Sampoerna Agro Hasilkan Listrik dari Limbah Sawit

Pada Desember 2015, dua unit pembangkit listrik tenaga biogas Sampoerna Agro resmi beroperasi. Berdampak positif untuk mencukupi pasokan listrik kepada 2.000 kepala keluarga di sekitar kebun perusahaan di Mesuji Raya, Sumatera Sselatan.

Selama 16 tahun lamanya, Supriati, warga Desa Mekartimulya, Kecamatan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, tidak pernah menerima pasokan listrik yang stabil dari PLN. Walapun daya listrik di rumahnya sebesar 900 volt, tetapi kata Supriati, barang-barang elektronik tidak bisa dinyalakan secara bersamaan.

Menurutnya, jaringan listrik kerapkali byarpet menjelang malam tiba. “Biasanya, dari sore mati lampu sampai jam 10 malam,” ujar Supriati yang menjadi transmigran di desa Mekartimulya dari tahun 1976.

Rendahnya pasokan listrik di wilayah Mesuji Raya membuat aktivitas warga menjadi terganggu. Supriati mengatakan ketika ingin menggosok pakaian, dia menunggu cukup lama setrika untuk bisa panas karena kurangnya listrik.

Budi Pangestu, General Manager PLN wilayah Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu, mengakui suplai listrik ke daerah Ogan Komering Ilir tidak sesuai harapan pelanggan. Pangkal masalah bermula dari jaringan listrik yang tidak langsung tersambung ke OKI. Tetapi harus berputar dulu mulai dari daerah Bukit Asam, Batu Raja , masuk ke daerah Bukit Kemuning, berlanjut ke Lampung, Menggala, Gumawang, baru sampai di Tugu Mulyo (OKI).

Dengan jaringan yang bersifat interkoneksi ini berakibat listrik di kabupaten OKI ini di bawah standar. Standar tegangan yang seharusnya 180 volt setelah sampai di OKI tinggal 140-160 Volt. “Memang daerah ini paling hilir karena listrik harus muter dulu ke lampung baru sampai disini. . Sehingga kondisi listrik daerah OKI di bawah standar pelayanan tegangan menengah. Akibatnya listrik masih redup. Padahal, jumlah pelanggan di sini sekitar 125 ribu orang,” kata Budi.

Di Sumatera Selatan, masalah listrik padam kerapkali terjadi. Pada 30 September 2015, Budi Pangestu menyatakan permohonan maaf kepada masyarakat Sumatera Selatan lantaran hampir setiap hari listrik mati. Alasannya, pembangkit di Sumatera Bagian Selatan termasuk Lampung, beban puncak mencapai 1.655 MW. Sementara itu, kemampuan pasokan listrik sebesar 1.547 MW. Ini artinya, terjadi defisit daya listrik 225 MW.

“Kami sampaikan permohonan maaf khususnya pelanggan kami di Sumsel, Jambi, Lampung dan Bengkulu,” ucapnya seperti dikutip dari media lokal.

Alex Noerdin, Gubernur Sumatera Selatan, merasa geram terhadap buruknya pelayanan PLN di wilayahnya. Dia bercerita pernah menghitung dari satu sampai lima ketika listrik padam di rumah dinasnya. Satu waktu listrik kembali mati. Kemudian, dia menghitung sampai lima tetapi listrik tak kunjung nyala. Sampai angka dua ratus, listrik tetap padam.

“Secepat kilat, saya bawa mobil dinas lalu menuju ke kantor PLN di Palembang. Mobil menabrak pintu gerbang. Lalu saya minta kepala unit setempat untuk menyalakan listrik. Dan listrik kembali hidup,” kata Alex dalam peresmian PLTBg Sampoerna Agro sambil tersenyum.

Kini masyarakat yang tinggal di Kecamatan Mesuji Raya, OKI, Sumatera Selatan, tidak lagi merasakan listrik byar pet. Selesainya pembangunan dua unit Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dengan kapasitas masing-masing 2 MW berdampak positif kepada pasokan listrik semenjak Desember 2015. Pembangkit listrik Tenaga Biogas memakai bahan baku limbah cair sawit atau dikenal Palm Oil Effluent (POME) berasal dari air buangan kegiatan pabrik kelapa sawit seperti kondensat rebusan, air hidrosiklon, dan sludge separator.

Supriati mengatakan sebelum pembangkit biogas beroperasi cahaya lampu selalu redup. Tetapi sekarang menyala terang sekali. “Listrik dari pagi sampai malam sudah stabil. Setrika cepat panas,” ujarnya sambil tersenyum.

Alex Noerdin mengapresiasi langkah Sampoerna Agro yang membangun fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). “Sampoerna bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain yang punya keinginan sama,” ujarnya.

Ekadharmajanto Kasih Presiden Direktur PT Sampoerna Agro Tbk, menjelaskan hingga akhir bulan November 2015, dua pembangkit biogas Perseroan telah berhasil melayani kebutuhan energi listrik di setidaknya 20 desa atau lebih dari 2.000 KK melalui jaringan listik PLN karena justru sebagian besar dari kapasitas terpasang disediakan untuk kebutuhan masyarakat sekitar.

“Kami mendukung percepatan program elektrifikasi pedesaan yang ditargetkan tercapai 100% pada tahun 2019 oleh Pemerintah Republik Indonesia. Ini adalah langkah konkrit dari komitmen kami sebagai pelaku energi bersih terbarukan,” tandas Ekadharmajanto Kasih.

Lebih lanjut, kata Ekadharmajanto, pembangkit biogas perseroan menerapkan teknologi methane capture yang dihasilkan dari aktivitas bakteri pengurai limbah cair dari pabrik kelapa sawit yang kemudian dialirkan sebagai bahan bakar ke unit pembangkit listrik. Methane merupakan salah satu energi alternatifsebagai pengganti bahan bakar fosil.

Sampoerna Agro membangun PLTBg di dekat 2 unit pabrik kelapa sawit. Pabrik sawit Selapan Jaya yang berkapasitas 120 ton TBS per jam berlokasi di Desa Kertamukti, menghasilkan daya listrik 2 MW. Pabrik sawit Mutiara Bunda berada di Desa Margo Bhakti yang berkapasitas 75 ton TBS per jam. Kapasitasnya sama sebesar 2 MW. Total investasi kedua unit PLTBg mencapai US$ 7 juta – masing-masing pembangunan unit butuh dana US$ 3,5 juta.

(Selengkapnya baca Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Januari 2016-15 Februari 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.