Nursani Mona Surya, Direktur Minanga Grup Belajar Banyak dari Organisasi

Mona Surya, nama yang sudah tidak asing lagi di telinga para pelaku industri sawit tanah air. Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) yang diselenggarakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), perhelatan konferensi sawit terbesar di dunia ini mempunyai peranan penting melambungkan namanya di industri sawit nasional dan internasional.Pasalnya, Ibu dari empat anak ini telah menjadi ketua panitia pelaksana selama empat  tahun berturut-turut.

Disela kesibukannya sebagai Ketua Panitia IPOC dan Direktur Minanga Grup, Mona Surya  masih tetap bisa mengatur waktunya dengan baik dan melakoni aktivitasnya dengan semangat.  Tim redaksi Majalah SAWIT INDONESIA mendapatkan kesempatan wawancara dengan Ibu yang penuh semangat ini  di kantor Minanga Grup yang terletak di Kebayoran Baru. Berikut ini petikan wawancaranya:

Sudah sejauh mana persiapan acara IPOC 2012?

Sejauh ini persiapan IPOC berjalan sesuai dengan rencana.Berbagai promosi telah dilaksanakan sesuai jadwal. Alhasil, hingga September, stand pameran telah terisi 57 booth dari total 69 booth, sisanya tinggal 12 booth lagi diperkirakan akan terisi sebelum acara dimulai pada November mendatang. Dengan branding yang kuat para peserta pameran sudah jauh hari memesan booth sehingga dalam waktu sebulan saja jumlah booth yang terisi sudah melebihi 80%.Panitia tidak perlu lagi kerja keras untuk mencari peserta seperti beberapa tahun lalu.Dari segi peserta juga selalu meningkat setiap tahunnya.Tahun lalu peserta yang hadir melebihi 1150-an orang.Tahun ini peserta diperkirakan akan meningkat hingga 1500 orang. 

Materi konferensi tahun ini lebih padat dan dengan substansi yang berbobot. Pembicara-pembicara terkenal secara internasional dan nasional juga dihadirkan sehingga konferensi ini akan sangat bermanfaat bagi para stakeholder sawit.

Untuk tahun ini, mengapa tema seminar yang diambil mengenai Palm Oil : Sustaining Growth, Expanding Trade ?

Untuk tahun ini, kami membahas materi mengenai tingkat populasi penduduk  dunia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tentu saja, pertumbuhan ini akan mendorong tingginya kebutuhan pangan dan energi pada 2025 nanti. Maka, masalah ini perlu didiskusikan kalangan pelaku industri dan  pemerintah supaya kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi. 

Selain itu, konferensi akan membahas tema sustainable di industri kelapa sawit.Berbicara peningkatan produktivitas tidak sebatas mendorong perluasan lahan saja, akan tetapi perlu juga diperhatikan faktor pendorong lain seperti teknologi dengan pertimbangan lahan yang sesuai untuk perkebunan sawit, begitu juga dengan aspek lingkungan.

Indonesia adalah penghasil CPO terbesar di dunia, tentu saja perluasan dagang juga perlu diperhatikan.Tahun ini konferensi juga membahas perluasan perdagangan minyak sawit dimana diharapkan “free and fair system” bisa dilaksanakan pada perluasan dagang di masa depan.

Hampir 9 tahun lebih, anda terlibat aktif sebagai pengurus GAPKI. Tentu, banyak pengalaman dan manfaat yang anda dapatkan. Apakah bisa diceritakan?

Aktif di GAPKI memberikan saya banyak pembelajaran dan pengalaman. GAPKI menjadi ruang untuk melakukan banyak hal seperti berdiskusi dan  belajar berorganisasi. Saya banyak berbagi pengalaman positif dalam pengelolaan perkebunan dengan rekan pengurus pelaku sawit.

Dari perkebunan besar kelapa sawit, saya dapat belajar bagaimana meningkatkan produktivitas, CSR, dan lingkungan. Semua itu kalau dipadukan menjadi satu akan sangat bagus sekali untuk diterapkan di perkebunan Minanga  Grup. Tentu saja, saya seleksi dulu hal yang positif dan  sesuai dengan  kondisi perusahaan. 

Bagi saya, GAPKI ini merupakan tempat untuk me-refresh pikiran dan aktualisasi diri. Jadi di  GAPKI ini, benar-benar kita berdebat, berteman sekaligus bekerja pula sehingga kondisinya  lebih dinamis. Paling utama, saya memiliki banyak  jaringan dengan orang, perusahaan dan lembaga lainnya karena sering mengikuti kegiatan internal dan eksternal.  

Sekarang ini berapa luas perkebunan sawit PT Minanga Ogan?

Luas lahan kelapa sawit kami di Sumatera Selatan dan Lampung mencapai 20.000 hektare dan satu pabrik kelapa sawit berkapasitas 60 ton TBS per jam. Sekarang ini, kami sedang melakukan perluasan lahan kelapa sawit di Kabupaten Kutai Timur di Bengalon dan Sangkulirang, Kalimantan Timur, luasnya diharapkan dapat mencapai 15.000  hektare.

Selain itu, kami sedang melakukan peremajaan/replanting lahan sawit seluas 2.250 hektare pada tahun ini. Tahun lalu, sudah dilakukan replanting seluas 2.162 hektare yang diperkirakan sudah mulai panen pada Maret 2013. Peremajaan ini sangatlah penting untuk meningkatkan produktivitas tanaman sawit kami karena usianya telah mencapai 25 tahun.

Kendala apa yang sekarang Ibu hadapi di perkebunan?

Masih banyak gangguan dari luar terhadap perkebunan sawit kami, walaupun status lahannya sudah jelas dan sudah ada Hak Guna Usaha (HGU). Sering ditemukan pihak-pihak yang menjadi provokator masyarakat untuk mengganggu perkebunan sawit, dan kondisi ini lumrah ditemukan di semua perusahaan perkebunan. 

Mereka pikir bisnis sawit itu keuntungannya banyak, padahal mereka tidak tahu betapa sulitnya mengelola usaha ini. Orang lain selalu menilai bisnis sawit itu untung terus, tetapi  tidak selalu begitu karena biaya pengelolaan yang mesti dikeluarkan juga tinggi. 

Bagaimana pandangan ibu industri kelapa sawit seperti saat ini. Apa pengaruh perusahaan kelapa sawit terhadap kehidupan masyarakat?

Perusahaan kelapa sawit sudah pasti memberikan kesempatan  lapangan kerja yang cukup luas kepada masyarakat. Hal ini membantu pemerintah yang sedang mendorong pelaku usaha supaya menyerap tenaga kerja seluas-luasnya. Selain itu, pengembangan lahan  sawit ini dapat mengoptimalkan penggunaan lahan yang belum berkembang.

Bagi petani plasma, mereka akan memperoleh  pendapatan dari lahan yang dikelolanya sehingga  meningkatkan kesejahteraannya. Keberadaan kebun sawit juga mendorong pembukaan sektor usaha lain seperti jasa, transportasi, dan telekomunikasi  di mana masyarakat tinggal,  yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi daerah dan berkontribusi terhadap pendapatan daerah. Contohnya saja, Kota Baturaja itu sebelum  industri kelapa sawit masuk, kegiatan perekonomiannya kurang bergerak tetapi setelah sawit masuk masyarakat mulai mendapatkan manfaat dari multi player effect dari perkebunan sawit. 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.