Membaca Industri Sawit Tahun Depan

Gejolak ekonomi yang terjadi di Uni Eropa dan Amerika Serikat, cukup membawa pengaruh signifikan terhadap harga dan permintaan minyak sawit dunia. Kendati demikian, beberapa analis memprediksi tingginya permintaan CPO yang tidak diimbangi suplai memadai. Sehingga, harga CPO tetap tinggi pada tahun depan. Kondisi ini tentu saja akan berdampak positif kepada industri pendukung kelapa sawit.

Antisipasi terhadap dampak krisis global perlu ditingkatkan supaya sektor pertanian berbasis komoditas perkebunan, tetap dapat  menyumbangkan devisa tinggi kepada negara. Apalagi beberapa komoditas seperti CPO, karet, kakao dan teh ditujukan kepada pangsa pasar ekspor ke Asia, Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Dalam Seminar Commodity Price Outlook 2012,  Bustanul Arifin, Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance Indonesia (Indef), menyatakan  tantangan yan dihadapi sektor perkebunan  tidak saja berasal dari  krisis global melainkan anomali iklim yang cukup ekstrem. Untuk itulah dia mendesak supaya daya saing sektor perkebunan ditingkatkan, salah satunya pembangunan  kualitas sumber daya manusia, aplikasi teknologi dan inovasi.

Dia mengatakan industri pangan berbasis perkebunan sebaiknya terintegrasi  dari hulu sampai hilir seperti industri pengolahan, pemasaran, dan produk turunan lainnya. Dapat pula, membangun industri  yang terkait dengan faktor produksi antara lain pupuk dan benih. Supaya sektor hulu dapat memperoleh dapat keberadaan industri hilir, pemerintah diminta tetap konsisten menjalankan kebijakan hilir yang sekarang ini sedang disusun. Pasalnya, pelaku usaha mengharapkan adanya nilai tambah.

Selain itu, Indonesia perlu mencontoh Malaysia yang dapat mengoptimalkan pemakaian bahan baku untuk menghasilkan produk hilir dari sawit. Saat ini dengan jumlah produksi minyak sawit sebesar 20 juta ton, maka Indonesia berpeluang sebagai produsen hulu dan hilir kelapa sawit.

Teguh Patriawan, Wakil Ketua Komite Tetap Perkebunan Kadin  Indonesia, memaparkan teknologi menjadi salah satu faktor pendukung penting dari industri kelapa sawit. Ketika ada kesulitan lahan yang saat ini terganjal berbagai macam isu dan regulasi yang menghambatnya. Dukungan teknologi  ini dicontohkan dengan adanya peningkatan rendemen minyak sawit yang sekarang ini wajib diatas 20%, apabila klon sawit berasal dari Tenera.

Dia mengatakan teknologi tetap ada batasannya karena proses pabrik kelapa sawit tidak  ada proses kimia, melainkan benar-benar mekanis. Tetapi teknologi baru yang diterapkan di pabrik kelapa sawit belum tentu dapat meningkatkan produksi secara signifikan, tetap saja ada keterbatasan.
Dwi Asmono, Ketua Forum Komunikasi Produsen Benih Sawit Indonesia, mengatakan industri benih sawit diproyeksikan tetap dapat tumbuh kendati penerapan moratorium telah diberlakukan semenjak tahun ini. Hal ini terbukti dengan adanya produsen benih yang menjual produknya ke beberapa negara Afrika seperti Kamerun, Liberia, dan Nigeria.

Dia memperkirakan sampai akhir tahun volume ekspor benih sawit dapat mencapai lima juta ton sampai akhir tahun ini. Jumlah ini masih dibawah  kuota yang ditetapkan pemerintah sebesar 10% dari total produksi benih sawit. Total produksi benih sawit mencapai 143 juta butir kecambah atau naik 20% dari tahun lalu.

PELUANG INDUSTRI SAWIT 2012
Bustanul Arifin, mengatakan sektor perkebunan tahun depan tetap prospektif, kendati ada banyak gangguan seperti emisi karbon, konversi hutan  alam dan moratorium. Diperkirakan, dampak krisis finansial di Eropa hanya bersifat sementara yang tidak terlalu berpengaruh besar kepada  produk ekspor CPO  Indonesia. Kebutuhan negara Uni Eropa tetap tinggi karena produk CPO dan turunannya diperuntukkan bagi industri biofuel yang sekarang terus dikembangkan.

Memang, berdasarkan data Badan Pusat Statistik terjadi penurunan ekspor nonmigas terutama minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Jadi, penurunan nilai ekspor CPO sebesar US$ 1,1 juta akibat kebijakan bea keluar CPO yang diterapkan selama ini.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, ekspor kelapa sawit pada bulan Agustus 2011 adalah 1,82 juta ton dan menurun menjadi 1,6 juta ton pada bulan September 2011. Terjadi, penurunan di beberapa negara pembeli sawit Indonesia antara lain  India, Uni Eropa, dan Cina. Ekspor ke India menurun dari 637.000 ton pada Agustus 2011-546.000 pada bulan Agustus 2011. Ekspor ke Uni Eropa juga menurun dari 592 ribu ton menjadi 481.000 ton dan China adalah dari 305 ribu ton menjadi 293,000 ton, masing-masing, untuk periode yang sama.

Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gapki, mengatakan pelemahakan impor disebabkan krisis keuangan yang berkelanjutan dalam bahasa Yunani dan beberapa negara Eropa lainnya. Sementara itu permintaan impor dari Pakistan semakin kuat, karena pengurangan tarif impor ke Pakistan sebagai tingkat yang sama Malaysia dapat meningkatkan ekspor Indonesia ke Pakistan kelapa sawit. Ke depan, seiring membaiknya perekonomian Eropa dan ditambah dengan permintaan yang kuat dari beberapa negara, maka ekspor minyak sawit Indonesia akan menguat. (ym)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.