Membedah Daya Saing SDM Sawit Lokal Pasca MEA

SDM tenaga kerja sawit lokal mampu bersaing dengan pekerja asing kendati pasar bebas ASEAN sudah berjalan pada tahun ini. Dari segi kualitas pekerja lokal sangatlah mumpuni ditambah kemampuannya untuk beradaptasi dengan masyarakat di sekitar perkebunan.

“Secara prinsip dalam jangka pendek, pasar bebas ASEAN belum berpengaruh kepada SDM lokal. Orang-orang kita (pekerja lokal) lebih handal,” ungkap Purwadi, Rektor Institut Perkebunan (Instiper) Yogyakarta kepada SAWIT INDONESIA.

Menurutnya, keunggulan SDM lokal telah memiliki karakter dan mental yang kuat untuk bekerja di perkebunan sawit yang pada umumnya di remote area. Jadi, SDM perkebunan bukan semata-mata urusan teknis melainkan punya karaktter dan pemahaman tata kelola sosial. Kekurangan SDM dari negara lain adalah punya kemampuan teknis belum tentu karakternya kuat dan bisa melakukan pendekatan budaya

Sumarjono Saragih, Ketua Bidang Tenaga Kerja Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), berpendapat sama dengan Purwadi. Menurutnya, secara spesifik belum ada ancaman langsung pasca pemberlakukan pasar bebas Asean. Lantaran, hanya delapan profesi yang bisa diisi tenaga kerja asing antara lain dokter gigi, arsitek, teknik mesin, tenaga pariwisata, insinyur, perawat, tenaga survei, dan akuntan.

Untuk unskilled labour, belum diperbolehkan secara bebas. Walaupun di kemudian hari bisa saja profesi di perkebunan sawit seperti operator boiler dan mekanik dapat diisi oleh tenaga kerja asing.

“Tapi dengan lokasi sawit di area remote (red-terpencil) sepertinya tidak akan menarik bagi tenaga kerja asing,” kata Sumarjono.

Pandangan lain diungkapkan Derom Bangun, Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) bahwa pasar bebas ASEAN bisa berdampak buruk kepada tenaga kerja lokal apabila tidak punya sertifikat kompetensi. Pasalnya untuk sejumlah profesi di industri sawit belum mengenal sertifikasi.

“Di negara lain, tenaga kerja operator operator boiler harus punya steam certificate. Di sini masih jarang operator punya sertifikatnya. Khawatirnya, industri hilir sawit membutuhkan pekerja yang bersertifikat dan itu tidak bisa kita tolak,” kata Derom.

Purwadi mengatakan dua tahun lalu sudah pernah mengusulkan sertifikat kompetensi bagi pekerja sawit di tanah air. Sertifikasi ini bisa bermanfaat untuk menyeleksi tenaga kerja asing yang ingin bekerja di perkebunan sawit. Misalkan saja, pekerja migran harus punya sertifikat planters sebagai salah satu syarat melamar pekerjaan di perusahaan sawit di indonesia.

“Sayangnya, perkembangan kompetensi sertifikat planters masih debatable. Ada yang mengkritik kurang fokus dan masih banyak kelemahan. Sebenarnya, kalau ada yang harus disempurnakan tinggal disempurnakan saja detail kompetensinya. Disinilah perlunya keterlibatan aktif perusahaan sawit sebagai pengguna tenaga kerja,” kata Purwadi.

Purwadi menyebutkan memang belum ada kewajiban punya sertifikat planters itu belum ada. Tapi biasa orang Indonesia kalau belum kepepet, ya tidak jalan. Standar kompetensi mestinya dari asosiasi profesi tetapi karena lembaga belum terbentuk maka diambil Badan SDM Kementan. “Lalu dibuat standar kompetensinya tapi karena tidak melibatkan pengguna seperti swasta. Maka kurang optimal idealnya ini menjadi kerjaan bersama,” kata Purwadi.

Lebih lanjut, kata Purwadi, perusahaan belum berani mengajukan syarat sertifikasi bagi pekerja kebun. Perusahaan masih bersikap wait and see lantaran muncul kekhawatiran sertifikasi memunculkan permintaan kenaikan gaji.

“Sayangnya, perkembangan kompetensi sertifikat planters masih debatable. Ada yang mengkritik kurang fokus dan masih banyak kelemahan. Sebenarnya, kalau ada yang harus disempurnakan tinggal disempurnakan saja detail kompetensinya. Disinilah perlunya keterlibatan aktif perusahaan sawit     sebagai pengguna tenaga kerja,” kata Purwadi.

 

“Perusahaan secara budaya belum mengarah kesana. Konsekuensi ya semestinya sambil jalan,” tuturnya.

Instiper Yogyakarta mewisuda sekitar 400 mahasiswa setiap tahun. Dari jumlah tersebut, kata Purwadi, hampir 80% terserap langsung ke perkebunan. Lembaga pendidikan yang berdiri pada 1958 ini punya lima program Studi: Agroteknologi, Agribisnis, Teknik Pertanian, Teknologi Hasil Pertanian, dan Kehutanan. “Menariknya yang saya tahu perusahaan perkebunan lebih pilih mahasiswa Instiper karena karakternya tahan banting dan fleksibel, “ungkap Purwadi.

(Selengkapnya baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Januari 2016-15 Februari 2016)

Sumber foto: PT Socfindo

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.