Strategi Socfindo Menghasilkan Produktivitas CPO Tinggi

PT Socfin Indonesia (Socfindo) mampu menjaga produktivitas setiap tahun kendati  kebunnya rentan terserang ganoderma. Metode Good Management Practice (GMP) diterapkan dengan memerhatikan aspek bahan tanaman, kultur teknis, dan tenaga kerja. 

Sepanjang tahun 2013, produksi Tandan Buah Segar (TBS) PT Socfindo dapat mencapai 809. 499,84 ton, dan produksi minyak sawit mentah (CPO) sebanyak 191.084,520 ton. Dari aspek produktivitas, PT Socfindo dapat menghasilkan rata-rata produktivitas TBS 24,322 ton per hektare per tahun dan CPO 5,741 ton per hektare per tahun. Pepep Permadi, Direktur Tanaman PT Socfindo, mengatakan produktivitas TBS perusahaan sempat turun sebesar 1,96% dan CPO sebesar 3,4%. Hal ini disebabkan masalah cuaca global yang membuat produktivitas lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Achmad Mangga Barani, Direktur Forum Pengembangan Perkebunan Strategis Berkelanjutan, memetakan empat perusahaan yang punya produktivitas sawit tinggi antara lain PT Socfindo, PT PP London Sumatera (Lonsum) Tbk, PTPN III, dan PTPN IV. Tingginya produktivitas mereka didukung penggunaan benih yang berkualitas. Dalam hal ini, PTPN III dan PTPN IV didukung benih sawit PPKS sedangkan Socfindo dan Lonsum menggunakan benih produksi sendiri.

PT Socfindo sangat fokus menjaga tingginya produktivitas. Menurut Permadi, penerapan GMP dijalankan dengan memerhatikan tiga aspek yang sangat diutamakan perusahaan sebagai berikut :

1. Aspek Bahan Tanaman (genetik)

  • Melakukan pengembangan terhadap bahan tanaman unggul yang selama ini sudah digunakan baik dari segi material tanaman maupun teknik produksinya. Introduksi plasma nuftah baru serta penelitian terhadap berbagai karakteristik material yang memiliki sifat khusus seperti toleran terhadap penyakit tertentu (Fusarium, Ganoderma), pertumbuhan meninggi yang lambat (compact material), Super Male, Respon terhadap berbagai jenis pupuk dan banyak lagi terus dilakukan bekerja sama dengan lembaga penelitian Palm Elit, Perancis.
  • Pembangunan Laboratorium Analitik, DNA dan Kultur jaringan yang saat ini sedang dalam tahap penyelesaian merupakan sarana penunjang untuk menghasilkan introduksi baru bagi usaha-usaha untuk meningkatkan produksi yang berkelanjutan.

2. Aspek Kultur Teknis :

  • Disiplin potong buah merupakan faktor utama yang harus ditegakkan. Bentuknya adalah menjaga periode panen setiap tujuh hari, hanya memotong buah yang masak, kebersihan ancak dari brondolan dan pencapaian output potong buah yang tinggi melalui peningkatan etos kerja setiap karyawan khususnya pemanen.
  • Dalam aspek kultur teknis khususnya pemupukan, penerapan yang benar dari prinsip – prinsip efisiensi pemupukan yaitu ; tepat dosis, tepat jenis, tepat waktu, tepat tempat harus benar-benar dilaksanakan dengan baik. Interpretasi data hasil LSU dan observasi di lapangan terhadap gejala yang defisiensi hara yang muncul menjadi pertimbangan utama dalam menentukan dosis berbagai jenis pupuk yang diperlukan. Pertimbangan jenis tanah, topografi, sifat hujan dan produksi juga harus diperhitungkan dengan baik.
  • Pengembalian hara yang dieksploitasi pada saat panen harus dikembalikan dalam bentuk pengaturan pelepah cabang, aplikasi janjang kososng, solid eks decanter dan chipping pada saat program peremajaan. Hal ini bermanfaat pula untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah. 
  • Pengendalian hama penyakit harus benar-benar tuntas dilaksanakan “Early Warning System” terhadap gejala awal dari serangan hama dan penyakit harus dilakukan sehingga tidak terjadi serangan yang eksplosif yang dapat menurunkan produksi. Pengembangan terhadap teknik pengendalian serta terus melakukan pengujian terhadap insektisida yang memiliki toksisitas spesifik dan ramah lingkungan terus dilakukan, terutama dalam menghadapi iklim global yang tidak menentu yang dapat memicu serangan hama baru secara tiba-tiba.
  • Manajemen percabangan dengan tetap menjaga jumlah cabang tersisa di pohon minimal 42 pada tanam > 6 tahun dan minimal 48 pada tanaman 6 tahun ke bawah harus tetap dilakukan agar proses metabolisme tanaman tidak terganggu. Hal ini sangat penting diperhatikan karena pada bahan tanaman unggul yang memiliki potensi produksi tinggi hampir setiap pelepah mengeluarkan janjang.
  • Water management juga sangat penting dilakukan untuk menjaga pasokan air tetap terjaga bagi kelangsungan metabolisme tanaman, terutama pada musim kering. Mempertahankan posisi air pada ketinggian 50 cm -60 cm dari permukaan pada musim kering adalah hal sangat penting.

3. Aspek Tenaga Kerja

Penerapan prinsip-prinsip OHSAS 18001:2007 dan ISO 14001 : 2004, sangat penting untuk meningkatkan produktivitas pekerja agar tetap memiliki etos yang tingggi untuk menyelesaikan tugasnya dengan output tinggi. Etos kerja yang tinggi dari setiap pekerja terutama pemanen buah harus datang berasal dari dalam hati nuraninya. Penyediaan fasilitas kerja yang layak dan memadai, kesejahteraan dan kesehatan merupakan suatu yang harus dipenuhi sesuai dengan standar yang berlaku.

Permadi menuturkan kendala utama untuk mempertahankan tingkat produktivitas yang tinggi yaitu serangan penyakit Jamur Ganoderma boninense terutama pada tanaman generasi ke 2 dan 3 khususnya di kebun yang berada di kabupaten Serdang Bedagai dan Batubara (Mata Pao, Bangun Bandar dan Tanah Gambus). Kerapatan tanaman di ketiga kebun tersebut dengan cepat berkurang akibat serangan penyakit Ganoderma, pada beberapa blok dengan tingkat serangan tinggi pada umur 15 tahun jumlah serangan sudah mencapai 30%.

Solusi menghadapi penyakit busuk pangkal batang telah ditemukan PT Socfindo. Salah satunya, penemuan Varietas Unggul Moderat Tahan Gano (DxP Socfindo MTG) menjadi salah satu solusi utama untuk mengendalikan serangan Ganoderma di areal peremajaan mulai generasi ke-2 di masa yang akan datang.
Rata-rata umur tanaman PT Socfindo adalah 14,7 tahun, setiap tahun dilakukan peremajaan tanaman (replanting) sekitar 3%-4% dari areal tanam yang dinilai berdasarkan tingkat produktivitas per blok serta kerapatan tanamannya. Blok yang produksinya kurang dari 18 ton per hektare dan kerapatan tanaman kurang dari 85 pohon per hektare akan menjadi blok prioritas untuk diremajakan.

Menurut Permadi, supaya blok-blok yang direplanting dapat cepat mencapai produksi tinggi maka mutu replanting harus dibuat sebaik mungkin. Dimulai dengan pembongkaran dan sanitasi pohon-pohon mati akibat serangan Ganoderma, pengolahan tanah secara mekanis dengan pencangkolan tanah untuk memperbaiki aerasi. Lalu, dilakukan pengembalian unsur hara dan bahan organik yang lebih dipercepat dengan melakukan chipping, serta pambangunan saluran drainase dan teras bersambung sesuai dengan tingkat keperluannya. Keberhasilan penanaman penutup tanah Mucuna bracteata yang mampu menutupi secara murni areal peremajaan dan dipertahankan sampai masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM). Disertai penggunaan bibit unggul yang memiliki potensi lebih tinggi serta lebih tahan terhadap serangan ganoderma merupakan solusi dalam mempertahankan produksi tinggi pada saat peremajaan.

Ditambahkan Permadi, kegiatan perawatan masa TBM yang baik, pemupukan yang memadai serta dijalankannya program kastrasi/sanitasi pada masa TBM akan mempercepat fase vegetatif. Sehingga menjadikan tanaman yang memiliki potensi produksi tinggi pada saat memasuki masa Tanaman Menghasilkan (TM).
Produktivitas material Socfindo dimulai pada masa tanaman berumur 3 tahun (TBM-3) dengan rata-rata produksi mencapai 15 ton FFB/ha. Pada beberapa blok bahkan produksinya bisa mencapai 20 ton FFB/ha. Ketika tanaman berumur 4 tahun (Tanaman Menghasilkan tahun ke-1) rata-rata produksi per ha dicapai adalah 20 ton TBS per hektare dengan produksi pada blok terbaik mencapai 25 ton per ha.

“Dengan pencapaian produksi tersebut menunjukkan bahwa program replanting akan memperbaiki performan produksi. Karena pada saat tanaman memasuki masa tahun pertama tanaman menghasilkan produksinya sudah melebihi produksi blok yang direplanting,” ujar Permadi dalam jawaban tertulis.

Sampai saat ini PT Socfindo tetap menjadi referensi mengelola kebun sawit yang baik di Indonesia. Permadi mengakui banyak permintaan kunjungan kebun yang datang dari lembaga pendidikan ternama maupun perusahaan secara individual. Kunjungan tersebut digunakan perusahaan untuk berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana cara mengelola perusahaan kelapa sawit. Selain, memperkenalkan introduksi baru yang menjadi sebagai hasil riset PT Socfindo. (Qayuum Amri)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.