Optimalisasi Pengolahan Limbah Cair Sawit Menjadi Listrik

PT Pasadena Engineering Indonesia (PEI) mengandalkan teknologi Retention Time Optimized Plug-Flow Reactor (Re-TOP) Process dalam pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi listrik.  Selain itu, PEI juga menawarkan konsep pembangunan pembangkit listrik dengan skema Koridor dan Klaster (Corridor and Cluster Scheme) kepada pabrik kelapa sawit.

Pengembangan energi listrik dari sumber terbarukan menunjukkan geliatnya dengan dukungan penuh pemerintah. Sebagai contoh, rencana Kementerian ESDM bersama kementerian terkait seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Pertanian yang akan mewajibkan pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) untuk diolah menjadi bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PTLBg).

Peluang bisnis biogas ini ditangkap dengan baik oleh PEI. Semenjak 2013, perusahaan memulai proyek PLTBg di Rokan Hulu, Riau berkapasitas 1 MW. Sumber bahan baku listrik berasal dari POME PKS berkapasitas 45 ton per jam.

Trio Chadys, VP Business Development  PT Pasadena Engineering Indonesia, mengatakan proyek tersebut merupakan pilot project dari Kementerian ESDM untuk PLTBg. Tujuannya, menyuplai pasokan listrik ke daerah pedalaman di Rokan Hulu. Di sana, sebelumnya pasokan listrik berasal dari genset berbahan bakar solar tetapi kurang mendukung. “Pasalnya, tidak dapat menyuplai listrik selama 24 jam penuh, tegangan tidak stabil, dan harga listriknya pun mahal. Sekarang dengan adanya PLTBg tegangan menjadi lebih stabil, bisa menyuplai listrik 24 jam serta harga listriknya jauh lebih murah,” jelas Trio.

PLTBg tersebut resmi beroperasi pada September 2014 untuk mendistribusikan listrik kepada 1.040 Kepala Keluarga (KK). Tetapi sekarang bertambah menjadi 1.780 KK di tiga Desa di Rokan Hulu yaitu Desa Rantau Sakti, Rantau Kasai, dan Mahato Sakti.

Untuk menarik minat konsumen, perusahaan menawarkan nilai tambah yang tidak dimiliki perusahaan lain. Trio Chadys mengungkapkan nilai tambah ini dari segi teknologi maupun sistem bisnis.

Dari aspek teknologi, Pasadena menawarkan  sistem Re-TOP Process untuk  mengoptimalkan proses pengubahan POME menjadi biogas. Sistem yang dikembangkan oleh Pasadena sendiri ini dijelaskan Trio mampu mengoptimalkan proses pembentukan biogas dari penguraian nutrien di dalam POME oleh bakteri.

“Dalam biodigester, teknologi sebelumnya melihat reaksi yang terjadi  hanya sebagai satu kesatuan saja. Padahal, sebenarnya ada empat reaksi yang dilakukan bakteri pengurai di sana. Jadi, kita bagi empat bagian dalam reaktor tersebut yang disesuaikan dengan karakteristik dari masing-masing reaksi tersebut sehingga biogas yang dihasilkan menjadi optimal,” jelas Trio.

Trio menambahkan bahwa proses ini terbukti cukup efisien seperti yang diaplikasikan dalam pembangunan biodigester PLTBg yang saat ini tengah dibangun oleh PEI di Kalimantan Tengah. Teknologi ini mampu memperkecil volume kolam biodigester tersebut hingga 40 persen.

Keunggulan berikutnya adalah skema bisnis koridor dan kluster yang ditawarkan kepada pabrik kelapa sawit (PKS) dan pemerintah daerah. Skema bisnis ini, menurut Trio, memberikan nilai keekonomian lebih tinggi. Sebagai contoh, satu PKS berkapasitas 45 ton tandan buah segar (TBS) perjam POME-nya mampu menyuplai PLTBg berkapasitas sekitar 1,5 – 2 MW. Tapi jika hanya membangun satu PLTBg seperti ini saja maka menjadi kurang menarik bagi investor dari sisi keekonomiannya. Menurut Trio, keekonomian investasi PLTBg POME baru dinilai menarik jika kapasitasnya di atas 2 MW.

(Selengkapnya baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Desember 2015-15 Januari 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.