PT Probesco Disatama : Mendukung Pengangkutan TBS Lebih Produktif dan Efisien

PT Probesco Disatama menawarkan solusi mekanisasi dengan penggunaan LS TRACTOR dan HIAB Mini Crane. Didukung material yang berkualitas, proses pelatihan berkesinambungan serta purna jual yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Perkembangan industri sawit di Indonesia yang semakin tumbuh haruslah ditopang dengan penggunaan teknologi yang baik. Karena bila satu proses di perkebunan tersendat maka akan mengakibatkan produksi minyak sawit terkendala. Salah satu cara menanggulanginya dengan mulai menerapkan sistim mekanisasi yang dibutuhkan di perkebunan di seluruh fase industri kelapa sawit.

Gatot Herry Soeyanto, General Manager PT Probesco Disatama beranggapan bahwa kebutuhan mekanisasi di perkebunan sawit terutama dalam hal penanganan TBS menjadi semakin dirasa perlu mengingat kecepatan penanganan buah yang sudah dipanen haruslah diutamakan. “Kalau suplai TBS terkendala, maka hasil produksi di PKS akan drop dan akan berpengaruh terhadap kualitas CPO yang dihasilkan nantinya. Jika kita hanya mengandalkan tenaga muat manual ,akan lebih besar kemungkinan yang menjadi penyebab terlambatnya TBS sampai di PKS. Untuk itu perlu adanya kombinasi antara manual dengan sistim mekanisasi ini demi menjaga kestabilan tingkat suplai TBS ke PKS,” katanya.

PT Probesco Disatama yang merupakan distributor utama untuk beberapa brand yang sudah di kenal seperti CASE, DYNAPAC, LS Tractor dan HIAB memang menjadikan sektor perkebunan ini sebagai pasar utama untuk produk mereka. Sehingga mereka lebih fokus untuk membantu memberikan solusi bagi beberapa masalah yang ada di sektor perkebunan. Salah satu diantaranya proses penanganan TBS tersebut.

Sistem ini mulai diperkenalkan oleh Probesco sejak tahun 2004 setelah melalui proses belajar ke negeri jiran Malaysia yang memang sudah lebih dulu menerapkannya. Langkah awal adalah dengan mengadakan demo di salah satu perkebunan besar untuk lebih memberikan keyakinan bahwa sistim ini bisa menjadi salah satu solusi di masa depan.

Kombinasi antara LS Tractor model LS-47 (45 Hp) dan HIAB Mini Crane JG5000 dapat menjadi salah satu pilihan solusi mekanisasi di perkebunan sawit baik untuk proses infield maupun roadside collection untuk mengumpulkan dan mengangkut TBS sampai ke bin. Untuk HIAB mini crane sendiri ada 2 model yang bisa dijadikan pilihan yaitu JG5000 (jangkauan 2,8 dan 3,5 meter) dan JG7000 (jangkauan 3,5 meter) dengan kemampuan angkut buah (lifting capacity) yang berbeda. Keunggulan produk ini selain memiliki material yang lebih ringan namun kuat, juga proses pengelasan menggunakan mesin berkualitas sehingga lebih menjamin terhadap daya tahan. Selain itu dengan bentuk pilar/column yang lebih tinggi dan radius putaran 330 derajat, membuat crane ini mampu menjangkau areal kerja yang lebih luas dan bisa mengambil TBS yang berada di arah depan posisi operator. Ini tentunya membuat kerja operator jadi lebih ringan dan tidak gampang lelah karena tidak harus melihat ke belakang untuk mengambil buah. Kombinasi ini dilengkapi dengan scissor lift trailler kapasitas muat sekitar 1,5 – 2 ton.

Setelah proses koleksi TBS ini selesai, maka selanjutnya TBS akan dikumpulkan dalam satu bin (bak besi) yang diletakkan pada lokasi tertentu, yang nantinya akan diangkut dengan truk yang sudah dilengkapi dengan hooklift.

Untuk hooklift nya sendiri, HIAB Multilift memiliki beberapa model mulai dari kelas 2 ton hingga 25 ton daya angkutnya. Namun khusus untuk sektor perkebunan sawit di Indonesia, Probesco memfokuskan pada model LHT190 atau XP14T dengan lifting capacity hingga 14 ton. Artinya untuk bin mulai dari 7 – 12 ton, tetap menggunakan model yang sama. Tujuannya memudahkan after sales service dan terutama di dalam pengadaan stock suku cadang. Multilift bekerja mirip seperti pancingan dengan sistem hidrolik yang menarik bin berisi TBS ke atas truk untuk dibawa ke PKS.

“Sebenarnya jika bisa memuat buah lebih banyak, akan bisa menurunkan biaya transportasi buahnya. Namun pilihan terhadap model tersebut tentunya sudah dipertimbangkan karena tidak semua kebun sudah mempunyai infrastruktur jalan yang bagus. Akibatnya jika dipaksakan tentu akan merusak jalan. Dampak yang paling dirasakan adalah biaya perawatan baik untuk truk maupun jalan akan semakin tinggi,” kata Gatot Herry.

Konsep transportasi TBS di atas saat ini sudah diterima dan diterapkan di banyak kebun sawit di Indonesia, sehingga tentunya ini juga membuat persaingan di dalam produk sejenis semakin ketat, terutama dari fabrikasi lokal. Hal ini tidak membuat gentar pihak Probesco karena mereka yakin dengan kualitas dari produk HIAB yang dipasarkan. Memang dari segi harga tidak mungkin bisa bersaing dari produk lokal, tetapi dengan masa pakai yang jauh lebih lama dan bisa dikatakan lebih sedikit problem/kerusakan yang ada selama beroperasi, serta didukung pelayanan yang tersebar di berbagai wilayah, sebenarnya dari segi biaya per kilogram TBS bisa menjadi lebih murah. Semua tentu akhirnya menjadi pilihan bagi pemakai produk untuk memilih yang bagaimana yang terbaik buat mereka. Tetapi tetap kunci utama dari suksesnya sistim ini kembali berpulang kepada sumber daya manusia yang menjalankannya. Ini harus disadari sepenuhnya oleh customer.

Produk crane lain yang dipasarkan PT Probesco Disatama adalah Static Crane Jonsered J2490 dan HIAB XGR 18095. Produk ini adalah salah satu solusi yang bisa dipakai di dalam hal penanganan tandan kosong hasil produksi pabrik kelapa sawit (PKS). Umumnya dulu PKS menggunakan alat berat atau hopper untuk handling tandan kosong ini yang akan didistribusikan ke lapangan.

Konsep ini timbul guna menyiasati kenaikan harga bahan bakar yang digunakan alat berat serta biaya perawatannya yang cukup tinggi. Dengan memanfaatkan kelebihan daya listrik dari PKS, maka static crane ini sudah bisa membantu untuk memindahkan tandan kosong sawit ke atas truk. Konsep ini pun saat ini sudah sangat banyak diterapkan di PKS karena terbukti efektif dan efisien.

Secara umum Gatot menambahkan bahwa PT Probesco Disatama bukan sekadar hanya menjual produk melainkan mencoba menawarkan solusi yang lebih tepat guna kepada konsumen. Itu sebabnya, PT Probesco Disatama melakukan survei terlebih dahulu ke lokasi kebun customer untuk melihat aplikasi apa yang lebih cocok dan kemudian baru didiskusikan bersama dengan customer tersebut.

Konsep static crane ini juga bisa diterapkan di area pelabuhan customer untuk loading dan unloading TBS dan material lain. Terutama untuk customer yang lokasi dan operasional transportasi banyak menggunakan kapal atau ponton. Sebelum menerapkan sistim ini, untuk hadling TBS sekitar 5 ton dari kapal ke truk dengan menggunakan tenaga manual bisa memakan waktu hingga 4 jam lebih. Tetapi dengan crane bisa dilakukan hanya dalam waktu sekitar 15-20 menit saja. Tentunya ini suatu penghematan yang luar biasa.

Secara harga memang produk HIAB ini terkesan mahal, namun jika dibandingkan dengan lamanya masa pakai dan minimnya biaya kerusakan yang terjadi selama operasional, maka nilai mahal itu tidak terasa apa-apa. Mungkin produk lain sejenis bisa di jual dengan harga jauh lebih murah, Namun jika sering mengalami kerusakan dan masa pakai yang pendek, tentunya additional cost seperti ini akan tinggi. Belum lagi jika dihitung kerugian akibat terganggunya proses produksi. Jadi ada baiknya bagi customer yang belum memakai konsep ini, untuk dapat bertanya atau mencari informasi lebih lengkap kepada perusahaan lain yang sudah memakai konsep ini mengenai produk apa yang lebih tepat guna dengan biaya operasional rendah. Ini tentunya untuk menghindari kerugian yang mungkin timbul di kemudian hari. Yang pasti untuk produk Jonsered J2490 ini sudah teruji sejak mulai diperkenalkan pada 2004 dan diakui kehandalan hingga saat ini.

Penguatan layanan kepada konsumen diberikan PT Probesco Disatama lewat layanan purna jual berupa satu tahun garansi produk beserta tiga kali regular visit gratis. “Tapi dalam prakteknya kami datang lebih dari tiga kali karena operasional alat itu butuh banyak adjustment untuk menyesuaikan dengan kondisi lapangan,” jelas Gatot. Juga diberikan training kepada operator untuk operasi dan mekanik untuk rekomendasi perawatan. Bukti keseriusan Probesco untuk fokus di sektor ini dibuktikan dengan semakin banyaknya cabang yang sudah dibuka dan segera dibuka di daerah yang menjadi sentra kebun sawit. Intinya Probesco ingin menjadi semakin dekat dengan customer untuk memberikan jaminan pelayanan yang lebih.

Semakin diterima konsep sistim mekanisasi ini, maka perkembangan produsen alat mekanisasi juga kian cepat dan membuat harga jual semakin kompetitif. Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi PT Probesco Disatama karena mereka menyadari perbedaan harga yang cukup signifikan. “Kami tetap optimis dengan harga jual yang jauh dibanding harga produk kompetitor, tapi tetap dapat bersaing secara sehat dan dapat dibuktikan dengan kualitas dan khususnya ketahanan produk kami serta dukungan pelayanan yang berkesinambungan,” pungkas Gatot. (Anggar Septiadi)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.