Sulitnya Kendalikan Ganoderma

Penyakit busuk pangkal batang belum menjadi perhatian bersama pemangku kepentingan industri sawit nasional. Padahal,  ganoderma boninense ini mengancam  produktivitas sawit di masa mendatang. 

Penelitian mengenai dampak jamur Ganoderma Boninense pp di perkebunan sawit sebenarnya telah dimulai dari 20 tahun  yang lalu.  Meski demikian, tidak semua kesadaran pelaku sawit paham ekses buruk serangan ganoderma atau jamur merah. Hal ini disebabkan, belum semua perkebunan kelapa sawit di Indonesia terjangkit ganoderma. Baru, perkebunan kelapa sawit yang telah memasuki generasi pertama.

Darmono Taniwiryono, Kepala Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, mengakui tidak semua pelaku sawit memandang masalah serangan ganoderma merupakan hal penting. Sikap ini dapat dimaklumi karena perkebunannya masih aman dari  ganoderma. “Ibaratnya, masih dapat tidur nyenyak lantaran penularan ganoderma belum terjadi,” ujarnya. 

Di Indonesia, jenis ganoderma yang banyak menyerang perkebunan  sawit adalah ganoderma boninese. Selain itu, ditemukan pula ganoderma australe dan ganoderma zonatum yang berada di perkebunan sawit lahan gambut. Jamur yang berasal dari alam ini menjadi penyebab tanaman sawit terkena penyakit busuk pangkal batang. Bagi pelaku sawit, gejala tanaman yang terjangkit cendawan ini sulit diketahui perkembangannya secara langsung tetapi tiba-tiba saja pangkal batang atau korteks pohon sudah keropos. 

Menurut Kiki PSM Munthe, Direktur PT All Cosmos Indonesia, ganoderma dikenal sebagai penyakit non diagnostic atau kriptik. Artinya, gejala dan tanda serangan jamur ini pada tanaman kelapa sawit kadang tidak muncul seperti  terhambatnya pertumbuhan, warna daun menjadi hijau pucat dan busuk pada batang tanaman.  

Pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), gejala awal ditandai penguningan tanaman atau daun terbawah diikuti nekrosis yang menyebar ke seluruh daun. Sedangkan, menurut Kiki PSM Munthe, gejala di tanaman menghasilkan yaitu semua pelepah menjadi pucat, semua daun dan pelepah mongering, daun tombak tidak membuka (terjadi akumulasi daun tombak).  Pada satu waktu, tiba-tiba tanaman yang dari luar kelihatan sehat akan tumbang dan baru kelihatan pembusukan di dalam kelapa sawit.

 Di Indonesia, data valid total luas lahan sawit yang terkena penyakit busuk pangkal batang belumlah diketahui.  Gamal Nasir, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, menyebutkan baru enam provinsi teridentifikasi  yang perkebunan sawitnya terserang penyakit busuk pangkal batang. ganoderma. Enam provinsi tersebut adalah DI Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, dan Kalimantan Tengah. Data ini diperoleh dari pengamatan dinas perkebunan di lahan sawit milik petani. Total luas lahan sawit yang terserang sekitar 2.428,33 hektare dengan nilai kerugian Rp 3,6 miliar. 

“Tetapi, data ini belum termasuk serangan yang dialami perusahaan perkebunan negara dan swasta,” ujar Gamal Nasir kepada SAWIT INDONESIA. 

Di PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III), serangan ganoderma telah ada di lahan perusahaan yang berada di daerah Asahan, Sumatera Utara. Pada 2012, luas areal yang terserang ganoderma sekitar 2.341,15 hektare. Tengku Syahmi Johan, Kepala Bagian Tanaman PTPN III, mengungkapkan serangan ganoderma terjadi pada generasi ke dua dan generasi ke tiga. Bahkan, serangan ganoderma dalam skala luas pernah terjadi di Kebun Sei Dadap, daerah Asahan, Sumatera Utara.

Kepada SAWIT INDONESIA, Tengku Syahmi Johan menjelaskan dampak signifikan yang dialami oleh perusahaan akibat serangan ganoderma terjadi penurunan tegakan pohon akibat banyaknya pohon kelapa sawit  mati  di usia  produktif. Penurunan produksi terjadi di Kebun Sei Dadap pada Tahun Tanam (TM) 1998. Realisasi produksi pada tahun 2011 sebesar 18.161 kilogram per hektare. Namun volume produksi tahun 2012, turun  sebanyak 2.452 kilogram per hektare atau 13,5% menjadi 15.709 kg/ha. 

Di BUMN perkebunan lain yaitu PTPN VII, kebun perusahaan  di Rejosari, Lampung, seluas 4.371 hektare dilaporkan terserang ganoderma pada tahun kemarin. Kepala Tanaman Unit Usaha Rejosari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII (Persero) G Putu Sudiarba, memaparkan pohon yang terkena cendawan tidak menunjukkan tanda terserang hama. “Tetapi, tiba-tiba saja pohon sawit yang masih segar  tumbang oleh tiupan angin. Setelah diamati, ternyata pada bagian pangkal batang atau bagian korteks (kayu) pohon telah keropos,” katanya seperti dikutip dari Suara Pembaruan. 

Sementara itu, lahan sawit milik PT Sinarmas Agro Resources and Technology (SMART) Tbk pernah juga terserang ganoderma. Tony Liwang, Direktur Plant Production and Biotechnology PT SMART Tbk, mengakui serangan tinggi sudah terjadi di kebun sawit perusahaan khususnya di areal endemik dalam jangka waktu lama dan terjadi pada kebun yang selesai diremajakan (replanting). Pada tanaman tua, hasil serangan ganoderma dapat terlihat dari pelepah baru sulit berkembang yang cenderung terlihat seperti daun tombak. 

Darmono Taniwiryono memperingatkan bahwa  cendawan ganoderma sudah hadir di daerah yang notabene bukan daerah perkebunan sawit saja. Ketika berkunjung ke Lombok, Darmono menemukan ganoderma menempel di tanaman sawit yang difungsikan sebagai tanaman hias. Padahal daerah ini jauh dari Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Artinya dimanapun kelapa sawit ditanam potensi ganoderma tetap ada. Tanaman berkayu lain yang rentan terserang adalah sengon dan akasia. 

“Makanya, pelaku hutan tanaman industri mengeluhkan banyaknya serangan ganoderma di pohon akasia,” kata Darmono.

 

MEDIA PENYEBARAN

Salah satu penyebab kemudahan penyebaran ganoderma di perkebunan sawit berasal dari dukungan media perantara. Selain itu, menurut Darmono, muncul media perantara baru yang sebelumnya tidak pernah diduga sebagai pembawa ganoderma. 

Sewaktu meneliti serangan ganoderma di daerah Palu, Sulawesi Tengah,  Darmono menemukan arah penyebaran ganoderma mengikuti bergeraknya truk pengangkut buah di kebun. Jadi, spora tersebut menempel di ban truk yang menyebar ke tanaman lain di perkebunan tersebut. 

Yang mesti diwaspadai, keberadaan sapi di perkebunan sapi dapat dijadikan media pembawaa spora ganoderma. Darmono mengatakan sapi yang dibiarkan mencari makan di kebun sangatlah berbahaya bagi tanaman. Sebab spora yang menempel tadi dapat terbang ke pohon. Untuk solusinya, disarankan pekebun tidak membiarkan sapi berkeliaran dan lebih baik dikandangkan. 

Tengku Syahmi Johan membenarkan bahwa ternak sapi dan kambing yang berkeliaran di kebun kelapa sawit rawan membawa spora ganoderma. Tak hanya itu, spora dapat melalui kotoran sapi / kambing yang berserakan di areal kebun dan dapat juga menyebar karena  terbawa kaki ternak yang berkeliaran.

Jumlah spora yang dihasilkan tubuh buah ganoderma dapat mencapai 10 juta spora. Dari jumlah tersebut, biasanya satu atau dua spora akan berhasil menginfeksi tanaman sawit. Kemampuan spora didukung dengan radius terbang spora ke tanaman sawit dalam jarak lima kilometer. 

Media penyebaran ganoderma yang sering terjadi melalui akar. Darmono Taniwiryono memaparkan  persinggungan antar akar itu cukup intensif sebab akar terinfeksi ganoderma yang bersentuhan dengan akar sehat, maka peluang tertular lebih besar. 

Menurut Darmono, kehadiran ganoderma di kebun tidak terlepas dari daya dukung lahan. Turunnya daya dukung lahan disebabkan banyak hal seperti  penggunaan bahan kimia Sekarang ini, tanaman sawit yang berada di lahan marjinal seperti tanah pirit dan gambut rentan dengan serangan ganoderma.  

Deden Dewantara, Peneliti, Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, menjelaskan pemakaian pupuk kimia dalam jangka waktu lama dapat mempengaruhi sifat/kondisi biologi, kimia dan fisika tanah yang pada akhirnya menimbulkan degradasi tanah. Dengan kondisi tersebut, tanah yang sudah terdegradasi tidak mampu memberikan dukungan optimal bagi perkembangan tanaman.

Menurutnya, secara fisik degradasi tanah dapat mempengaruhi struktur, kemampuan tanah dalam menyerap air dan udara, serta ketahanan terhadap penghancuran oleh aliran air dan udara. Sedangkan dari aspek kimia, berakibat kepada sifat keasaman tanah (pH), menurunkan ketersediaan dan kemudahan penggunaan nutrisi tanaman, lalu kemampuan untuk memusnahkan racun bagi organisme lain. Dari aspek biologi, degradasi mempengaruhi ketersediaan Soil Organic Carbon (SOC) atau karbon organik tanah, keberagaman spesies biota penghuni tanah dan meningkatkan populasi patogen tular tanah.

PENGENDALIAN DAN ANTISIPASI

Berbagai penelitian dan temuan untuk mengantisipasi penyebaran ganoderma sudah banyak dihasilkan lembaga riset dan kalangan peneliti. Sebagai contoh, penemuan jamur trichoderma sp yang bersifat antagonis terhadap ganoderma boninense. Penemuan ini merupakan buah kerja keras Prof. Dr. Ir. SM. Widyastuti, M. Sc, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang meneliti ganoderma semenjak 2007. Hasil penemuannya sekarang ini telah digunakan untuk menjadi berbagai macam produk pengendali ganoderma seperti biofungsida. 

Upaya perlindungan dan pengendalian dari ganoderma, menurut Tengku Syahmi Johan, dilakukan dengan pemberian biofungisida yang berbahan aktif Trichoderma sp. Untuk tanaman menghasilkan yang telah terserang, tindakan isolasi dilakukan dengan penimbunan pangkal batang dengan tanah (Soil Mounding) yang diberikan biofungisida sebanyak 400 gram per pohon. Lalu, dibuat pula parit isolasi pada tanaman yang terserang.

Dalam riset yang dilakukan Deden Dewantara, tindakan isolasi yang dilakukan kepada tanaman yang tertular ganoderma masihlah bersifat parsial. Belum sampai kepada penyelesaian penyakit secara menyeluruh. Menurutnya, tindakan pemutusan siklus hidup ganoderma boninese akan lebih baik kalau dilakukan kalangan pekebun. 

Caranya, kata Deden, mengaplikasikan teknik rotasi tanaman untuk pengendalian yang sekaligus menjadi solusi penyelesaian masalah degradasi tanah. Lewat kegiatan rotasi tanaman akan dapat dilakukukan penghancuran sumber inokulum berupa bonggol sisa tanaman yang terserang dan perakaran tanaman kelapa sawit terinfestasi Ganoderma akan terjadi  sehingga Ganoderma terekspose terhadap serangan mikroba tanah dan mati. 

Pemilihan tanaman gilir disarankan bukan satu famili dengan tanaman utama. Disarankan menggunakan tanaman gilir seperti tebu karena belum ada data yang menyebutkan tanaman ini menjadi inang dari ganoderma. Alasan lain, ujar Deden, awal penanaman tebu membutuhkan pengolahan tanah yang bersifat intensif. Supaya lebih maksimal harus disertai dengan pembongkaran sisa-sisa tunggul sawit, subsoiling, dan pemberian bahan organik tinggi.

Darmono Taniwiryono menyarankan pembentukan tim khusus yang dapat mengawasi gejala dan serangan ganoderma di tiap perusahaan perkebunan sawit. Nantinya, tim khusus ini dapat melakukan sensus berkala di kebun. Jumlah tim khusus ini minimal 5 orang. Paling utama, perusahan harus melihat pengendalian ganoderma secara terintegrasi bukannya parsial. Hambatan utama berasal dari ketersediaan dana untuk mengantisipasi dan menanggulangi ganoderma ini. 

Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan (BPBI) bekerjasama dengan PTPN IV telah menghasilkan alat deteksi ganoderma secara serologis bernama Gano-Kit. Suharyanto, Peneliti Mikrobiologi dan Lingkungan BPBI mengatakan gano kit dapat digunakan pada tanaman sawit bibitan, belum menghasilkan dan tanaman menghasilkan. Biasanya, Gano-Kit menjadi bagian dari kegiatan monitoring atau sensus tanaman. Satu kota Gano-Kit dapat menguji 20 sampel tanaman sawit dengan tiga kali replika.Satu kali pengujian perlu waktu 5 jam.

“Ke depan, kami berencana mengembangkan alat deteksi ganoderma seperti test pack kehamilan. Jadi dapat diketahui langsung hasilnya, “ kata Darmono sambil tersenyum.

Darmono mengharapkan masalah ganoderma harus menjadi perhatian utama pemangku kepentingan industri sawit.  Sebab, nilai kerugian yang ditimbulkan hama ini sangat besar mencapai Rp 2 triliun per tahun dan belum termasuk penurunan produksi minyak sawit.

Gamal Nasir mengatakan penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan ganoderma semestinya dapat digolongkan kepada penyakit penting untuk ditanggulangi. Walaupun demikian, pihaknya belum memiliki program khusus untuk pengendalian ganoderma namun tetap dilakukan proses pembinaan, pengendalian, dan evaluasi kegiatan penanganan penyakit busuk pangkal batang. (Qayuum Amri)  

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.