Arif Patrick Rachmat, CEO Triputra Agro: Membangun Ketahanan Pangan dan Energi Dari Sawit

Dalam pandangan Arif Rachmat, industri sawit telah menjadi andalan pemerintah dalam menggerakkan sektor perekonomian. Di sektor energi, kelapa sawit dapat diolah menjadi biodiesel sebagai sumber bahan bakar transportasi. Biodiesel mengatasi masalah ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.

Karakteristik perkebunan sawit yang berada di wilayah terpencil (remote area). Menurut Arif, menjadikan industri sawit berhubungan langsung dengan masyarakat. Kelapa sawit berdampak positif kepada pembukaan lapangan kerja serta pengentasan kemiskinan.

“Sawit punya efek besar di bidang ketahanan pangan dan energi. Selain membantu mengurangi angka kemiskinan,” ujar lulusan Cornell University di bidang Operations Research and Industrial Engineering.

Pada 2016, menurut Arif, industri sawit menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan suplai dan permintaan. “Kita semua tahu harga komoditi sedang lesu karena tidak seimbangnya supply demand.”

Solusinya adalah mengoptimalkan program mandatori biodiesel. Arif optimis apabila mandatori berjalan baik akan menyeimbangkan suplai dan permintaan sawit termasuk harga. “Saya percaya setiap dolar yang dikutip untuk CPO Fund maka industri akan menerima manfaatnya hingga tiga sampai empat kali lipat. Disini, ada peran multistakeholder seperti dari buyer, supplier, user semua harus berkomitmen,” ungkapnya.

Berkaitan kebakaran lahan, Arif berpendapat perlu keterlibatan semua pemangku kepentingan untuk mencegah bencana tahunan ini. Teknologi dapat berperan mengawasi titik panas di lokasi perkebunan. “Tiap hari, laporan hotspot sampai produksi buah di kebun masuk ke email saya. Ketika titik hotspot muncul, kami langsung mengirim tim ke lapangan,” ungkapnya.

Program lain perusahaan adalah desa bebas api. Melalui program ini, perusahaan melibatkan masyarakat dalam menjaga wilayahnya dari api. Arif mengatakan desa yang dapat menekan titik api diberikan insentif. “Di Triputra Agro persada ini tidak ada satupun lahan kami yang bermasalah, bisa dilihat bahkan kita pogram di Jambi. Sampai bupati ikut partisipasi. Seperti yang saya bilang ini bagian pendekatan multistakeholder dan kolaborasi semua pihak,” ujarnya.

Selama satu jam lamanya, putra TP Rachmat ini menyampaikan gagasannya untuk memajukan industri sawit kepada jurnalis SAWIT INDONESIA, Qayuum Amri dan Iman Saputra, di kantornya yang berlokasi di Kuningan,Jakarta Selatan.

 

Bisa diceritakan apa yang menjadi pertimbangan Bapak terjun dalam bisnis sawit?

Dalam membangun bisnis, kita harus gunakan filosofi menerbangkan layangan harus di tempat yang berangin kencang. Nah, Indonesia kuat di bidang apa? Kita tahu sawit ini menjadi primadona di Indonesia. Di saat yang lainnya kewalahan, sawit tetap bisa diandalkan.

Selain itu, industri sawit berhubungan banyak dengan masyarakat. Misalkan dari aspek tenaga kerja dan ketahanan pangan energi, sampai kepada pengurangan kemiskinan. Sawit punya efek yang besar di sektor perekonomian.

Industri sawit bersinggungan dengan isu lingkungan. Apa yang bisa dilakukan pelaku sawit untuk menjawab masalah ini ?

Kita harus melihat segala sesuatu dengan objektif, dan secara holistik tak bisa sepotong potong. Sawit ini punya kontribusi sangat besar kepada dunia. Kontribusi pertama mengenai ketahanan pangan, dan energi. Kedua adalah pengentasan kemiskinan dari segi industri bisa menciptakan lapangan pekerjaan langsung hingga 4 juta, dan secara tidak langsung mencapai 16 juta. Ini belum termasuk dari petani plasma dan swadaya.

Berikutnya, kontribusi sawit kepada perubahan iklim. Di pabrik sawit, pelaku sawit mampu mengolah limbah sawitnya menjadi tenaga listrik.

Selain itu, Triputra Agro telah melakukan penilaian High Conservation Value atau Nilai Konservasi Tinggi sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam menerapkan pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Identifikasi dan analisis HCV dilakukan Triputra Agro bersama dengan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2012.

Berkaitan program restorasi habitat orangutan, Triputra menjalin kerjasama dengan Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOS Foundation) di Kalimantan Timur semenjak tahun 2008.

Bagaimana cara Triputra mencegah kebakaran di lahannya?

Dalam masalah kebakaran, kuncinya adalah pencegahan dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Tidak bisa pencegahan dibebankan kepada satu pihak apakah pemerintah atau perusahaan saja.

Pencegahan kebakaran bisa melibatkan teknologi seperti bernama early warning signal, satelit, dan desa bebas api.

Lalu pendekatan multistakeholder harus seperti sistem siskamling juga. Ketika api muncul langsung semua berperan, bukan malah saling menyalahkan.

Di Triputra Agro, saya tiap hari mendapatkan laporan mengenai titik hotspot. Selain itu, kami bekerjasama dengan WRI (red-World Resource Institute) untuk mengawasi kebakaran di lahan kami. Hotspot ini berkaitan dengan suhu panas di lapangan walaupun belum pasti ada api. Begitu muncul hotspot kami langsung kirim tim untuk memeriksanya.

Masalah lingkungan ini perlu melibatkan berbagai pihak untuk pencegahannya. Dan pada tahun ini (2015), tidak ada lahan Triputra yang bermasalah dengan kebakaran. Di Jambi, kami sangat aktif sehingg bupati juga terlibat.

Sekitar sepuluh tahun lalu, belum banyak sertifikasi pasar di industri sawit. Tetapi, sekarang muncul banyak sertifikat seperti RSPO, ISPO, dan ISCC. Sebagai pelaku sawit, apakah sertifikat ini sebuah tantangan atau beban biaya operasional?

Standar sustainability ini positif, kalau dahulu tidak ada sekarang ada sebenarnya bagus. Namun, standar ini harus mematuhi aturan pemerintah dan saya sangat mengacungkan jempol dengan ISPO, apakah ISPO kemudin bisa diperkuat terus? Tentunya bisa. Tidak ada yang statis. Sebagai manusia kita berkembang terus apalagi organisasi. Jadi sustainability sebagai standar akan terus berkembang.

Mulai kapan Bapak aktif membangun Triputra Agro?

Sekitar sepuluh tahun lalu tepatnya April 2005.

Latar belakang pendidikan bapak dari engineering dan sempat bekerja di perusahaan engineering. Lalu mengelola bisnis komoditas. Bagaimana cara bapak mengelola bisnis ini ?

Setiap industri pasti punya keunikan masing-masing. Kuncinya adalah people dan process. Punya orang tepat dan membangun sistem dan teknologi yang tepat untuk perkebunan.

Karakter industri sawit pertama, lokasi perkebunan berada di wilayah terpencil (remote area) dan sangat luas. Kedua, selalu berhubungan dengan alam. Karakter ini yang membedakan bisnis sawit dengan manufaktur dan perbankan.

Jadi kuncinya bagaimana menempatkan orang di lapangan itu dan mereka melakukan apa yang harus dilakukan tanpa kita lihat langsung sehari-hari. Itu kuncinya. Jadi kembali ke orang dan proses.

(Selengkapnya baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Januari 2016-15 Februari 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.