Pelemahan Harga Minyak Bumi, Pertamina Diminta Komitmen Program B20

Merosotnya harga minyak bumi berpotensi mengganggu program mandatori biodiesel. Subsidi biodiesel dikhawatirkan membengkak dari prediksi awal. Pertamina diminta berkomitmen menjalankan program mandatori B20 di saat pelemahan harga minyak bumi

“Kalau harga minyak sudah di angka 20 dolar. Sementara harga CPO seperti sekarang ini, maka dana sawit (CPO Fund) akan kesulitan untuk mendukung program B20 sepenuhnya,” kata Dadan Kusdiana, Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit.

Bayu Krisnamurthi, Direktur Utama BPDP Sawit, mengakui apabila harga crude oil di bawah US$ 40 per barrel membuat nilai subsidi lebih besar. Di sisi lain, kenaikan harga CPO di atas US$ 650 per ton berdampak kepada hilangnya daya saing produk hilir. Menurutnya, harus dikaji lagi keseimbangan dana pungutan CPO.

“Simulasi pemberian subsidi telah dibuat lembaganya untuk mengantisipasi nilai subsidi,” kata Bayu. Kendati demikian, dia enggan merinci lebih detilnya.

Sebagai pengelola dana perkebunan sawit, BPDP berperan membayarkan selisih Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel dengan harga solar. Saat ini, penggunanaan biodiesel masih dicampur dengan solar – di SPBU produknya bernama biosolar. Pemberian subsidi ini berdasarkan mengacu kepada sejumlah komponen yaitu harga biodiesel, harga minyak bumi, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika serikat. “Pembayaran subsidi biodiesel kepada produsen setiap dua bulan sekali,” ujarnya.

Bayu mengatakan subsidi ditentukan oleh harga solar (crude oil) dan harga CPO. “Sekarang ini subsidi FAME biodiesel sebesar 2800 rupiah per liter,” ujarnya pada 6 Januari 2016 kepada SAWIT INDONESIA.

Immanuel Sutarto, Komisaris Utama PT Eterindo Wahanatama Tbk, mengakui cukup khawatir melihat perkembangan harga minyak bumi yang terus turun. Walaupun demikian, dia cukup optimis bahwa pungutan CPO yang dikelola BPDP sawit masih mencukupi subsidi biodiesel.

Pada tahun ini, penyerapan biodiesel di dalam negeri 825 ribu Kl. Jumlah ini lebih rendah dari tahun 2014 yang mencapai 1,6 juta Kl. “Tahun lalu, harga minyak masih tinggi. Selain itu ditopang masih ada subsidi untuk biodiesel,” kata Bayu dalam jumpa pers akhir tahun di Jakarta pada Senin (14/12).

Sementara itu, kebijakan subsidi biodiesel yang ditanggung dana pungutan CPO baru berjalan efektif Agustus. Sehingga penyerapan biodiesel domestik belum terlalu optimal.

Dari total konsumsi biodiesel sebanyak 825 ribu Kl terdiri dari konsumsi biodiesel dari Januari sampai Agustus 2015 berjumlah 400 ribu Kl termasuk biodiesel subsidi dan non subsidi yang ditanggung CPO Fund. Dari September hingga Desember, penyerapan biodiesel bersubsidi (PSO) berjumlah 375 ribu Kl dan penyerapan biodiesel non subsidi dari September- Desember 2015 berjumlah 50 ribu Kl.

Per 11 Desember, biodiesel bersubsidi yang sudah disalurkan 303 ribu Kl termasuk program dukungan dana sawit. Sampai akhir Desember akan disalurkan 72 ribu Kl, sehingga total mencapai 375 ribu Kl. BPDP telah membayarkan Rp 113 miliar dana untuk program biodiesel, akan segera dibayarkan Rp 105 miliar dan proses verifikasi transaksi biodiesel Rp 246 miliar.

Bayu Krisnamurthi memperkirakan jumlah biodiesel yang akan diserap Pertamina tahun ini mencapai 3,5 juta-3,6 juta ton. Dengan begitu nilai subsidi yang mesti dialokasikan sebesar Rp 7,5 triliun-Rp 8 triliun. BPDP sawit memperkirakan kutipan dana pungutan mencapai Rp9,6 triliun pada 2016.

(Selengkapnya baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Januari 2016-15 Februari 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.