Marzan Aziz Iskandar, Kepala Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi (BPPT) : “Idealnya 1% dari Pemasukan Bea Keluar CPO untuk Riset Sawit”

Tanpa dukungan riset yang kuat, industri sawit akan semakin tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia. Pemerintah diminta untuk menyisihkan pemasukan dari bea ekspor CPO untuk kepentingan riset sawit. Dana ini dibutuhkan bagi pengembangan beragam produk turunan sawit dan menghasilkan data penelitian yang diperlukan guna menghadapi kampanye negatif di pasar global. 

BPPT dapat dijadikan ujung tombak dari aktivitas penelitian yang dapat bermanfaat bagi stakeholder sawit dan masyarakat pada umumnya. Berikut ini petikan wawancara tim redaksi kami dengan Marzan Iskandar, Kepala Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang terangkum dalam tanya jawab di bawah ini:
Bagaimana dukungan yang diberikan BPPT terhadap industri sawit nasional?

Untuk industri sawit, BPPT memang menaruh perhatian yang cukup besar dari hulu sampai industri hilirnya. Dukungan ini dibuktikan dengan banyaknya kegiatan kerjasama dengan produsen sawit itu sendiri. Kita tahu bahwa sawit memang andalan produk ekspor karena itu kontribusi BPPT termasuk ke dalam keseluruhan industri sawit harus dimulai dari hulu hingga hilir antara lain pembibitan, budidaya, hingga penanggulangan terhadap penyakit penyakit, panen, paska panen, bahkan di bidang pendidikan SDM sawit.

Apa saja riset dan inovasi yang telah dilaksanakan BPPT dalam industri sawit nasional?

Misalkan saja kita punya contoh untuk mendeteksi penyakit sawit ganoderma. Saat ini kita sedang bekerja sama dengan perusahaan untuk bisa mendeteksi secara dini kalau ada gejala penyakit ganoderma. Selama ini ganoderma baru bisa dikenali setelah berusia sekian tahun, sekarang dengan usia yang tidak sampai lima bulan kita sudah bisa deteksi. Sehingga sudah terdeteksi terkena ganoderma sebaiknya harus dimusnahkan dan kemudian diganti dalam usia dini.

Juga dari sektor energi kita juga sudah mempersiapkan desain pabrik biodiesel dari kelapa sawit itu sudah disempurnakan menjadi lebih efisien, lebih kecil untuk kapasitas yang sama kemudian tidak butuh banyak air. Bahkan kita sedang mempersiapkan pabrik biodiesel generasi kedua yaitu biorefineri yang bahan bakunya itu tidak hanya CPO tapi semua biomassa. Jika berhasil artinya bahan baku biofuel bukan hanya CPO melainkan pula cangkang kelapa sawit. Produk turunan untuk sumber energi yang akan dihasilkan adalah bioavtur, biokerosin termasuk biodiesel.

Saat ini, kami sedang mengembangkan pula teknopolitan yaitu sebuah kawasan yang aktivitasnya berbasis sawit. Teknopolitan ini sedang dipersiapkan di daerah Pelalawan, Riau lewat kerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Kawasan ini seperti centre of excellent seluruh kegiatan terpusat disini seperti aktivitas pendidikan, kegiatan riset pengembangan dan bisnisnya.

Kawasan teknopolitan ini baru di tahap awal di mana sudah ada lahan yang dibebaskan sekitar 3.700 hektare, di mana kegiatan pendidikannya sudah dipersiapkan. Dan teknopolitan ini diharapkan menjadi basis kelapa sawit yang menyeluruh sehingga semua potensi bisnis tumbuh di sana.

Apa yang diharapkan dari pembangunan teknopolitan tersebut?

Kami harapkan semacam komunitas akademi yang berbasis sawit yang aktivitasnya berkaitan dengan kelapa sawit. Teknopolitan ini bertujuan mempercepat pertumbuhan industri sawit. Bukan hanya dari segi agronya melainkan harus mendorong bisnisnya supaya kuat. Apabila memungkinkan dapat dibentuk sebuah Dewan Kelapa Sawit Indonesia (Indonesia/National Palm Oil Research Council) yang berisi seluruh peneliti kelapa sawit yang berasal dari berbagai instansi dan industri riset di Indonesia.

Sejauh ini, apakah BPPT sudah membuat pemetaan terhadap jenis produk turunan apa saja yang dihasilkan dari sawit?

Sudah dilakukan sebuah pemetaan yang berasal dari berbagai macam jenis produk turunannya. Namun, masih sedikit sekali yang kami kerjakan. Banyak yang mengatakan bahwa kalau kita bermain di produk turunan itu keuntungan dan margin kecil sedangkan jualan CPO itu lebih menguntungkan. Harus diakui kondisi ini memang diciptakan oleh kompetitor kita. Perlu disadari jika dilakukan pengelolaan yang kurang tepat begitupula dengan kebijakannya, maka industri sawit dalam negeri akan akan tetap stagnan.

Dari pengalaman Bapak, sudah sejauh mana riset kelapa sawit di Indonesia tertinggal dari negara lain misalnya Malaysia?

Mesti diakui, Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, yang dapat dilihat dari hasil paten, publikasi internasional, dan ragam produk hasil riset. Faktor utama penyebabnya adalah alokasi dana riset yang mencukupi karena Malaysia ditopang ketersediaan dana diperoleh berdasarkan ton CPO yang dihasilkan sehingga kebutuhan riset tercapai.

Oleh karena itu, kebijakan alokasi anggaran sebaiknya dialokasikan secara proporsional. Solusinya, pemerintah menyisihkan pendapatan negara dari bea ekspor untuk kepentingan penelitian kelapa sawit seperti yang dilakukan Malaysia. Kalau saja, dialokasikan 1% dari setiap bea keluar CPO untuk riset, maka riset di Indonesia akan sangat kompetitif. Apalagi kalau dikelola khusus misalnya dibawah Dewan Kelapa Sawit Indonesia.

BPPT sangat menyakini riset dibutuhkan sebagai ujung tombak kemajuan industry. Tanpa adanya riset ya kita tinggal tunggu aja sebentar lagi orang-orang akan mengubur kita.

Sebagai badan pengembangan teknologi dibawah pemerintah, bagaimana upaya BPPT dalam membangun kerjasama riset dengan lembaga lain?

Dalam pandangan saya komunikasi yang perlu ditingkatkan antara kalangan industri, akademisi, peneliti, perekayasa, dan pemerintah dengan memfasilitasi dan mengkonfigurasi kebijakan. Langkah ini ditempuh guna meningkatkan peranan kelapa sawit untuk bisa dioptimalkan dalam lokomotif perkembangan ekonomi Indonesia.

Sebab, masih banyak sekali yang dapat dikembangkan dari produk berbasis sawit sehingga membutuhkan optimalisasi komunikasi dan koordinasi.
Meskipun, kita akui bahwa BPPT belum mampu mendukung secara keseluruhan tetapi fitur lengkapnya terkait seperti apa yang diinginkan industri sawit nasional dan sistematik support itu sebenarnya belum ketemu. Hanya kita memang membutuhkan bantuan dan diperlukan grand design yang belum kita dapatkan.

Industri kelapa sawit menghadapi tekanan kampanye negatif di pasar global. Apa yang dapat BPPT bantu untuk melawan kampanye tersebut ?

Tentang black campaign, dapat dilakukan penelitian pengukuran pengaruh yang kuantitatif mengenai nilai dari efek rumah gas kaca atau green house effect dan tingkat keluaran emisi karbon. Dengan demikian bisa dilihat apakah industri sawit ini bisa sustainable maupun feasible baik secara ekonomi maupun lingkungan.

Sebenarnya, kampanye negatif ini juga bagian dari persaingan dagang. Upaya terbaik dalam memenangkan kompetisi dagang maka perlu disampaikan bukti fakta penelitian bahwa sawit itu tidak seperti yang dikampanyekan NGO selama ini. Tapi yang namanya dagang ya mereka punya data tentu kita juga harus punya data. Lebih strategis lagi disiapkan rencana cadangan, umpamanya orang ini protes apa ya sudah tidak usah kita ekspor biodiesel sekalian jadi digunakan untuk kebutuhan dalam negeri sendiri. Alhasil, akan mengurangi impor solar juga.

Pemerintah sedang membangun kebijakan mandatori biodiesel, bagaimana pandangan bapak melihat potensi biodiesel di masa mendatang?

Mandatori ini akan menambah konsumsi maupun produksi CPO secara nasional. Pada 2013 ini, target yang dapat dipenuhi sekitar 1,3 juta kilo liter per tahun yang selanjutnya berpotensi naik pada 2016 menjadi 1,6 juta untuk tambahan kebutuhannya dalam negeri. Masalahnya sekarang terletak kepada harga karena harga biodiesel berkisar Rp 11.000 per liter yang lebih tinggi dari harga solar sebesar Rp 5.500 per liter. Dengan harga sebesar itu mau diberi harga berapa produk biodiesel.

Solusi BPPT yang diusulkan dengan membuat perkebunan sawit untuk sektor energi yang memang didedikasikan dalam menghasilkan biodiesel. Bisa saja BUMN yang berkewajiban membuka lahan yang produksi CPO-nya ditujukan khusus kepada produk biodiesel sehingga harganya flat dan bisa dikontrol.

Anda selaku ketua BPPT sendiri ingin membawa lembaga ini dengan visi misi seperti apa?

BPPT ini harus bisa memaksimalkan pemanfaatan teknologi dengan tujuan hasil penelitian kami bermanfaat. Kegiatan riset ini harus menggandeng mitra dan tidak bisa dikerjakan sendiri sehingga , harus bermitra dengan lembaga pemerintah lainnya. Dan kita ingin mempromosikan kegiatan riset dan pengembangan itu ke dalam industri karena itu salah satu indikatornya adalah semakin banyaknya industri yang bermitra dengan BPPT.

Visi BPPT menjadi pusat keunggulan yang mengutamakan kemitraan lewat optimalisasi pemanfaatan teknologi. Prinsip kami ini yaitu 100-20-25 berarti 100 persen kegiatan kita riset pengembangan dan perekayasaan itu harus bermanfaat, 50 persen anggaran kita harus kita peroleh dari mitra, dan itu akan kita capai pada tahun 2025. (Anggar Septiadi)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.