PT Satrindo Mitra Utama: Merek Lama Kembali Berjaya

Semenjak tiga tahun lalu sampai sekarang, John Deere telah menjadi  pemimpin pasar produk traktor di sektor perkebunan. PT Satrindo Mitra Utama, sole agent John Deere, menargetkan angka penjualan tahun ini dapat tumbuh 25%. Bagaimana traktor ini dapat bangkit kembali?

Di daerah Sumatera Utara, traktor John Deere  sudah lama dikenal dari dekade 1970-an. Nama jonder, sebutan pelaku perkebunan sawit disana telah melekat dengan traktor yang mereka gunakan. Meihardi, Direktur PT Satrindo Mitra Utama, menjelaskan traktor John Deere telah dipasarkan ke perkebunan sawit mulai tahun 1974 yang diageni oleh  PT Paramount Engineering. Wilayah pemasaran produk ini mencakup provinsi Sumatera Utara dan Aceh yang  berkembang sampai Riau,Bengkulu dan Padang. 

“Nama John Deere ini sudah seperti merek sepeda motor tertentu, yang mudah dikenal orang. Jadi, setiap pelaku perkebunan di  Sumatra Utara selalu mengatakan traktor adalah John Deere,” kenang Meihardi. 

Arie Abdulrachman, General  Manager PT Satrindo Mitra Utama, mengenang warna hijau di traktor John Deere sangatlah familiar sehingga orang sering menyebut jonder hijau, jonder biru, atau jonder-jonderan,  sebutan kepada traktor yang mutunya di bawah John Deere. Diakuinya, kendati nama John  Deere sempat tenggelam setelah dekade 1980 tetapi perlahan-lahan PT Satrindo Mitra Utama yang menjadi pemegang lisensi traktor mulai membangun kembali produk ini. 

“Selama tiga tahun belakangan, John Deere sudah  mampu menjadi market leader untuk traktor perkebunan. Prestasi ini sangatlah membanggakan,” kata Arie sambil tersenyum.

PT Satrindo Mitra Utama memiliki lima tipe traktor yang memang ditujukan kepada sektor pertanian dan perkebunan seperti kelapa  sawit, tebu. Kelimanya adalah traktor tipe JD 6100 B (110HP), JD 5715 (90 HP), JD 5610 (80 HP), JD 5045(45 HP), dan  JD 5035 (35 HP).

Menurut Arie Abdulrachman, traktor tipe 45 HP dan 90 HP menjadi produk yang cukup banyak permintaannya dari kalangan pelaku perkebunan sawit. Traktor 45 HP memang ditujukan bagi kegiatan pengambilan buah sawit dari dalam blok kebun (infield collection). Khusus 90 HP dilengkapi dengan trailer berkapasitas 5 ton bagi pengangkutan buah di flat/hilly area.

Tak hanya itu, perusahaan memiliki traktor lain seperti JD 5610 dengan kekuatan 80 HP dilengkapi trailer berkapasitas 4 ton untuk mengangkut buah di flat area. Traktor lain adalah tipe 110 HP dilengkapi empty fruit bunch trailer (giltrap) dengan kapasitas 4-5 ton  untuk penyebaran janjang kosong sebagai pupuk.

“Bahkan di kelas traktor 120 HP, produk kami sangat unggul karena menggunakan full chasis dan  tidak perlu mengganti clutch,” papar  Meihardi kepada SAWIT INDONESIA.  

Arie Abdulrachman mengatakan permintaan traktor  juga dipengaruhi cuaca misalkan ketika musim hujan terjadi akan terjadi lonjakan permintaan yang cukup tinggi. Karena, pelaku perkebunan ingin supaya hasil panen dapat keluar dari kebun untuk dibawa ke pabrik. Di musim hujan, traktor lebih efektif dipakai ketimbang truk untuk pengangkutan buah sawit. 

Kemampuan perusahaan membaca permintaan diwujudkan dengan rencana peluncuran produk terbaru yaitu traktor 35 HP dengan sistem articulate. Meihardi memaparkan traktor ini telah  menggunakan teknologi yang mengintegrasikan trailer dan traktor, yang belum dimiliki perusahaan lain. Traktor yang terpisah dengan trailer mempunyai banyak kelemahan karena traktor hanya difungsikan sebagai penarik saja, kalau trailernya kurang sesuai dengan yang ditarik akan terjadi slip dan trailer akan menjadi hambatan.

Ditambahkan Arie Abdulrachman, traktor kecil dengan spesifikasi khusus yang digabung dengan trailer tersebut, akan membuat ban trailer lebih lincah dan dapat bermanuver di lahan sawit. Teknologi lain yang dipakai adalah  scissor lift  mengangkat beban dengan ketinggian sampai empat  meter. 

“Kalau di tambang dan hutan,  traktor jenis ini sudah biasa yang telah lama dipakai. Sementara, di perkebunan sawit baru pertama kalinya ada,” ujar Arie. 

Pilihan pelaku  sawit terhadap John Deere sangat didukung oleh  nilai tambah yang dimiliki traktor asal Amerika ini. Meihardi memaparkan semua komponen utama traktor John Deere diproduksi sendiri oleh John Deere mulai dari transmisi,rear axle, dan engine.  Hal ini  sulit ditemukan di produk lain yang komponennya tidak seragam. 

Nilai tambah yang paling diprioritaskan adalah bahan bakar. Arie Abdulrachman menjelaskan mesin John Deere sudah dikenal efisien dalam pemakaian bahan bakar karena mesinnya ada yang berstandar tier 0, tier 1, tier 2, tier 3 (A,B,C), dan paling mutakhir tier 4. Untuk di Indonesia, perusahaan menjual traktor yang standarnya tier 2 dan tier 3. Sebab, standar emisi ini sangat bergantung dari mutu bahan bakarnya terutama dilihat dari kandungan sulfur. “Mesin sebenarnya siap saja, tetapi kualitas bahan bakar di Indonesia tidak dapat mendukung mesin tadi,” kata Arie.   

Selain itu, kata Arie Abdulrachman, traktor John Deere memakai synchronize system yang kegiatan operasinya sangat sangat sederhana. Kalaupun operator traktor masih baru tidak akan kesulitan mengoperasikan traktor. Yang paling penting, operator harus diinformasikan standar perawatan traktor berwarna hijau ini. 

Program pemeriksaan mesin

Kegiatan pelayanan terhadap konsumen semakin diperkuat perusahaan melalui kegiatan seperti program pemeriksaan mesin. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, program yang akan berjalan mulai tahun ini akan ditujukan kepada seluruh konsumennya. Arie Abdulrachman mengatakan perusahaan berencana memberikan servis lewat pengecekan kondisi traktor konsumen, setelah itu akan  diberikan saran maupun rekomendasi terkait hasil laporan tadi. 

“Pelaksanaan rekomendasi bergantung dari konsumen apakah mau atau tidak. Nantinya, bisa dibantu lewat pengikatan kontrak pelayanan dengan Satrindo,” kata Arie yang telah berpengalaman di dunia alat berat selama 25 tahun lebih. 

Manfaat lain yang diperoleh dari program ini, menurut Arie, akan diketahui jumlah populasi John Deere di Indonesia, beserta tipe dan kondisi terakhirnya. Program ini kemungkinan tidak akan selesai sampai tahun ini saja tetapi dapat berlanjut pada tahun berikutnya. Alasannya, kata Arie, satu teknisi hanya mampun memeriksa 2-3 traktor per hari. 

Dengan jumlah 14 kantor cabang dan tiga service point, PT Satrindo Mitra Utama tidak kesulitan melayani keluhan dan keinginan konsumen. Meihardi mengatakan dengan jaringan yang luas dengan spare parts dan tenaga teknisi yg terlatih melalui kantor cabang   maupun service point terdekat dengan perkebunan (remote area), sehingga mengurangi down time unit.  Itu sebabnya, John Deere cenderung memberikan pelayanan optimal dengan pembangunan service point, supaya konsumen tidak kesulitan mendapatkan suku cadang dan perawatan.  (Qayuum Amri)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.