Ir. H. Agus Ambo Djiwa, Mp, Bupati Mamuju Utara : Investasi Masuk Masyarakat Sejahtera

Dengan semangat dan keinginan kuat memajukan daerah, Agus Ambo Djiwa berusaha menjadikan Mamuju Utara sebagai kabupaten yang tumbuh dan bermanfaat bagi masyarakatnya. Kegiatan bisnis perkebunan kelapa sawit menjadi penopang perekonomian kabupaten ini.

Kabupaten Mamuju Utara sedang berbenah dan membangun infrastrukturnya. Bagi masyarakat pengguna jalur darat Trans Sulawesi akan melihat pesatnya kemajuan daerah Mamuju Utara yang beribukota di Pasangkayu. “Daerah ini dulu masih sepi dari warung-warung makan dan cukup ditakuti karena rawan kriminalitas. Tetapi sekarang sudah berubah ,” kata Reny Sri Ayu, wartawan Harian Kompas yang bertugas di Sulawesi.
Ketika dalam perjalanan peliputan ke perkebunan sawit milik Astra Agro, Jurnalis Majalah SAWIT Indonesia bersama dengan tiga jurnalis koran nasional yaitu Bambang

Supriyanto (Bisnis Indonesia), Reny Sri Ayu (Kompas), dan Wahyu Utomo (Jurnal Nasional), melihat tugu bundaran di pusat kota yang sekilas berbentuk pohon sawit. Tugu ini sedang proses pembangunan yang dapat terlihat dari belum sempurnanya beberapa bagian tugu.

Namun demikian, sangatlah menarik melihat tugu yang berbentuk pohon sawit ini. Umumnya, tugu di dalam sebuah kota, kabupaten atau provinsi mewakili kisah perjalanan dari awal berdirinya daerah tersebut. Beruntung kami dapat bertemu Agus Ambo Djiwa, Bupati Mamuju Utara periode 2010-2015, sehingga dapat mengajukan beberapa pertanyaan mengenai perkembangan kabupaten seluas 3.043,75 Km2 ini.

Pertemuan dengan Bupati kelahiran Pasangkayu, 47 tahun silam, dilakukan di sela-sela kesibukannya. Kendati harus menunggu setengah jam lamanya di ruangan kerjanya. Tetapi Agus Ambo Djiwa bersedia untuk diwawancarai seputar perkembangan daerahnya.

Agus Ambo Djiwa menceritakan salah satu alasan mengapa tugu kabupaten berbentuk kelapa sawit lantaran sektor utama penggerak ekonominya berasal dari perkebunan sawit. Kelapa sawit memang memiliki pengaruh besar untuk meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat dari Rp 9 juta menjadi Rp 20 juta per kapita. Peningkatan ini terjadi selama 3-4 tahun lamanya,” kata Ketua PDI-P Sulawesi Barat ini.
Di Mamuju Utara, luas perkebunan kelapa sawit mencapai 100 ribu hektare termasuk milik masyarakat. Ada dua grup besar perusahaan sawit di daerah ini yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk dan PT Unggul Widya Lestari.

Sekarang, kata Agus Ambo Djiwa, masyarakat cenderung memilih kelapa sawit sebagai tanaman utama ketimbang kakao dan kelapa. Karena, kakao rentan terkena serangan penyakit sementara kelapa sawit tergolong tanaman yang tahan hama penyakit. Faktor menarik lainnya adalah tanaman ini cepat berbuah dalam waktu 3 tahun. Luas tanaman kakao di kabupaten tersebut sekitar 42 ribu hektare dan kelapa seluas 10 ribu hektare.

Menurut lulusan S-2 Universitas Hasanuddin Makasar ini, perkebunan kelapa sawit berpengaruh besar dalam meningkatkan laju perekonomian daerah dari 7% pada tiga tahun lalu menjadi 14%. Faktor penggerak utama berasal perekonomian rakyat terutama petani sawit. Angka pengangguran berhasil ditekan menjadi 5% dalam kurun empat tahun terakhir ini.

Reynold, Ketua Lembaga Keuangan Mikro Mitra Surya Sejahtera, mengakui perputaran duit yang dihasilkan petani plasma di PT Letawa dapat mencapai Rp 30 miliar per bulan. Rata-rata penghasilan petani dapat mencapai sekitar Rp 3 juta per kavling atau dua hektare.
Melihat besarnya pengaruh kelapa sawit terhadap perekonomian daerah, Agus Ambo Djiwa berkomitmen untuk melayani dan melindungi investasi kelapa sawit yang masuk ke daerahnya. Apalagi tanaman kelapa sawit menjadi sumber penghidupan masyarakat Mamuju Utara yang berjumlah 215.345 jiwa ini. “Jadi perputaran uang di sawit itu cepat sekali dan hasilnya maksimal,” ujar ayah empat anak ini.

Dengan perputaran uang yang sedemikian besar di daerah tersebut mendorong tumbuhnya perbankan di kabupaten ini. Menurut Agus Ambo Djiwa, sekarang ini sudah ada beberapa bank yang telah membuat kantor cabang antara lain Bank Mandiri, Bank BRI, Bank BNI, dan Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
“Sudah ada perbankan yang masuk ke sini semenjak tiga tahun terakhir. Kehadiran bank ini sangat membantu petani sawit yang tadinya simpan uang di Palu tetapi saat ini dapat menaruh uangnya di Mamuju Utara. Boleh dikatakan, ekonomi masyarakat kami sudah bagus dan lebih maju,” kata Agus Ambo.

Untuk mendongkrak kegiatan perekonomian, pemerintah daerah Mamuju Utara dibawah kepemimpinan Agus Ambo Djiwa menjamin kelancaran arus investasi yang masuk ke daerahnya. Itu sebabnya, perusahaan skala besar seperti Astra Agro lebih memilih daerah ini untuk dijadikan lokasi pembangunan refineri minyak goreng. Refineri ini dibawah pengelolaan PT Tanjung Sarana Lestari ini sudah diresmikan Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Perekonomian, pada awal Februari 2014.

Rencananya refineri akan beroperasi dengan kapasitas 2.000 ton per hari yang berlokasi di Desa Ako, Kecamatan Pasangkayu. Sumber bahan baku minyak sawit akan dipasok dari perkebunan kelapa sawit yang berada di Sulawesi, selain didatangkan pula dari Kalimantan. Agus Ambo Djiwa menyambut baik beroperasinya hasil produksi refineri dalam bentuk minyak goreng. Lantaran, kegiatan refineri ini berpotensi mendorong perekonomian daerah setempat terutama masyarakat.

Guna mendukung kegiatan bisnis di daerahnya, menurut Agus Ambo Djiwa, pihaknya sedang menyelesaikan akses jalan raya di daerahnya, yang masih kurang bagus. Untuk saat ini, seluruh desa dan kecamatan di Mamuju Utara sudah terhubung dengan jalan raya sehingga mempermudah arus transportasi.

Selain akses darat, pemerintah daerah setempat mengkaji pembangunan bandara udara. Agus Ambo Djiwa mengatakan studi penjajakan bandara udara masih dilakukan dengan mengambil lokasi di daerah Tikke. Keberadaan bandara udara ini sangatlah membantu masyarakat dan investor setempat dalam melakukan perjalanan. Sebagai gambaran, Kabupaten Mamuju Utara terletak 719 kilometer dari Makasar, ibukota Sulawesi Selatan. Kalau dari Palu, ibukota Sulawesi Tengah, jaraknya mencapai 130 kilometer, waktu tempuh sekitar 3-4 jam. Bahkan dari Mamuju, ibukota Sulawesi Barat, menuju ke Mamuju Utara menghabiskan waktu sampai lima jam.

Pada 2014, Anggaran Pemasukan dan Belanja Daerah (APBD) Mamuju Utara mencapai Rp 529 miliar dan pada 2013 berjumlah sekitar Rp 409 miliar. Meski demikian, pendapatan asli daerah masih terbilang rendah sekitar Rp 14 miliar.

Kendati memberikan karpet merah kepada investor, tetapi Agus Ambo Djiwa tidak ingin memanfaatkan jabatannya demi kepentingan bisnis. Bagi pelaku bisnis yang tertarik menanamkan modal di Mamuju Utara, disarankan untuk datang sendiri dan audiensi dengan jajarannya.

“Saya enggan kalau diundang investor untuk membicarakan penanaman modal. Jika berminat, silakan datang langsung kesini,” papar Agus Ambo Djiwa.
Dengan visi menjadikan Mamuju Utara yang Sejahtera, Mandiri dan Bermartabat (Smart), Agus Ambo Djiwa berupaya mengejar ketertinggalannya dari kabupaten lain di Provinsi Sulawesi Barat. Salah satu upayanya memberikan kesempatan kepada perusahaan kelapa sawit, lantaran potensi lahan di daerah ini masih sekitar 200 ribu hektare. Sehingga memberikan peluang bagi daerah dan masyarakat setempat untuk berkembang lebih maju dan tumbuh positif. (Qayuum Amri)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.