Sistem Drainase Perkebunan Kelapa Sawit

Pengembangan perkebunan kelapa sawit saat ini terkendala oleh ketersediaan lahan dan regulasi. Diluar masalah regulasi, alternatif lahan yang tersedia saat ini adalah lahan-lahan basah, misalnya karena pengaruh pasang surut atau genangan permanen. Walaupun secara kesesuaian lahan adalah tidak sesuai saat ini (present not suitable), tapi dengan input teknologi dan manajemen tata air yang tepat, beberapa lahan yang mempunyai karakteristik seperti diatas dapat dinaikkan tingkat kesesuaiannya.  

Melalui aplikasi sistem manajemen tata air (water management system) terpadu yang merupakan kombinasi antara berbagai aspek teknis seperti tanah, hidrologi, topografi dan aspek sosial, diharapkan dapat menjadi solusi mengatasi ketersediaan lahan saat ini yang dibutuhkan oleh perusahaan perkebunan dalam rangka pengembangan usahanya saat ini dan ke depan nanti.

Kata kunci dalam water management system untuk bidang perkebunan adalah “membuang air berlebih (drainage) dan menjaga muka air tanah yang dibutuhkan tanaman (sistem irigasi).

Ada perusahaan yang areal perkebunannya tidak basah (bukan rawa dan juga bukan areal yang terkena luapan) mengembangkan sistem irigasi untuk meningkatkan produksinya. 

Beberapa perusahaan yang pernah ditangani oleh konsultan PT. Warekon Geoperta Utama Sejati dalam hal penyusunan desain kebun dan tata kelola airnya (water management system) antara lain Grup Astra Agro Lestari (di Kalimantan Selatan : lahan PT. Subur Agro Makmur, PT. Tribuana Mas, PT. Persada Dinamika Lestari, PT. Cakung Permata Nusa), Investor India (di Kalimantan Selatan : lahan PT. Tasnida Agro Lestari), Investor China/ Tianjin Julong Group (di Kalimantan Selatan : lahan PT. Putra Bangun Bersama), JA Wattie Group (di Kalimantan Selatan : lahan PT. Kintap Jaya Wattindo).

1.TIPE-TIPE DRAINASE :

 

  • Parit Sirip adalah saluran yang ada pada blok-blok, yang dibuat tiap beberapa lajur tanaman tergantung kondisi tanah. Ujung parit sirip berhubungan dengan saluran tersier.
  • Kanal Tersier adalah saluran yang menerima limpasan dari parit-parit sirip.
  • Kanal sekunder adalah kanal yang menerima beban limpasan dari kanal-kanal tersier. 
  • Kanal semi primer adalah kanal yang menerima beban limpasan dari kanal tersier dan kanal sekunder. Kanal semi primer merupakan alternative dari kanal sekunder dikarenakan debit yang tertampung melebihi kapasitas dari kanal sekunder.
  • Kanal primer adalah kanal yang menerima beban limpasan dari kanal-kanal sekunder dan kanal semi primer. Dengan demikian debit terbesar ada pada bagian hilir saluran primer. 
  • Pada bagian hilir saluran primer terdapat outlet yang menghubungkan lahan kebun dengan lahan di luar kebun yang telah dibatasi dengan tanggul.

 

2.TUJUAN PEMBUATAN DRAINASE :

  • Membuang kelebihan air di musim hujan dan mempertahankan  air  pada musim kemarau sehingga mengendalikan kedalaman water table maksimum 60 cm. 
  • Khusus untuk tanah yang mengandung pirit (Fe2SO4), drainase berfungsi juga untuk mencuci pirit.
  • Khusus tanah bergambut selain menjaga kelembaban juga berfungsi mengurangi kemasaman tanah, agar tanah memiliki kondisi rhizosphere yang sesuai bagi tanaman.
  • Kedalaman permukaan air tanah pada parit kebun diusahakan agar tidak terlalu jauh dari akar tanaman, jika permukaan air terlalu dalam maka oksidasi berlebih akan mempercepat perombakan gambut, sehingga gambut cepat mengalami subsiden (penurunan).

 

3. PRINSIP DASAR DRAINASE :

Prinsip dasar dari suatu sistem drainase khususnya pada kebun kelapa sawit adalah menyekap air, kemudian mengumpulkannya, dan membuang air yang berlebih keluar areal. Dengan demikian, drainase harus dirancang dalam bentuk jaringan yang memanfaatkan topografi (spot heigh) dan mengalirkan kelebihan air berdasarkan gaya berat. Merancang sistem drainase yang baik harus mengacu pada peta topografi (spot heigh) dan bukan berdasarkan kondisi visual saja (feeling); sesuatu yang sering terjadi di perkebunan dan umumnya tidak efektif hasilnya. 

4. PRINSIP DASAR PEMBUATAN SISTEM DRAINASE :

 

  • Dilihat dari kondisi areal, baik tergenang secara permanen maupun sementara merupakan indikasi adanya banjir.
  • Volume air yang perlu di drainase.
  • Dilihat dari jenis tanah, apakah areal tersebut bergambut atau mengandung pirit . 
  • Untuk kepentingan peningkatkan hasil produksi.
  • Sistem transportasi yang akan digunakan, apakah jalan (darat) atau sungai/kanal (yg berfungsi sbg media transportasi). 

 

5. APAKAH PEMBUATAN DRAINASE JUGA MEMPERHITUNGKAN KADAR AIR ?

Ya.

6. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBUATAN DRAINASE :

  • Kepemilikan lahan yang akan dilalui oleh saluran drainase.
  • Dampak terhadap lingkungan setelah dibangun drainase.

7. MEMPERHITUNGKAN KEMAMPUAN DRAINASE DALAM MENGALIRKAN AIR :

 

  • Pembuatan saluran drainese harus berdasarkan peta kontur atau peta spot heigh. Sehingga arah aliran bisa maksimum.
  • Pencarian rencana outlet.
  • Lebar saluran dihitung berdasarkan data curah hujan tertinggi, kemiringan dan luar areal yang akan di drainase.

 

8. TEKNIS PEMBUATAN SALURAN DRAINASE :

 

  • Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan saluran drainase adalah wajib adanya peta kontur atau spot heigh agar pola aliran air dapat diketahui.
  • Pembatasan wilayah areal yang akan di drainese dengan dibuatkannya tanggul keliling sehingga membentuk folder tertutup yang berfungsi untuk mencegah aliran air dari luar areal atau disebut juga zona tata air.
  • Perhitungan lebar saluran yang dibutuhkan.
  • Saluran air harus membentuk suatu jaringan dan saling berhubungan, di mana saluran drainase lapangan (parit sirip) bermuara pada drainase pengumpul (kanal tersier/sekunder/primer) dan drainase pengumpul bermuara pada drainase pembuangan (outlet).  
  • Pembuatan penampang saluran air harus semakin membesar pada daerah hilir sesuai dengan urutan drainase lapangan, pengumpul, dan pembuangan.
  • Pada bagian hilir dibuatkan bangunan pintu air agar air dilahan dapat di atur sesuai kebutuhan tanaman. 

 

9. KENDALA DALAM PEMBUATAN DRAINASE :

  • Biasanya terjadi pada saluran pembuangan/outlet menuju sungai. Kendala tersebut berupa masalah sosial dan kondisi outlet tidak memadai (air di luar lebih tinggi dibanding air di areal studi atau daya tampung outlet kurang dibanging dengan DAS sungai tersebut).
  • Sebagian besar managemen kebun sering mengabaikan sistem tata air dan lebih mengutamakan target tanam, akibatnya bila pada musim hujan areal tersebut malah kebanjiran yang seharusnya areal tersebut aman dari masalah tersebut.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.