Penggunaan Aneka Ragam Produk Kelapa Sawit Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Industri Kelapa Sawit (Bagian Kedua)

Produk untuk bahan baku industri 

Kelapa sawit mempunyai peluang yang cukup besar menggantikan minyak bumi sebagai pemasok bahan baku biosurfaktan untuk diaplikasikan pada industri perminyakan, farmasi, makanan, biokosmetik, tekstil, pulp kertas . Kebutuhan surfaktan pada 1995 sebesar 9,3 juta ton dan pada tahun 2005 mencapai 12,5 juta ton. Biosurfaktan mempunyai sifat yang sama seperti surfaktan, akan tetapi biosurfaktan lebih rendah tingkat toksisitasnya dan mudah terurai secara biologis. Biosurfaktan dapat diproduksi dari bahan alami menggunakan mikroorganisme seperi bakteri, ragi dan kapang. Juga dapat dihasilkan melalui proses biotransformasi menggunakan enzim lipase spesifik dan non spesifik. Biosurfaktan saat ini lebih banyak digunakan pada produk – produk yang langsung berhubungan dengan kehidupan manusia seperti kosmetik dan makanan. Limbah cair PKS yang masih mengandung minyak rata – rata 0,7% dapat digunakan sebagai bahan baku biosurfaktan. Sedangkan asam lemak destilat yang merupakan hasil samping dari proses fraksinasi minyak sawit mentah menjadi olein dan stearin (jumlahnya sekitar 2-4% dari minyak sawit mentah yang digunakan), juga dapat digunakan sebagai bahan baku biosurfaktan. 

Deterjen merupakan salah satu jenis surfaktan yang banyak digunakan dalam bidang rumah tangga. Pada umumnya deterjen diformulasi dari akil benzene sulfonat linier (LAS) yang berasal dari minyak bumi, sehingga deterjen tersebut sulit didegradasi secara alami. Oleh karena itu diperlukan bahan baku alternatif sebagai penggantinya yaitu dengan jalan memanfaatkan  α – sulfo fatty methyl ester dari minyak sawit yang memiliki asam lemak dengan rantai karbon C12-C14. α – sulfo fatty methyl ester mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan LAS, yaitu mudah terdegradasi di alam, mempunyai sifat deterjensi yang lebih tinggi. 

Salah satu produk oleokimia yang luas penggunaannya adalah senyawa epoksi. Yang digunakan sebagai plasticizier dan stabilizer pada PVC, surfaktan, antimikrobial, pencegah korosi, bahan tambahan pada minyak pelumas dan sebagai bahan baku pestisida, senyawa epoksi disintesis melalui reaksi oksidasi secara in-situ ALTJ (Asam Lemak Tidak Jenuh) dengan menggunakan asam peroksi asetat sebagai oksidator dan asam sulfat pekat sebagai katalisator. Kebutuhan plasticizier untuk industri kimia dunia diperkirakan mencapai 150-200 ribu ton setiap tahunnya. Plasticizier apabila ditambahkan ke dalam resin keras atau kaku seperti karet, PVC, maka akumulasi gaya polivinil intermolekuler pada rantai panjang akan menurun sehingga kelenturan /fleksibilitas, kelunakan dan perpanjangan bertambah. Hingga saat ini sebagian bahan baku plasticizier masih didominasi oleh turunan minyak bumi seperti dioksi ftalat. Salah satu jenis plasticizier yang dapat digunakan untuk pemlastis karet sintetik dan resin adalah senyawa butil diasetoksi stearat. Senyawa ini dapat disentesis dari minyak nabati yang mengandung asam lemak rantai panjang misalnya asam oleat (C18:1). Senyawa ini berfungsi sebagai plasticizier sekunder untuk resin vinil dan dapat juga digunakan sebagai plasticizier polimer karet sintetik dan resin selulosa yang saat ini banyak digunakan diberbagai industri. Senyawa butil diasetoksi stearat telah berhasil disentesis dari bahan baku asam lemak destilat yang merupakan produk samping industri fraksionasi minyak sawit .

Asam lemak sawit destilat (ALSD) merupakan produk samping proses fraksionasi CPO, ALSD ini terdiri dari 40-50 % ALTJ (Asam Lemak tak Jenuh). Sampai saat ini pemanfaatan ALSD belum optimal, hanya digunakan untuk pembuatan sabun dengan mutu rendah. Salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai tambah ALSD adalah dengan memanfaatkannya untuk pembuatan senyawa turunan oksigen . Senyawa turunan oksigen mempunyai kegunaan sebagai parfum, penyedap, stabilizer, plasticizier, anti bakteri, anti jamur, anti serangga, desinfektan dan senyawa antimikrobial . 

BIODIESEL

Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2013  untuk meningkatkan pemanfaatan biodiesel di sektor transportasi, industri, komersial dan pembangkit listrik. Mandatori ini akan berlaku mulai September 2013 ini sampai akhir tahun ini. Targetnya dapat menekan impor BBM jenis Solar sebesar 1,3 juta KL dan tahun 2014 sebesar 4,4 juta KL.

Dengan kebijakan ini dapat menghemat devisa negara sebesar US$ 4.096 juta sehingga dapat menekan penggunaan impor BBM jenis Solar sebesar 5,6 juta KL. Aturan ini diterbitkan sebagai paket kebijakan ekonomi guna memperbaiki defisit transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Biofuel terdiri dari biodiesel (substitusi solar), bioethanol (substitusi bensin) dan minyak nabati murni- Pure Plant Oil/PPO (substitusi BBM pada pembangkit listrik berbasis bahan bakar minyak-PLTD).

Pada prinsipnya yang dilakukan hanya pencampuran BBM fosil dengan minyak RBD ( Refine Bleached Dedorize olein). Untuk komposisi tergantung peruntukan mesin yang disiapkan. Jika motor bergerak seperti alat transportasi komposisi RBD bisa mencapai 20 % dan BBM fosil 80 %. Sedangkan untuk motor tak bergerak, seperti genset dan mesin pengolahan, RBD bisa lebih banyak mencapai 80 %.     

Dengan tingginya harga minyak dunia per barel, Eropa kemungkinan besar bakal beralih ke biofuel. Artinya, ini menjadi peluang besar bagi pasar CPO. Sebab Eropa butuh suplai CPO yang tidak sedikit. Apalagi Malaysia menerapkan negerinya menggunakan 50% minyak nabati pada 2009 sampai 2010. Biasanya, Malaysia menerapkan hingga 40%. Meskipun, ketika harga sedang tak menentu, Malaysia melepas ekspor CPO-nya sampai 60% yang membuat suplai di negara pengimpor menjadi banyak.

Industri biofuel Indonesia pun sementara ini siap menyerap stok CPO domestik yang melimpah akibat krisis keuangan global. Tahap awal bisa disedot 600-700 ribu ton, dan tahun depan sebanyak 1,2 juta ton. Konon, stok CPO sekarang mencapai 2,5-3 juta ton karena ekspor berkurang.

Lewat kebijakan Pemerintah tentang biodiesel akan mendorong pengusaha mengembangkan industri hilir CPO sehingga serapan komoditi minyak sawit mentah dalam negeri dioptimalkan.

Salah satu alternatif pemanfaatan minyak sawit adalah untuk biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan. Teknologi produksi biodiesel dari minyak sawit cukup sederhana dan dapat dilakukan pada skala kecil maupun besar. Pada dasarnya biodiesel diproduksi melalui proses interesterifikasi antara minyak sawit dengan metanol dengan menggunakan katalis basa pada suhu 60 0C, Hasil yang dihasilkan selain biodiesel atau metil ester juga gliserol. Untuk minyak sawit, produksi biodiesel harus dipadukan dengan proses pemisahan karoten untuk meningkatkan nilai tambah. Produksi biodiesel di Indonesia dapat diarahkan untuk tujuan ekspor atau penggunaan dalam negeri. Ekspor biodiesel dapat memberikan keuntungan yang cukup tinggi mengingat tingginya harga biodiesel di luar negeri. Sedangkan penggunaan biodiesel di dalam negeri perlu mendapat insentif dari pemerintah berupa keringanan atau pembebasan pajak mengingat berbagai keuntungan dari aspek lingkungan hidup. 

Hasil ikutan industri kelapa sawit

Setiap ha tanaman yang diremajakan memiliki batang dengan berat 60 ton, pelepah 18 ton dan pelepah yang dipangkas setiap tahun 11 ton. Dengan demikian akan dihasilkan 78 ton (batang dan pelepah) x 175.000 ha (areal peremajaan / tahun) = 13,65 juta ton bahan kering / tahun. Sedangkan tandan kosong, mesokarp yang telah dipres (serat perasan buah = SPB) dan cangkang yang dihasilkan per ton tandan buah segar (TBS) berjumlah 390 kg x 75 juta ton TBS / tahun = 26,25 milyar ton dari hasil samping pabrik. Bahan kering ini berpeluang untuk industri lignoselulosa dengan rendemen lignoselulosa sekitar 37%. Bahan – bahan yang kaya akan lignoselulosa tersebut merupakan bahan baku dalam industri pulp, kertas, bahan bangunan dan perabot . 

Dengan proses biofermentasi bahan – bahan lignoselulosa dapat digunakan dalam bioindustri untuk menghasilkan steroid, antibiotic, vitamin B-12, protein sel tunggal, asam –asam organik (propionate dll), alkohol. Dengan hidrolisis produk sakarifikasi bahan – bahan lignoselulosa dapat menghasilkan senyawa – senyawa gula yang bermanfaat dalam industri farmasi, kimia, pangan dan energi.

Ampas (bungkil) Inti Sawit (AIS) dapat dijadikan sumber energi (alkohol), pakan ternak dan protein. Hasil analisis menunjukkan bahwa AIS mengandung protein 13,35%, serat kasar 8,47% dan karbohidrat 58,5%. Kandungan karbohidrat yang tinggi memungkinkan pemakaian AIS sebagai sumber alkohol dengan jalan fermentasi anaerob. Dengan hidrolisis AIS dapat menghasilkan gula sebanyak  487 kg/ton CPO. Apabila seluruh AIS yang diproduksi dikumpulkan menjadi satu dapat dihasilkan gula sebanyak  7,3 juta ton.

ASCA ( asap cair) dari cangkang

Formula asap cair yang bahan baku utamanya dari cangkang sawit  mengandung senyawa-senyawa yang berfungsi sebagai antibakteri, antioksidan. Senyawa-senyawa  ini diharapkan dapat digunakan sebagai fungisida, atau herbisida ataupun insektisida. Senyawa yang berfungsi sebagai antibakteri adalah fenol dan turunannya  yang akan membunuh bakteri. Senyawa fenol atau turunannya  juga berfungsi sebagai antioksidan  yang akan melindungi molekul dari oksidasi pada suhu tinggi. Asam – asam terutama asam asetat juga berperan sebagai antibakteri. Senyawa karbonil, fenol, alkohol, dan ester akan menyebabkan warna coklat dan memberikan bau asap khas.

Teknik Pembuatan Asap Cair 

Teknik pembuatan asap cair adalah melalui proses Clean Technology Process (CTP) dan Clean Development Mechanism (CDM) yaitu dengan menggunakan limbah cangkang (tempurung) sawit, yang diproses secara pirolisis dengan menggunakan suhu 300 – 400 0C selama + 8 jam dalam reaktor tertutup, kemudian asap yang dihasilkan didinginkan dengan air sampai terjadi pengembunan menjadi cairan berwarna coklat, tanpa penambahan bahan kimia sedikitpun. Dalam pengolahan Asca ini tidak ada limbah yang dihasilkan (zero waste) karena air yang digunakan untuk pendinginan disirkulasikan kembali dan produk samping berupa arang dan tar dapat dimanfaatkan untuk arang aktif dan pengawet kayu. 

Pengolahan cangkang sawit dengan metode pirolisis   rata – rata dapat menghasilkan asap cair sebanyak 35 – 40 % dan tar sebanyak 10 – 15 %, Serta hasil limbah arang sebanyak 25  – 35 %  . Arang dapat diproses lebih lanjut menjadi arang aktif, sehingga dapat menghasilkan.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.