Selain itu, pecinta dunia fotografi ini sedang disibukkan dengan pembuatan konsep Museum Perkebunan. Nantinya, museum ini akan menampilkan sejarah sektor perkebunan di Indonesia sampai kepada perkembangn terakhir ini. Tim Redaksi SAWIT INDONESIA berkesempatan mewawancarai Soedjai Kartasasmita di kantornya yang berlokasi di Ragunan, Jakarta Selatan. Berikut ini petikan wawancara kami:

Bagaimana pendapat anda soal CPO fund?

Saya kebetulan waktu itu bertemu dengan Sofyan Djalil 6 Mei lalu, beliau banyak cerita mengenai ini.  Tujuan CPO Fund ini membantu subsidi untuk biodiesel disamping itu dibicarakan juga kalau dari dana ini akan dipergunakan untuk penelitian, untuk pendidikan, untuk promosi, dan saya  tambahkan juga waktu itu perlunya membantu petani kelapa sawit untuk replanting serta manajemennya. Jadi saya pikir ini baik-baik saja, dan bagus. Ketika bertemu dengan Dirjen Perkebunan  beliau bicara soal ini.

Banyak aspek positifnya tetapi yang menjadi permasalahan cara menghimpun dana supaya bisa dimanfaatkan agar sesuai dengan sasaran yang ditetapkan. Dan kita tahu prosedur di negara kita itu rumit sekali.

Secara umum anda mendukung adanya CPO fund?

Iya bagus kegiatan seperti riset, sebetulnya kalau kita punya kelapa sawit sebagai industri unggulan, harusnya risetnya juga harus unggul. Pendidikannya juga harus unggul. Saya setuju asal sesuai visi dan misinya. Kemudian untuk replanting kebun milik petani, karena ada petani plasma, petani mandiri.

Kalau menurut Dirjen Perkebunan ada lebih dari dua juta hektar harus direplanting dalam lima tahun ke depan. Kalau tidak dilakukan itu bisa dilihat ke depan produksi kita akan merosot. Jadi, kalau tidak salah 43 persen, areal kelapa sawit itu milik petani, nah kalau itu tidak diremajakan sudah bisa dipastikan merosot padahal kebutuhan akan minyak sawit terus meningkat.

Saran anda, sebaiknya bagaimana pengelolaan badan layanan umum?

Itu yang tadi disebut BLU, badan layanan umum. Pasti kalau bicara soal uang banyak yang ingin duduk di sana juga. Kalau bisa dicegah, sebaiknya profesional yang duduk di sana sehingga semuanya bisa kena sasaran.

Tanpa riset kita tidak akan maju. Coba bayangkan, kalau tidak ada minyak kelapa sawit, tak akan ada lipstik, sabun, es krim, cokelat jugaada yang dibuat dari minyak sawit, dan juga biodiesel tadi. Tapi biodiesel kalau mesinnya mobil tidak disesuaikan, atau kalau Pertamina agak enggan untuk menyalurkannya bagaimana?Jadi ini tidak bisa berdiri sendiri, harus menjadi satu sistem yang integratif.

(Lebih lengkap baca Majalah  SAWIT INDONESIA Edisi Juni-Juli 2015)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.