Bambang Aria Wisena, Direktur Utama PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk: Perkuat Konsolidasi Perusahaan

PT Bakrie Sumatera Plantations  Tbk  saat ini tidak akan  terlalu ekspansif dalam penambahan luas perkebunan kelapa sawit, dikarenakan sulitnya mendapatkan lahan  yang sesuai dengan standar perusahaan.  

Untuk itu, peningkatan produktivitas menjadi  prioritas supaya kinerja perusahaan tetap tumbuh positif ke depan. Fokus 2012-2013 adalah untuk menyelesaikan pembangunan fasilitas downstream dan mulai produksi oleo kimia. Karena fokus oleo yang membutuhkan resources besar maka pengembangan di bisnis upstream akan dibatasi dengan strategi mengoptimalkan perkebunan yang ada.Tim Redaksi SAWIT INDONESIA berkesempatan mewawancarai Bambang Aria Wisena, Direktur Utama PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk, di kantornya. Berikut ini kami uraikan hasil  wawancaranya: 

Tahun ini, mohon dijelaskan apa saja rencana pengembangan bisnis Bakrie Sumatera?  

Perusahaan lebih memilih kebijakan konsolidasi pada 2012 ini dengan mengoptimalkan landbank perusahaan.  Langkah ini diambil karena perusahaan tidak ingin ekspansif dalam mencari lahan dengan mempertimbangkan fluktuasi  harga komoditi dunia seperti CPO. Itu sebabnya, Bakrie Sumatera tahun ini belum berencana menambah lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit. 

Kondisi sekarang ini membuat perusahaan kelapa sawit tidak lagi mudah mencari lahan terutama satu hamparan dengan luas 6.000 hektare, yang dapat menghidupi satu pabrik  kelapa sawit. Kesulitan mencari lahan  disebabkan persaingan dengan  perusahaan yang  baru masuk ke perkebunan sawit dan perusahaan existing. 

Untuk tahun ini, luas perkebunan kelapa sawit dan karet ditargetkan mencapai 130 ribu hektare. Rencana, akan bertambah menjadi 135 ribu-140 ribu hektare pada tahun depan. 

Kabarnya perusahaan berminat untuk membidik lahan di Kalimantan. Apakah benar?

Kami telah memiliki lahan di Kalimantan Selatan yang telah sesuai dengan peraturan tata ruang di provinsi tersebut. Sebenarnya, perusahaan berencana membuka lahan yang potensinya mencapai 30 ribu hektare di Kalimantan Tengah. Namun, belum ada pengembangan serius karena masih menunggu penyelesaiaan tata ruang di provinsi tersebut. 

Saat ini, berapa luas landbank yang dimiliki perusahaan?

Perusahaan masih memiliki landbank sekitar 40 ribu hektare sudah dalam bentuk lahan Hak  Guna Usaha (HGU). Pertimbangan lain, perusahaan sangat mencermati landbank tersebut, misalkan dengan pendekatan dampak sosial.

Walaupun tidak ada penanaman di lahan baru, tahun  ini berapa luas  lahan tanaman sawit yang diremajakan (replanting) ?

Program replanting lahan sawit sekitar 2.000-3.000 hektare, sedangkan peremajaan lahan karet  diestimasikan  400-500 ha. Kegiatan peremajaan tanaman sawit tahun ini terfokus kepada wilayah Sumatera Utara. Setiap tahun, selalu ada peremajaan tanaman yang dilakukan secara bertahap supaya tidak mempengaruhi volume produksi buah sawit. Tiap tahun , peremajaan tanaman ditargetkan 8%-10% dari total lahan tertanam dengan mempertimbangkan pula usia tanaman. Seperti kelapa sawit, peremajaan tanaman karet mesti dilakukan setelah mencapai usia 25 tahun. 

Ditengah fluktuasi harga CPO dunia, langkah apa yang akan diambil Bakrie Sumatera?

Kebijakan efisiensi akan dilakukan melalui kegiatan inovasi. Inovasi ini  berarti produktivitas (yield) per hektare harus naik, sehingga unit cost dapat turun. Tetapi, langkah ini tidak diartikan sebagai pemangkasan biaya (cost reduction). Contohnya saja, hasil panen didorong menghasilkan buah sawit dengan kualitas minyak bagus. Sedangkan, jika buah sawit terlambat dikirim ke pabrik kelapa sawit maka mengakibatkan tingginya tingkat  free fatty acid (FFA) yang  akan menyebabkan CPO tidak laku dijual. 

Oleh karena itu, praktek pengelolaan kebun yg baik (good plantation practices) perlu diterapkan secara konsisten agar produktivitas dapat terus meningkat. 

Pengembangan bisnis apalagi yang akan dilakukan perusahaan?

Akhir tahun ini, refinery minyak goreng kami mulai beroperasi dengan kapasitas terpasang sebesar 1.500 ton per hari. Namun, tahap pertama produksi baru berjalan sekitar 70%. Saat ini, pembangunan refinery sedang dalam proses penyelesaian yang berlokasi di  Kuala Tanjung. Produk oleokimia yang telah kami produksi antara lain fatty alcohol, fatty acid dan gliserin, yang refinerynya berada di Flora Sawita.

Untuk tahun ini, tidak ada pembangunan pabrik kelapa sawit baru dengan tetap mengoptimalkan 8 unit pabrik kelapa sawit existing. 

Pasca pemberlakuan skema BK CPO terbaru, apakah marjin segmen  sektor hulu  tetap lebih tinggi daripada hilir?

Keuntungan di produk hilir secara natural itu kecil jika dibandingkan di sektor hulu. Dengan adanya pungutan ekspor terbaru, produk hilir mendapatkan keuntungan dari selisih harga. Meski demikian, marjin keuntungan dari sektor hulu  lebih tinggi. 

Oleh sebab itu, pemerintah perlu mempertimbangkan skema bea keluar CPO sekarang ini sangat merugikan kalangan petani yang berimbas terhadap turunnya pendapatan mereka. Maka,  hasil bea keluar CPO lebih bijak jika dikembalikan kepada industri sawit khususnya perkebunan rakyat. Dana ini dapat dimanfaatkan bagi peremajaan tanaman sawit milik petani dan stabilisasi harga minyak goreng. 

Beberapa waktu lalu, Bakrie Sumatera berniat ekspansi lahan sawit ke Nigeria. Seperti apa perkembangannya?

Perusahaan sedang mengkaji rencana ini, memang ada potensi masuk ke Nigeria tetapi ada banyak pertimbangan yang harus dikaji dahulu. Misalkan saja, budaya berkebun di Nigeria harus diubah karena jauh berbeda dengan disini  Kegiatan panen di Nigeria masih memakai cara tradisional lewat memanjat pohon sawit, bukan dengan alat panen (egrek). Padahal, mengambil satu tandan dengan turun naik pohon itu butuh  waktu sekitar 15 detik, dapat dibayangkan. Tak heran, kalau produktivitas buah sawit di Nigeria  berkisar satu ton per hektare,  lebih rendah dari Indonesia yang dapat mencapai 24 ton per hektare. 

Di Nigeria, sudah kami dapatkan potensi areal yang bisa ditanami sawit berkisar 20.000-30.000 hektare. Hanya saja menghadapi kendala tidak memadainya pelabuhan ekspor, namun infrastruktur jalan relatif baik. Dari segi biaya produksi, lebih menguntungkan buka kebun di Nigeria karena lebih rendah daripada di Indonesia.

Apa keuntungan lain dari Nigeria?

Lokasi Nigeria berdekatan dengan Uni Eropa, Afrika Utara, dan Amerika Latin. Sehingga,  biaya pengiriman CPO jauh lebih murah dilakukan dari Nigeria. Untuk perbandingan, biaya pengiriman CPO dari pelabuhan Belawan ke Uni Eropa sebesar US$  70 per ton, sementara ongkos pengiriman dari Nigeria sekitar US$ 30 per ton. 

Seperti apa kesiapan perusahaan dalam menjalankan ISPO?

Rencananya, terdapat  dua perkebunan sawit yang diaudit sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang berlokasi di Jambi dan Sumatera Utara. Masing-masing luas areal kelapa sawitnya 9.000 hektare. Kendati, pasar dunia lebih meminati minyak sawit bersertifikat RSPO. Tetapi, dengan adanya ISPO yang dapat dibuktikan aspek sustainability, maka perusahaan sawit nasional lebih memprioritaskan kepada sertifikat ISPO.  Sebab, pembeli minyak lebih tertarik kepada komitmen produsen, bukan sekadar sertifikat saja. 

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.