Debby Pane, Direktur PT Herfinta Farm &Plantation : Kelola Bisnis Sawit Butuh Insting Kuat

Campur tangan Tuhan erat kaitannya dengan maju mundurnya bisnis perusahaan. Falsafah ini sangat diyakini oleh Debby Pane, Direktur PT Herfinta Farm&Plantation. Keyakinan ini tidak terlepas dari pengalaman Ibu tiga anak ini yang menghadapi anjloknya harga CPO dunia pada 2008. Kala itu, jatuhnya harga CPO telah diantisipasi Debby Pane lewat kebijakan “bersih tanki” sebelum harga CPO terjun bebas ke level terendah.

Mengelola perusahaan keluarga merupakan sebuah tantangan.Debby Pane berupaya menerapkan pola Good Corporate Governance (GCG) untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Alasan lain, apabila sewaktu-waktu perusahaan berkeinginan masuk bursa saham telah siap dari aspek manajemen dan SDM. Tim Redaksi SAWIT INDONESIA berkesempatan mewawancarai Debby Pane di kantornya yang berlokasi di Pondok Indah, Jakarta Selatan.Tujuan wawancara ini dilakukan guna menyambut Hari Ibu Kartini yang jatuh 21 April.Dengan harapan pemikirannya dapat menginspirasi kaum perempuan lain. Berikut ini petikan wawancara kami :

Industri sawit dominan melibatkan kalangan pria sebagai tenaga kerjanya.Apakah Ibu tidak canggung mengelola perusahaan sawit?

Berbicara industri perkebunan adalah industri yang padat karya. Mesti diakui, industri menyerap tenaga kerja banyak sekali dan melibatkan orang mulai dari aktivitas pembibitan, perawatan, sampai ke kantor pusat. Sejauh ini, industri sawit telah dibangun semenjak dulu yang dominan dikerjakan kalangan pria. Anggapan kelapa sawit ini dunia maskulin adalah anggapan banyak orang.

Namun demikian, kehadiran wanita tetap diperlukan untuk memberikan warna di industri sawit indonesia ini.Sesungguhnya mengelola manajemen yang baik itu ibarat seni. Disinilah, peran wanita sangat dibutuhkan karena memiliki kelembutan dan insting seni yang baik sehingga berperan penting di aspek manajemen.

Di kebun, kalau terlalu lembut akan sulit mengatur orang. Bagaimana cara Ibu mensiasatinya?

Harus diakui tantangan budaya sebab ada penilaian wanita itu tahu apa. Beragamnya pegawai yang bekerja dari bawah ke atas memerlukan pengelolaan yang benar.Disinilah butuh sebuah ketegasan.Bukan berarti sisi kelembutan yang ditonjolkan karena dibalik kelembutan tersembunyi kekuatan. Maka, ketegasan itu mesti dipakai apalagi di zaman sekarang.

Apalagi upaya lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan semangat kerja karyawan?

Selain rutinitas di kantor seperti biasa. Saya seringturun ke lapangan dan ketika turun di lapangan mengajak komunikasi karyawan. Dalam industri ini, masih ada sisa warisan budaya feodalisme Belanda dimana bos adalah orang yang sangat berpengaruh/berkuasa.Sehingga pada saat saya berkunjung kelapangan penting untuk saya bertegur sapa dengan mereka menanyakan apakabarnya, apakah senang bekerja di perusahaan ini, dan apakah yang bisa perusahaan lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.Biasanya mereka, khususnya dilapisan paling bawah senang sekali bila ditegur sapa dan diberi kesempatan untuk memberikan masukan

Mulai kapan Ibu bekerjadi perusahaan sawit ?

Saya bekerja sejak tahun 1998 ketika krisis ekonomi datang. Namun sedari kecil, almarhum ayah saya sudah sering mengajak ke perkebunan sawit Herfinta.Disitu saya melihat pekerja yang beraktivitas di kegiatan pembibitan dan hasil pembibitan yang dipindahkan ke kebun.Di Herfinta, saya ditempatkan sebagai kasir yang berkantor di perkebunan langsung. Bekerja selama 2-3 tahun di kebun, kemudian saya dipindahkan ke kantor pusat di Medan.

Dalam mengelola bisnis sekarang ini, apakah ada pelajaran dan filosofi yang dipelajari dari almarhum Ayah?

Yang perlu diperhatikan adalah tanamannya.Lalu, harus diperhatikan masalah kesejahteraan karyawan supaya dapat mengurus tanaman. Dulu almarhum ayah berupaya menyediakan kesejahteraan karyawan dengan baik dan saya berusaha melanjutkan hal tersebut sebagai amanah. Perusahaan berharap dengan memberi kesejahteraan yang baik maka karyawan yang baik pun akan bertahan bekerja di perusahaan ini.

Filosofi dari ayah saya yang tetap dijalankan sampai sekarang adalah DJALAL.DJALAL ini singkatan dari Disiplin, Jujur, Amanah, Loyal, Andal, Lestari.Seperti nama ayah saya Djalaluddin Pane, pendiri PT Herfinta Farm&Plantation. Perusahaan tepatnya berdiri pada 1984.

Bisa diceritakan awal mula berdirinya PT Herfinta Farm&Plantation?

Pak Djalaluddin Pane mulai membangun bisnis setelah pensiun dari jabatan Bupati Labuhan Batu. Almarhum ini ibarat Kolonel Sanders, pendiri restoran cepat saji Kentucky Fried Chicken, yang membangun bisnis di usia senja. Kata orang, waktu pensiun sebaiknya hidup tenang-tenang saja. Tapi beliau memikirkan apalagi yang bisa dikerjakan, barulah dua tahun berikutnya memutuskan untuk membuka lahan sawit. Hebatnya, beliau tidak berbisnis ketika masih menjadi bupati tetapi sesudah selesai masa jabatannya.
Pembangunan lahan pertama awalnya 25 hektare, lalu berkembang menjadi 300 hektare. Sampai tahun ini, lahan perkebunan sawit PT Herfinta Farm & Plantation seluas 12 ribu hektare. Terdiri dari 6000 hektare di Sumatera Utara dan 6000 hektare di perbatasan antara Bengkulu dengan Sumatera Barat.

PT Herfinta telah berkembang 30 tahun lamanya.Apakah ada pengalaman menarik yang pernah dialami?

Ketika krisis ekonomi terjadi tahun 1998, Pak Djaludin Pane membangun pabrik sawit berkapasitas 30 ton TBS per jam.Ditengah situasi krisis ini, tidak ada bank yang mau kasih pinjaman. Akhirnya sebagai modal awal, kami gunakan tabungan untuk mendanai pabrik ini. Sudah setengah jalan, baru ada pinjaman yang diberikan Bank Exim.Harus diakui naluri bisnis bapak bagus sekali ketika dikasih pinjaman dalam bentuk dolar dan rupiah. Bapak memilih segera selesaikan pinjaman dolar karena saat itu masih di kurs Rp 3.000.Ternyata benar tak berapa lama dolar melambung menjadi Rp 18.000.Alhamdulillah, pinjaman dolar cepat dilunasi.

Selesai pembangunan pabrik sekitar tahun 1999, harga minyak sawit melonjak dari Rp 2.000 per kilogram menjadi Rp 5000 per kilogram. Bagi kami yang perusahaan kecil, berkah sekali karena suku bunga pinjaman untuk pabrik tinggisekali sehingga membantu pengembaliannya.

Dalam pandangan ayah saya, setiap ada keuntungan digunakan untuk ekspansi lahan baru.Waktu itu kami tinjau beberapa kabupaten akhirnya diputuskan membuka kebun di daerah perbatasan antara Bengkulu Utara dan Sumatera Barat.Wilayahnya berada di Kabupaten Muko-muko.Pertama kami bangun pabrik sawit berkapasitas 30 ton TBS per jam dulu disana karena masih sedikitnya jumlah pabrik sawit.Tujuannya membantu masyarakat petani setempat yang jual buah sawit dan memicu kegiatan perekonomian.Setelah itu, lahan sawit baru dibuka.

Pesan almarhum yang selalu saya ingat adalah kehadiran bisnis Herfinta ini diharapkan mampu memicu kegiatan perekonomian.Di sekitar kebun kami, perkembangan ekonomi berjalan baik. Kesejahteraan masyarakat juga meningkat, beberapa kali saya berjumpa masyarakat yang mengabarkan anak mereka telah lulus sekolah. Industri sawit ini luar biasa sekali karena mendatangkan banyak keberkahan.

Sebenarnya, cita-cita Ibu ingin menjadi apa? Apakah dari awal sudah berkeinginan terjun di bisnis sawit?

Minat saya menjadi dokter anak.Waktu itu, saya ikut program pertukaran pelajaran pada tahun 1990-an, di tingkat SMA.Pulang ke Indonesia, saya mendaftar ke fakultas Kedokteran.Lantaran, ada kendala administrasi ijazah akhirnya tidak bisa masuk. Lalu, saya pilih Teknik Sipil di Universitas Trisakti.

Selesai kuliah, sebenarnya ingin melanjutkan program S-2. Tapi, Bapak memaksa saya bekerja di Herfinta. Menurutnya,”Rasakan bekerja dulu baru ambil kuliah S-2”. Program S-2 saya lanjutkan di Illinois University studi strategi bisnis pada 2006.

Beruntung, Bapak mengajarkan kedisplinan kepada saya yang itu sangat berguna sampai sekarang.Bertahun-tahun, bekerja di perusahaan sawit membuat saya mampu membaca pergerakan harga CPO.

Ibu punya pengalaman menarik dalam membaca harga CPO?

Pada 2008, orang bilang jangan jual cpo tunggu sampai Rp 12 ribu per kilogram. Banyak teman sarankan; “Tahan aja Deb, tunggu harga di level tertinggi”. Namun, saya nekat melawan arus istilahnya bersih tanki. Sewaktu harga di titik sekitar Rp 10.000/kg, stok CPO di tanki dijual semua. Insting saya bilang harga CPO tidak akan melewati titik harga tersebut. Ternyata benar, harga CPO merosot tajam dan tidak mencapai Rp 12.000 per kilogram.

Dalam bekerja, saya selalu mendengarkan hati.Inilah bedanya wanita dengan pria dalam bekerja, rata-rata wanita tidak lepas dari intuisi.Boleh dikatakan, penggunaan insting ini menjadi kelebihan wanita.Sementara pria lebih banyak memakai logika. Satu hal yang saya yakini pula bahwa campur tangan Tuhan tidak bisa dilepaskan.

Pastinya, insting ini sangat berguna bagi Ibu dalam mengelola perusahaan. Ada pengalaman lain?

Pengalaman lain, tim saya meragukan dapat capai target pendapatan di tahun lalu. Namun,saya memotivasi mereka bahwa target dapat terealisasi. Insting saya mengatakan akan dapat melampui target, ternyata benar apa yang saya perhitungkan. Memang di tahun lalu, banyak faktor penghambat dialami industri sawit seperti cuaca buruk dan replanting tanaman tua.

Tapi, karyawan saya kurang memperhatikan pergerakan harga CPO yang reli di akhir tahun.Ternyata, harga naik cukup tinggi disitu saya menggenjot target pendapatan.Dalam pikiran asalkan niat baik mau belajar dan dengarkan suara hati serta tetap berikhtiar, maka tantangan apapun Insyallah dapat dilewati.

Apa yang membuat Ibu mempunyai passion mengelola Herfinta?

Passion saya muncul karena senang interaksi dengan beragam orang di perkebunan sawit. Terutama, berbicara dengan masyarakat yang bangga mengatakan anaknya lulus SMP dan SMA,ini yang membuat senang sekali. Bagi kami, Herfinta hadir di negeri ini bukan saja menciptakan kesejahteraan untuk internal. Melainkan memberi manfaat kepada masyarakat juga. Oleh karena itu, berdirilah Yayasan Pendidikan lewat Djalaluddin Pane Foundation.Salah satu kegiatannya meningkatkan kualitas guru khususnya di daerah Labuhan Batu. Guru ini memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas generasi berikutnya.

Kami buka lapangan pekerjaan untuk warga dan memberikan kesempatan untuk orang lain. Bagi saya bisnis speerti ini sesuai dengan keinginan saya.Saya ajak kepada tim supaya maksimal bekerja sebab kalau ada keberkahah buat orang sekeliling, Insyallah akan sampai kepada kita dan anak-anak.

Di waktu senggang apa hobi Ibu?

Saya senang baca dan travelling. Paling senang keliling Indonesia karena masih banyak tempat bagus, ya saya gak gengsi. Sekarang lagi senang olahraga selam (diving) sambil mengagumi keindahan bawah laut. Kalau lagi libur sekolah dan akhir pekan, saya ajak ketiga anak saya untuk pergi jalan-jalan.

Apakah Herfinta punya rencana untuk IPO?

Ada keinginan kesana makanya Herfinta kendati belum ada keputusan untuk Initial Public Offering (IPO). Tapi sudah dipersiapkan tata kelola perusahaan yang baik walaupun ini perusahaan keluarga.Target kami manajemen perusahaan sesuai standar perusahaan yang sudah IPO.Di perkebunan, aplikasi teknologi informasi sudah berjalan karena membawa manfaat bagus bagi perusahaan. Jadi, dapat membuat pelaporan perusahaan transparan dan cepat direviu, jika terjadi kesalahan segera diperbaiki pula.

Industri sawit cenderung diposisikan buruk oleh beberapa pihak, lewat berbagai kampanye hitam.Bagaimana pandangan Ibu terhadap kampanye negatif sawit?

Kampanye hitam yang sekarang berlangsung ibarat orang yang putus asa.Kalau dikatakan sawit penyebab deforestasi tapi kami sawit itu adalah pohon juga.Memang ada perusahaan yang melanggar aturan tapi jangan digeneralisir sawit merusak lingkungan dan habitat. Keunggulan sawit memiliki efisiensi biaya yang cukup tinggi,misalkan sebagai bahan baku biodiesel.

Pandangan Ibu terkait emansipasi wanita di segala bidang?

Bagi saya, wanita tidak boleh melupakan posisinya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Dalam budaya Jawa, dikenal istilah wanita menjadi konco ing wingking dari pria, sebenarnya ini bukan melemahkan wanita. Di mata masyarakat, wanita adalah individu yang punya kelebihan dan kekurangan.
Saya mendukung wanita mengeluarkan potensi dalam dirinya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.Karena dapat menjadi contoh bagi kepada anak-anak mereka.Ibu yang berkarya dan menempatkan dirinya sebagai ibu secara langsung menciptakan generasi penerus yang berguna bagi mayarakat.

Saya sering ajak anak saya ke kebun supaya mereka dekat dengan alam. Kadang, mereka bantu angkat bibit lalu dimasukkan ke lubang tanam. Justrudisini peran Ibu yang dapat memberi warna dan pengalaman kepada anaknya, yang tidak diperoleh di sekolah. Bagi saya, Ibu yang dapat memberi warna bagi anak-anaknya sebagai bekal bagi mereka adalah ibu yang dapat berkarya yang bermanfaat bagi masyarakat antara lain dengan menciptakan lapangan pekerjaan. Karena Ibu adalah Madrasah bagi anak-anaknya.Ibu harus dapat menjadi sumber inspirasi bagi anak-anaknya. Menjadi seorang Ibu adalah posisi yang tidak ada kata pensiun. (Qayuum Amri)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.