Biofungisida Nogan : Awas, Ancaman Ganoderma Di Perkebunan Sawit

Pengendalian Ganoderma harus dilihat sebagai bagian dari investasi dan bukan bagian dari biaya

Ancaman Ganoderma terhadap tanaman kelapa sawit akhir-akhir ini semakin banyak dibicarakan dalam forum diskusi manajemen, seminar, maupun media di sektor perkebunan. Sebab telah terungkap fakta bahwa saat ini Ganoderma dapat menginfeksi tanaman muda generasi pertama, di mana sebelumnya kita hanya mendengar dan menyaksikan bahwa serangan hanya terjadi pada tanaman tua generasi tiga dan empat atau perkebunan dengan usia 60 – 80 tahun. Penyakit yang ditimbulkan sering disebut Busuk Pangkal Batang atau dikenal dengan istilah Basal Stem Rot (BSR) apabila serangan sudah mencapai stadium berat pohon otomatis akan tumbang.

Kerugian yang ditimbulkan akibat serangan Ganoderma ini bukan main-main lagi, karena populasi tanaman akan tergerus terus apabila tidak ada langkah pengendalian konkrit. Sementara belum ditemukan obat yang mampu mengatasi secara curative apabila ditemukan obatnya pun yang terjadi masalah berikutnya adalah sulit mendeteksi batas penyebarannya karena penularan yang terjadi lebih banyak karena kontak melalui perakaran. Ganoderma Center (2011) dalam suatu seminar menyatakan beberapa estate di daerah yang sudah terinfeksi berat maka kerusakan populasi bisa mencapai 60%.

Penurunan produktivitas minyak sawit akibat infeksi Ganoderma ini selain disebabkan karena turunnya populasi, juga diduga infeksi ini berpengaruh terhadap penurunan rendemen minyak sawit.

Heri DB, Presiden Direktur PT Mitra Sukses Agrindo mengungkapkan bahwa bahaya serangan Ganoderma bagi sebagian perusahaan perkebunan masih belum dipandang serius. Pandangan ini diakibatkan dua faktor; pertama, gejala awal serangan Ganoderma cenderung tidak mudah dideteksi karena dalam beberapa kasus simptom nya menyerupai defisiensi hara, tanda serangan mudah dikenali kalau sudah muncul tubuh buah (basidiocarpa). Namun, kondisi ini sudah terlambat mengingat tanaman sudah mati.

Faktor kedua, pengetahuan para planters tentang gejala penyakit akibat serangan Ganoderma pada sebagian besar perkebunan masih sangat terbatas. Hal ini dapat dimaklumi karena selama ini serangan Ganoderma diyakini hanya terjadi pada tanaman generasi tua.

Maraknya penyebaran infeksi Ganoderma akhir-akhir disebabkan ketidakseimbangan ekosistem, di mana populasi musuh alami jamur patogen sudah menurun drastis yang salah satunya disebabkan karena penggunaan produk-produk kimia berlebihan. Akibatnya terjadi penurunan bahan organik tanah yang merupakan makanan musuh alami Ganoderma, sedangkan jamur patogen Ganoderma ini terus mencari makanan berupa lignin dimulai dari perakaran sampai menuju batang sawit tanpa diganggu musuh alaminya.

Musuh alami Ganoderma adalah Trichoderma yang seharusnya hadir secara alamiah dengan populasi cukup. “Apabila kondisi ekosistem berada pada keseimbangan alam, sehingga pergerakan jamur patogen menuju batang sawit akan terhenti dengan hadirnya musuh alami yang mematikannya,” ujar Heri DB yang juga mantan praktisi sawit selama kurang lebih 25 tahun ini.

Satu-satunya cara pengendalian Ganoderma di perkebunan adalah memasukkan dan melipatgandakan populasi Trichoderma jenis tertentu yang efektif menghancurkan jamur patogen Ganoderma Boninense.

Salah satu produk biofungisida berbasis Trichoderma yang sangat efektif menghancurkan Ganoderma adalah NOGAN produksi PT Mitra Sukses Agrindo (MSA). Keunggulan biofungisida ini dibandingkan produk sejenis adalah :

  • Bahan aktif terdiri dari tiga spesies Trichoderma pilihan dengan induser yang mampu memproduksi lebih banyak enzim chitinase yang sangat efektif untuk menghancurkan dinding sel Ganoderma.
  • Aplikasi sangat mudah dan cepat karena berupa tepung yang hanya dengan ditabur sehingga tidak merubah budaya kerja kebun.
  • Carrier yang digunakan diformulasi secara khusus dengan bahan-bahan yang kaya asam humat dan asam organik lain sehingga membuat tanaman mudah recovery, lebih vigor (kuat dan sehat) dan tidak mengundang hama seperti semut, tikus dll.
  • NOGAN dengan bahan aktif dan induser serta carrier pilihan tersebut mampu meningkatkan populasi Trichoderma di daerah perakaran dengan sangat cepat.

Rekomendasi untuk membebaskan resiko terhadap infeksi Ganoderma, sebaiknya NOGAN digunakan sejak pembibitan, pupuk lubang, TBM dan TM. Hal ini untuk memastikan populasi musuh alami tetap tersedia cukup untuk menghentikan agresi jamur patogen Ganoderma.
Sebagai mantan praktisi sawit, Heri DB menganjurkan apabila sudah menempatkan Ganoderma menjadi masalah yang serius maka harus diterjemahkan dalam struktur organisasi dimana manajemen harus membentuk divisi atau tim khusus pengendalian Ganoderma dengan tugas-tugas pokok antara lain 1) investigasi kebun bersama pakar

Ganoderma 2) training staf terkait gejala dan pengendalian Ganoderma 3) antisipasi dengan menggunakan biofungisida berbasis Trichoderma 4) mengembalikan bahan organik ke lapangan seperti jangkos dalam bentuk kompos matang 5) merekomendasikan substitusi sebagian pupuk kimia dengan pupuk-pupuk organik mikroba berbasis PH tinggi. Dengan fokus penanganan tersebut maka evaluasi terhadap kemajuan pekerjaan akan lebih mudah dilakukan.

“Mengingat resiko kerugian akibat serangan Ganoderma sangat besar, maka anggaran yang dibutuhkan untuk kepentingan pengendalian Ganoderma termasuk anggaran biofungisida yang digunakan sudah selayaknya menjadi bagian dari INVESTASI dan bukan bagian dari BIAYA,” demikian Heri DB menutup pembicaraan. (adv)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.