Peran Konsultan Perkebunan Dulu Dan Sekarang

POSISI  KONSULTAN 

Didalam melakukan aktivitas pembangunan  dan pengembangkan usahanya para investor atau calon investor akan memerlukan  jasa konsultan untuk memperoleh informasi  yang baik dan benar.Menurut  arti   kata dasarnya     seorang  Konsultan adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk memberikan advis berdasarkan keahliannya kepada fihak  lain (perseorangan, badan, PT, dsb) yang memerlukan bantuan nasehat yang berbobot dan bernilai   professional..

Adapun menurut pengertian kata bendanya Consultancy  adalah orang atau grup orang-orang yang  memberikan jasa pelayanan konsultansi yang mendirikan suatu perusaahaan berupa yang mampu memberikan rekomendasi berdasarkan   keahliannya  yang profisionalisme dalam sesuatu bidang kegiatan usaha yang spesifik (perkebunan , pertambangan, perikanan dsb).Lebih spesifik lagi misalnya dalam bidang perkebunan kelapa sawit dengan berbagai sub-sub subyek kegiataannya (tanaman, bangunan, pabrik pengolahan kelapa sawit dsb)Jadi  kata kuncinya terletak pada kata keahlian dalam satu bidang yang spesifik  dan profesionalisme.Namun  sebenarnya disamping  keahlian dan profesionalisme, masih terdapat satu factor penopang lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu moralitas.

Betapapun hebat keahlian dan profesionalnya, apabila moral (mentalitas) si konsultannya lemah, dapat  dibeli untuk kepentingan  sesaat, maka cepat atau lambat jatuhlah reputasi si konsultan tsb. Dalam  guyonan sehari-hari di kalangan  konsultan, mereka  akan dikenal sebagai konsultan copy-paste dan yang menjadi korbannya  adalah investor yang akan menanggung kerugian financial yang besar di kemudian hari. Seorang konsultan harus selalu meng-up date  dirinya  dan mengikuti  perkembangan    kemajuan teknologi  terkini , maupun segala regulasi  dari instansi -instansi terkait  di pusat maupun  di daerah.Tidak ada sekolahan yang  khusus mendidik untuk menjadi konsultan. Konsultan ditempa dari pengalaman  kerja profesionalnya yang kadang-kadang berbeda dengan basic pendidikan formalnya.Bermunculannya perusahaan-perusahaan  Konsultan Perkebunan dimulai pada permulaan era Orde Baru dimana pemerintah memerlukan masuknya modal asing dari luar dengan diberlakukannya Undang-Undang Penanaman Modal Asing.  

Lembaga keuangan internasional seperti Word Bank, ADB dsb  yang memberikan soft loan untuk pembangunan  dan merehabilitasi  perkebunan-perkebunan negara  (karet, kelapa sawit,pabrik gula dsb) , mensyaratkan harus mempergunakan   konsultan-konsultan asing didalam melakukan  penilaian terhadap besarnya dana investasi yang harus dikucurkan dan pemerintah RI diwajibkan menyediakan dana pendamping.

Pada waktu itu para  konsultan Indonesia hanya berfungsi sebagai pemasok data dan informasi saja. Konsultan Indonesia dibina  oleh konsultan asing bagaimana metodologi suatu survey  dan membuat suatu studi kelayakan ( Feasibility Study)Tumbuhlah proyek-proyek yang dinamakan proyek NES (Nucleus Estate and Smallholder) yang diterjemahkan menjadi proyek PIR  (Proyek Inti Rakyat), mulai dari NES I  s/d NES  VI  yang kemudian lebih spesifik lagi menurut obyeknya seperti  PIR-Bun, PIR-Trans, PIR-Lok  dsb.Titik berat  studi/survey pada waktu itu terletak pada kelayakan financial.

POSISI  INVESTOR

Pada dasarnya  investor adalah orang atau beberapa orang atau badan yang didalam usahanya menggabungkan faktor-faktor sumber daya alam, sumberdaya manusin,  modal dan organisasi . Faktor- faktor tsb harus dikelola dengan cermat  dan seimbang  sejak awal melakukan aktivitasnya  supaya memperoleh keuntungan yang optimal dan mencegah terjadinya kerugian yang dapat dicegahi sedini mungkin. Dengan demikian investor atau calon investor harus selektif  dalam menentukan konsultan yang  dipilihnya. Sedia payung sebelum hujan akan selalu jauh lebih baik dari pada berpayung setelah hujan, sehingga  kerugian  bisa dicegah atau sedikitnya bisa diminimalisir.Kadang-kadang   terjadi tanggapan yang keliru atau salah kaprah dari  para investor yaitu apabila hasil survey menunjukkan tidak layak atau tidak sesuai, pelunasan pembayaran kepada konsultan  tidak dibayar, dengan alas an proyeknya tidak jadi dilaksanakan.

Padahal baik hasil survey yang bersifat negatif maupun yang positif  nilai bobotnya sama berharganya, yaitu member warning kepada investor supaya rencana investasi ditangguhkan atau dicari alternative lainnya.Dalam situasi dan kondisi persaingan  yang makin ketat dewasa ini diantara para perusahaan konsultan, penawaran biaya  survey yang diajukan sangat bervariasi. Investor atau calon investor  hendaknya jangan terjebak  oleh  nilai harga quotation yang  rendah  yang kadang-kadang  hampir-hampir  tidak masuk akal.

Kegiatan implementasi investasi berlangsung secara bertahap dimulai dengan pengajuan   untuk memperoleh segala macam perizinan teknis administratif (Izin lokasi, Amdal, IUP, HGU, dsb)  dan kemudian menilai kesesuain  fisik teknis lahan  yang akan dijadikan areal proyek  serta verifikasi dan analysis kondisi sosial ekonomi yang melingkupinya. Disinilah peran konsultan harus tampil dengan segala keteguhan prinsipnya, berazaskan profesionalisme dan pengalaman yang dimilikinya.Kalau daril  investigasi  awal  hasil desk study saja sudah memberikan indikasi  bahwa   areal itu tidak layak, konsultan harus berani dan  tegas menyampaikannya.

Atau memberikna jalan keluar  solusi pemecahan ,  berupa alternatif-alternatif   dengan menyampaikansegala  plus minus yang akan dihadapinya. Kalau dirasa masih diragukan, investor bisa juga menugaskan konsultan independen lainnya untuk memperoleh masukan berupa second opinion.Tentu saja keputusan akhir ada pada tangan investor, apakah akan terus maju atau stop. 

PERGESARAN TATA NILAI

Apabila dulu titik berat evaluasi  studi/survey terletak pada kelayakan finansialnya,  kini bergeser ke kelayakan sumber daya alamnya, khususnya tingkat kesesuaian lahan dan lingkungan di sekitarnya, disamping Tata Ruang Wilayah tersebut dan kondisi Sosial- Ekonomi masyarakat  khususnya dalam pelaksanaan pola kemitraan Inti – Plasma. Faktor Sosial menjadi factor telaahan yang makin menonjol.

 Dengan tingkat harga jual CPO yang terus melambung tinggi  dan ketersediaan tanah  mineral yang makin langka  serta  ketentuan  moratorium yang ketat, menyebabkan   kelayakan financial        ( take for granted) sudah dipandang tidak menjadi persoalan, walaupun biaya investasinya juga makin meningkat. Dulu besaran nila angka FIRR berkisar antara 15 % s/d 18 %;  kini melejit diatas 20 %.

Pelunasan kredit investasi dulu rata sekitar 15 tahun, sedangkan sekarang menjadi lebih pendek dibawah 10 tahun.

Dengan makin langkanya tanah mineral lahan kering, pencarian lahan untuk  pembangunan perkebunan kelapa sawit  juga bergeser ke lahan basah dengan segala tantangan teknologinya.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.