Harga TBS Turun, Produktivitas Petani Terancam

Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit anjlok setelah Hari Raya Lebaran di kisaran Rp 600-Rp 1.000 per kilogram.  Akibatnya, petani mengurangi biaya produksi khususnya pemupukan supaya tidak merugi. Produktivitas petani terancam turun pada tahun depan.

Laporan dari berbagai daerah sentra perkebunan sawit menunjukkan tren sama.Petani tidak lagi menikmati manisnya harga TBS semenjak Juli kemarin. Melemahnya harga minyak sawit dunia berdampak pula kepada harga beli pabrik sawit terhadap panen petani.

Di wilayah Cot Girek, Aceh Utara, sejumlah petani mengeluhkan rendahnya harga jual buah kepada pemasok/pedagang pengumpul. Hasil panen mereka dihargai antara Rp 500-Rp 600 per kilogram pada awal Agustus. Padahal, seminggu sebelum lebaran mereka masih terima harga Rp 1.150 per kilogram.

Kondisi serupa terjadi di Langkat, Sumatera Utara. Sri Sofyan, petani sawit yang tinggal di Desa Sangga Lima Kecamatan Gebang, Langkat, mengeluhkan merosotnya harga TBS yang diterima petani. Dia menceritakan hasil panennya dibeli pedagang sebesar Rp 600 per kilogram. Harga sebesar ini tidak menutupi biaya produksi petani.

Dia menghitung upah panen sudah sebesar  Rp 150 per kilogram ditambah biaya transportasi panen TBS  ke tempat pedagang Rp 60 per kilogram. Artinya, petani terima bersih Rp 390 per kilogram. “Duit sebesar itu  petani mau makan apa,” keluhnya.

Setiyono, petani kelapa sawit di Riau, menjelaskan dari Juli kemarin harga TBS terus turun setiap minggunya. Walaupun, harga TBS yang ditetapkan provinsi sebesar Rp 1.495 per kilogram. Tetapi harga beli TBS di level petani sekitar Rp 700-Rp 800 per kilogram.

Sebagai gambaran, ongkos perawatan kebun saja sudah Rp 600 per kilogram. Kalau petani terima harga Rp 700 per kilogram dari pedagang, ini artinya mereka harus nombok. “Umumnya yang menerima harga sebesar itu petani swadaya. Kalau petani plasma masih lebih baik,” ujarnya kepada SAWIT INDONESIA.

“Yang kami tahu ini pengaruh dari harga CPO dunia yang juga turu. Namun, ada pengaruh dari program pungutan CPO,” kata Setiyono yang menjabat sebagai Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Inti Rakyat (Aspekpir) Riau.

Dari informasi yang diperoleh Majalah SAWIT INDONESIA, petani sawit di daerah Bengkulu Selatan menerima harga buah Rp 450 per kilogram. Sementara itu di wilayah Bengkulu Utara, harga TBS dari pabrik Rp 1.050 per kilogram. Namun yang diterima petani rata-rata Rp 700 per kilogram setelah kena pemotongan biaya angkut.

(Selengkapnya baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi Agustus-September 2015)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.